alexametrics
Rabu, 30 Sep 2020
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo
Penyalahgunaan Obat Modus Resep Abal-abal

Sebut Insomnia, Resep pun Keluar 

03 September 2018, 12: 50: 18 WIB | editor : Perdana

Sebut Insomnia, Resep pun Keluar 

Penyalahgunaan obat keras di kalangan remaja kini semakin marak. Ironisnya untuk mendapatkan itu kini tidak begitu sulit dan harganya pun cukup terjangkau. Mulai dari resep dokter hingga memperolehnya di apotek. Berikut penelusuran koran ini.

Sebenarnya obat-obat keras seperti Tramadol, Trihexypheidyl, Alprazolam, Riklona dan lainnya boleh dikonsumsi bagi yang benar-benar direkomendasikan dokter untuk pengobatan. Tapi yang terjadi kini banyak yang menyalahgunakan sebagai obat penenang hingga akhirnya kecanduan. Bahkan diperjualbelikan.

Untuk menelisik penyalahgunaan obat keras ini di Kota Bengawan, wartawan koran ini sempat menemui Young, penjual sekaligus pemakai obat-obat keras di sebuah kafe di Solo bagian selatan.

Kepada koran ini Young mengaku mengonsumsi obat-obatan ini sejak SMP atau sekitar 2011. Pada saat itu obat-obat seperti Tramadol, Trihexypheidyl, Alprazolam, dan Riklona masih mudah untuk didapatkan. Dari awalnya sebagai pemakai, dia akhirnya mulai menjual obat-obat tersebut sejak dua tahun terakhir. “Awalnya untuk saya sendiri, akhirnya teman-teman pengin mencoba hingga keterusan. Mereka beli obatnya dari saya,” ujarnya. 

Untuk mendapatkan obat tersebut memang tidak mudah. Karena harus ada resep dokter. Karena itu dia tidak kehilangan akal. Agar bisa mendapatkan obat dalam jumlah banyak dan bisa dijual kembali, dia pura-pura periksa ke beberapa dokter yang selama ini dikenal mudah mengeluarkan resep untuk obat keras. 

“Saya biasanya habis periksa dari A lanjut ke dokter B dan seterusnya. Dokter biasanya sudah paham kalau minta resep obat keras tertentu langsung dikasih” ujar Young.

Setelah mendapatkan resep tersebut, dia lalu membeli obat di apotek yang berbeda-beda di wilayah yang berbeda pula. Apotek tersebut biasanya sudah menjadi langganan para pecandu obat keras ini.

 “Untuk beli obat ini ada prosedurnya juga. Umur 22 tahun kedua harus punya buku periksa dokter. Ada jangka waktunya juga untuk menebus obat. Tidak bisa setiap hari menebus resep obat dari satu dokter ke apotek. Ada jangka waktunya, misal sepekan. Baru setelah itu bisa menebus obat lagi,” ujar Young. 

“Jadi misal Senin saya ke dokter A, Selasa ke dokter B, Rabu dokter C. Jadi saya bisa setiap hari menebus obat berdasarkan ketentuan tenggat waktu.”

Strategi tersebut tampaknya cukup ampuh untuk mengelabui dokter dan petugas apotek. Karena setiap dokter biasanya memberikan resep jenis obat berbeda. “Obatnya beda-beda. Ada dokter yang kasih Alprazolam, ada juga Trihex, dan Riklona. Harganya setiap strip dari puluhan hingga ratusan ribu. Lalu saya jual ke teman-teman,” ujarnya.  

Rivaldo, seorang mahasiswa yang mengaku mendapat obat dari Young mengaku menggunakan obat-obatan tersebut sejak SMA. Tapi setelah itu dia mulai menebus obat-obat itu sendiri di salah satu apotek di Solo bagian barat.

 “Saya menebus obat-obat itu di apotek. Setelah mencari resep di salah satu dokter langganan saya lalu saya tebus ke apotek yang ditunjuk dokter itu,” ujarnya.

Rivaldo mengaku efek kalau dia tidak menggunakan obat itu dalam jangka lama ia merasa gelisah. Dari sini akhirnya dia gelisah hingga kecanduan.(Ves)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya