Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Mengintip Perawatan Khusus Pusaka Keraton

Bernilai Seni, Ekonomi dan Magis

10 September 2018, 16: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Bernilai Seni, Ekonomi dan Magis

SOLO - Kepedulian masyarakat akan keberadaan pusaka tentunya tidak terjadi secara kebetulan, melainkan sudah terpupuk melalui sejarah dan kebudayaan serta melekat hingga hari ini lewat kesadaran sosial masyarakat. 

Menurut Budayawan Universitas Sebelas Maret Tunjung W. Sutirto, masyarakat memahami kata pusaka sebagai suatu yang diwariskan oleh nenek moyang atau generasi pendahulu yang bernilai dan sangat berharga. Sebuah pusaka biasanya berwujud benda atau wasiat yang memiliki nilai seni, sejarah, ekonomi, bahkan nilai magis sekalipun.

“Bernilai seni karena secara wujud memang dianggap sebagai masterpiece. Memiliki nilai historis karena mengandung sebuah periode atau masa tertentu dan dijadikan sumber daya bagi yang memiliki pada masa itu,” bebernya. 

Kemudian bernilai ekonomi karena warisan dari nenek moyang itu jika dinilai dengan ukuran ekonomi bisa berharga tak terhingga. Sementara nilai magis mengandung arti bahwa dalam benda atau wasiat itu ada tuah atau piandel dan bermakna simbolik bagi yang memilikinya, seperti keris, tombak, atau sejenis senjata yang dilegitimasi sebagai hal yang keramat.

Ditambahkan dia, secara garis besar pusaka memiliki dua sifat yakni tangible (benda) dan intangible (tak benda). Hal itulah yang membuat pusaka tersebut masih hidup di masyarakat hingga saat ini. Meski demikian, banyak masyarakat yang hanya memahami pusaka tak lebih sebagai senjata klasik yang memiliki nilai sejarah. Serta mampu atau memiliki kesaktian dari hanya sekadar sebuah benda seni. 

Ia pun tak mempermasalahkan pemahaman tersebut, mengingat banyak benda pusaka yang dinamai oleh pemiliknya agar memiliki nilai yang lebih tinggi. Misalnya, sebilah keris diberi nama dengan awalan “kiai”. Kata kiai bermakna predikat yang harus dihormati dan disembah-sembah atau paling tidak dimuliakan. 

“Misalnya, keris Kyai Pleret yang dimiliki Sutawijaya dan Kyai Setan Kober yang dimiliki oleh Aryo Penangsang. Ada juga pusaka milik Mangkunegara I (RM. Said) yang diberi nama Kyai Koriwelang, Kyai Jaladara dan Kyai Totok. Jadi, konsep pusaka itu masih hidup sampai sekarang dengan pemahaman pada benda-benda atau senjata klasik punya daya magis dan dikeramatkan,” jelas Tunjung.

Fenomena tersebut terjadi lantaran pusaka juga dipandang sebagai sebuah simbol akan status sosial dan kekuasaan. Sehingga, seseorang yang memilikinya dianggap mempunyai kekuatan yang sempurna yaitu kekuatan ragawi dan kekuatan magis atau non ragawi.  

“Ketika seseorang memiliki benda pusaka itu dianggap sebagai orang yang linuwih atau lebih dari yang lain yang dalam konsep sejarah disebut primus interpares. Jadi, di masa lalu itu pusaka sebagai simbol kebanggaan dan sekaligus simbol status sosial bahkan status kekuasaan seseorang,” ujarnya.

Saat ini, banyak yang memandang pusaka memiliki nilai sejarah yang juga memiliki nilai-nilai pelestarian. Namun, tidak sedikit pula masyarakat yang memandang pusaka adalah benda-benda yang dikeramatkan. Karena itu sebagai masyarakat modern dan pewaris kebudayaan dan peradaban maka sudah seharusnya terus berupaya menjaga nilai-nilai budaya termasuk dalam pelestarian pusaka.  (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia