Selasa, 15 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pantang Menyerah hingga Garis Finis

28 Juli 2018, 17: 17: 31 WIB | editor : Perdana

MASIH HEBAT: Atlet veteran Diah Restu Ningrum (kaos putih) berhasil menyentuh garis finis cabang lari di ajang Atletik Master Solo Open di Stadion Sriwedari.

MASIH HEBAT: Atlet veteran Diah Restu Ningrum (kaos putih) berhasil menyentuh garis finis cabang lari di ajang Atletik Master Solo Open di Stadion Sriwedari. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Bagaimana jadinya bila para atlet veteran turun di kejuaraan. Tentunya seru. Pemandangan ini terlihat di ajang Atletik Master Solo Open di Stadion Sriwedari yang digelar sejak Kamis (26/7) hingga hari ini (28/7). 

Tercatat kejuaraan ini diikuti 432 atlet dari 11 kontingen. Mereka memperebutkan 876 medali di 292 nomor pertandingan. Namanya veteran, tentu saja yang ikut tentu sudah tidak muda lagi. Peserta paling muda berusia 35 tahun, sedangkan tertua 86 tahun.

Atlet tertua ini adalah Maria Rorek dari DKI Jakarta yang turun di empat nomor sekaligus. Hebatnya tiga kelas sudah dia ikuti. Di kelas lari 100 m KU 80+, dirinya sukses meraih  emas  dengan catatan 24 detik.

 ”Catatan ini kurang baik, karena rekor pribadi saya adalah 22 detik. Ini saya raih dalam sebuah kejuaraan master dunia di Jepang beberapa tahun lalu,” ujar Maria Rorek kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Sementara itu di kelas lempar lembing KU 80+ dirinya sukses naik podium dengan label juara ketiga, sedangkan lempar cakram KU 80+, lagi-lagi Maria sukses menyodok di posisi kedua. Hari ini dirinya akan  terjun di kelas lempar lembing KU 80+.

”Saya senang ikut kejuaraan di sini. Saya ingin membuktikan bahwa usai bukan jadi halangan. Bersyukur sekali saya masih bisa meraih prestasi. Ini sudah dapat tiga medali, kurang satu lomba lagi. Jadi semakin bingung medali koleksi saya mau ditaruh di mana lagi,” candanya.

Maria mengaku baru menggilai dunia atletik ketika berumur 45 tahun. Namun sangking gilanya, dirinya ikut kejuaraan master di berbagai kota hingga negara. Di luar negeri dirinya pernah mendapatkan medali saat terjun di kejuaraan dunia di Brasil, Prancis, Afrika Selatan, hingga Singapura.

”Saya pertama kali ikut kejuaraan dunia 1981 di Selandia Baru. Saat itu langsung dapat medali dan malah keranjingan ikut kejuaraan sampai sekarang,” terang perempuan kelahiran 1932 yang sudah memiliki lima cucu, dan tiga cicit tersebut.

Dirinya mengakui kunci dirinya tetap sehat dan tetap aktif mengikuti kejuaraan di usianya yang sudah 86 tahun ternyata adalah karena bebas dari pikiran berat. ”Penyakit itu datang dari pusingnya otak. Saya berpedoman, apapun halangannya, jangan sampai dibuat beban,” ujarnya.

Peserta lain adalah Diah Restu Ningrum. Atlet asal DKI Jakarta ini usianya sudah 82 tahun. Namun prestasinya mentereng. Dirinya meraih medali emas di kelas lempar lembing KU-80 +. Pada masa mudanya, Diah adalah atlet cabor atletik di PON kedua 1951 di Jakarta, lalu di PON Medan pada 1953, dan Makassar pada 1957.  “PON ke lima (1961 di Bandung), saya memutuskan ikut di cabor anggar. Untuk coba-coba,” terangnya.

Dirinya mengakui lari jadi salah satu hobi yang tak bisa dihilangkan. ”Beberapa tahun lalu saya sempat sakit, tapi ternyata dikasih tahu teman untuk berolahraga lagi biar sehat. Ternyata biar sehat terus memang harus rutin olahraga, minimal lari-lari sedikit,” ujar Diah Restu.

Ketua penyelenggara kegiatan, Tumi Sulandari memprediksi persaingan bakal berjalan ketat. Dia memprediksi kontingen tuan rumah Jawa Tengah bisa merebut gelar juara umum. Karena mengirimkan atlet terbanyak, 166 orang. Kontingen terbanyak kedua yakni jatim dengan 107 orang. 

Disusul DKI Jakarta 40 atlet, Lampung 24 atlet, Jabar 23 atlet, dan Polri 25 atlet. Kontingen Kalsel dan Banten masing-masing mengirim 16 atlet. Kontingen DI Jogjakarta mengirim 12 atlet, serta Kalbar dan Sulut yang mengirim wakil paling sedikit, masing-masing enam orang. (nik/bun)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia