Kamis, 15 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

BPS Catat Deflasi Tertinggi Se-Jateng

Selasa, 04 Sep 2018 18:20 | editor : Perdana

SUMBANGAN TERTINGGI: Operasi pasar telur ayam di Pasar Legi, beberapa waktu lalu.

SUMBANGAN TERTINGGI: Operasi pasar telur ayam di Pasar Legi, beberapa waktu lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

SOLO – Badan Pusat Statistik (BPS) Surakarta mencatat, Kota Solo mengalami deflasi 0,58 persen pada Agustus 2018. Angka ini menjadi yang tertinggi se-Jawa Tengah. Dari indeks, terlihat ada enam kota yang mengalami deflasi pada Agustus.

Kepala BPS Surakarta, R. Bagus Rahmat Susanto mengatakan, dalam indeks harga konsumen (IHK) tercatat ada enam kota yang mengalami deflasi. Selain Solo, ada Tegal, Purwokerto, Cilacap, Kudus, dan Kota Semarang. ”Tapi yang tertinggi adalah Solo,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo, Senin (3/9).

Sedangkan dari 82 kota yang dihitung IHK secara nasional, 30 di antaranya mengalami inflasi. ”Inflasi tertinggi terjadi di Kota Tarakan sebesar 0,62 persen. Deflasi terbesar terjadi di kota Bau-Bau yang mencapai angka 2,49 persen,” urainya Bagus.

Anjloknya harga berbagai komoditas di pasaran menjadi faktor utama penyebab deflasi. Komoditas utama penyumbang laju deflasi, di antaranya tarif angkutan udara, telur ayam ras, dan beras. Selama periode Agustus, perkembangan IHK mengalami penurunan. 

Dari kelompok komoditas yang mengalami penurunan indeks harga, yaitu bahan makanan yang turun 2,57 persen. Sandang juga turun 0,02 persen, transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun masing-masing 1,19 persen.

Sementara 10 komoditas utama penyumbang utama laju deflasi, di antaranya tarif angkutan udara yang memberi andil 0,2 persen. Telur ayam ras menyumbang 0,1 persen, beras 0,1 persen, dan cabe rawit 0,07 persen.

Sebaliknya, sejumlah komoditas yang menghambat laju deflasi atau yang mengalami kenaikan harga, di antaranya dana pendidikan, baik untuk SD, SMP, dan SMA, air minum kemasan, kangkung, dan bawang putih.

Kasi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Surakarta, MAB Herminawati menambahkan, deflasi Agustus ini tertinggi sepanjang 2018. ”Kalau dibilang penurunan daya beli tentu tidak. Sebab indikator perbandingannya adalah harga di masa Lebaran. Sehingga deflasinya cukup tinggi," tandasnya. (vit/fer)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia