Kamis, 15 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo
Mengintip Perawatan Khusus Pusaka Keraton

Rawat Warisan Leluhur, Bukan Dikeramatkan

Senin, 10 Sep 2018 15:49 | editor : Perdana

Rawat Warisan Leluhur, Bukan Dikeramatkan

SOLO - Sebuah tradisi yang terus dilakukan secara terus menerus akan melahirkan sebuah kebudayaan. Inilah yang dirasakan oleh segenap keluarga dalam Keraton Kasunanan Surakarta dalam setiap kegiatan adat yang digelar. Meski demikian, kehadiran pusaka dalam upacara adat tersebut bukanlah sebagai lambang pemujaan, melainkan sebagai lambang syukur dan upaya berbagi berkah yang dilakukan keraton pada masyarakatnya.

Salah seorang kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, BRM Bambang Irawan mengatakan, dalam setiap kegiatan adat yang dilakukan keraton selalu diikuti dengan kemunculan sebuah pusaka milik keraton yang dianggap cocok dan sesuai untuk kegiatan tersebut. Namun hal ini bukanlah untuk menunjukkan sebagaimana keelokan pusaka tersebut melainkan untuk berbagai berkah pada sesama atas rezeki yang telah didapat hingga hari ini. Konsep tersebut dibangun atas kesadaran dan nilai kemanfaatan pusaka tersebut.

Misalnya, saat sejumlah pusaka dikeluarkan dan diarak dalam Kirab Pusaka Malam Satu Suro. Kehadiran pusaka seakan menunjukkan dan membagi energi positif pada pusaka tersebut. Anggapan tersebut tentunya tidak muncul secara tiba-tiba melainkan karena sudah dipupuk sejak dini oleh masyarakat keraton. 

“Orang Jawa inikan orang yang sangat menghargai benda-benda atau pun hal peninggalan leluhur yang memiliki nilai sejarah serta kemanfaatannya pada masa lampau. Karena itu, cara menghargainya juga sama seperti saat benda atau hal tersebut digunakan oleh para pendahulu,” kata Bambang Irawan.

Sebelum berbincang lebih jauh, ia terlebih dahulu ingin menjelaskan soal konsep pusaka di mata kerabat keraton. Baginya, pusaka adalah hasil karya agung dari para maestro di bidangnya yang diberikan kepada keraton. Karena itu pusaka memiliki arti tersendiri bagi pribadi masing-masing pemiliknya. 

“Yang jelas pusaka ini memiliki kegunaan dan peruntukan bagi masing-masing pemiliknya. Misalnya pusaka-pusaka yang ada di dalam keraton ada yang berbentuk senjata, peralatan musik, peralatan masak, dan lainnya. Nah benda-benda ini kental akan nilai sejarah. Karena itu terus dirawat dan digunakan hingga hari ini meski hanya sebatas untuk kegiatan adat,” jelas Bambang Irawan.

Secara pribadi, dirinya pun memiliki beberapa pusaka peninggalan dari leluhur maupun buah tangan dari sejumlah koleganya. Bentuknya pun beragam. Ada senjata adat dari para tetua adat suku-suku di Indonesia, hingga pusaka berbentuk keris peninggalan orang tua dan kerabat dari masa lampau. Ia pun tetap merawatnya dengan baik. Bukan lantaran memiliki kekuatan magis, melainkan sebagai bentuk penghargaan akan nilai sejarah yang ada di dalamnya. 

“Jadi yang dihargai itu proses leluhur dalam menciptakan sebuah pusaka tersebut. Misalnya, keris yang terbuat dari logam. Jika tak dirawat bisa berkarat dan keropos. Maka dari itu perlu dibersihkan. Bagi masyarakat Jawa disebut dengan istilah jamasan. Jamas itu keramas, jadi jamasan mandi keramas. Jadi perawatannya dibuat seolah-olah pusaka adalah manusia,” kata Bambang Irawan.

Menurut dia, yang paling penting adalah bagaimana cara menginterpretasikan pandangan masyarakat yang selama ini masih menganggap pusaka selalu berseberangan dengan konsep agama. Hal ini dianggap penting agar tidak memaknai secara berlebih atau mendiskreditkan pemahaman akan keberadaan sebuah pusaka. 

“Nah pemahaman-pemahaman ini bisa kembali diluruskan dengan banyaknya kegiatan budaya. Termasuk upaya memopulerkan kembali seni tempa keris yang ada di museum maupun di Kampus Seni Kota Bengawan,” jelas Bambang Irawan. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia