Kamis, 15 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Pernikahan Pasangan Difabel Ini Bikin Meleleh Ratusan Tamu Undangan

Minggu, 02 Sep 2018 19:54 | editor : Fery Ardy Susanto

Supriyono berada di pelaminan bersama Wahyu Wulandari.

Supriyono berada di pelaminan bersama Wahyu Wulandari. (M. SHIDIQ/RADAR SOLO)

KEHENDAK Allah SWT mempertemukan dua insan dalam ikatan pernikahan suci. Dalam kesempurnaan ciptaan-Nya, sepasang difabel di Karanganyar ini berikrar untuk menjalani kehidupan bersama.

Sejak usai Maghrib, puluhan tamu sudah mengalir berdatangan. Secara beriringan, satu persatu tamu memenuhi ratusan kursi yang sudah disediakan. Lepas isya, iring-iringan tamu undangan yang hadir makin banyak. Tak pelak, hingga pukul 19.30 WIB, semua kursi sudah terpenuhi. Halaman masjid sebagai tempat acara terlihat penuh sesak tamu.

Saat yang ditunggu pun tiba. Pembawa acara menyampaikan bahwa ijab qabul akan dimulai. Dari kejauhan tampak mempelai pengantian pria dan wanita berjalan menuju serambi Masjid Baitussalam Cerbonan. Petugas dari KUA Kecamatan Karanganyar siap menyambut kehadiran kedua mempelai beserta wali dan saksi. 

Ya, ratusan tamu yang terdiri dari kerabat, sahabat dan tetangga, menjadi saksi pernikahan Supriyono dari Lubuklinggau, Sumatra Selatan dengan Wahyu Wulandari dari Karanganyar. Kakak kandung penganten putri bertindak sebagai wali yang menikahkan. 

Dengan sangat lancar, Supriyono mengucapkan ijab qabul. Suasana hening dan khidmat pun berubah menjadi gembira dengan sorakan 'saaaahhh' dari saksi serta para tamu. Tepuk tangan riuh pun mengiringi berakhirnya ijab qabul tersebut. 

Tak sedikit para tamu yang haru dan berkaca-kaca. Ungkapan kebahagiaan itu tertuju pada pasangan pengantin yang cukup istimewa. Keduanya oleh Sang Khaliq dititipkan anugerah fisik badan yang istimewa. Namun senyatanya, pasangan pengantin memiliki kesempurnaan untuk memenuhi kewajiban sebagai makhluk Tuhan.

Supriyono, adalah penjual pempek. Sementara Wahyu Wulandari memiliki warung kelontong. Usaha itu sama-sama dibuka di Karanganyar kota. Pertemuan singkat antara keduanya menjadi perantara ketulusan janji suci pernikahan.

Kondisi itulah yang membuat lebih dari 300 tamu undangan dari tetangga dan luar kota mengaku terharu. Sabtu malam (1/9), puluhan kilatan flash kamera dan android memburu setiap momen acara ini. Hampir semua tamu tak ingin melewatkannya. 

Lantaran bahagianya, banyak tamu ikut menyumbang lagu. Lagu keroncong, pop, hingga dangdut mengalun ikut menyemarakkan resepsi. Kedua mempelai pun hingga akhir acara menjadi sasaran swafoto ratusan tamu. Silih berganti meminta foto bersama pengantin. 

Kedua pengantin mengaku tak memiliki cukup uang untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Namun atas dukungan dan bantuan sanak saudara kerabat, akhirnya ijab qabul dan resepsi pernikahan itu pun terwujud. Acara yang dirancang dalam waktu singkat ini terselenggara dengan lancar dan khidmat.

"Saya mencintai Wulan karena rajin beribadah. Dia sholat lima waktu rajin. Juga sering puasa sunah. Itu yang saya suka," ucap Supriyono kepada koran ini.

Ungkapan tulus juga disampaikan Wahyu Wulandari. Pujian dan rasa sayang ditujukan kepada pujaan hati. "Saya mencintai mas Supri karena dia berani mengutarakan cintanya. Dan berani melamar untuk membina rumah tangga," tutur Wahyu Wulandari sembari tersungging senyum.

Diketahui, kedua pengantin tak pernah melewatkan sholat lima waktu di masjid. Kegiatan sosial masyarakat juga aktif. Hubungan persaudaraan dengan sesama difabel pun terpelihara dengan baik. Bahkan Wahyu Wulandari juga tergabung sebagai anggota SHG (Self Help Group). Sedangkan Supriyono ikut aktif di organisasi sosial IDE ID (Inspirasi Dedikasi Edukasi Indonesia). (mas/bun)

(rs//fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia