Minggu, 23 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Boyolali

Keraton Kasunanan Gelar Kirab Kiai Slamet 

Rabu, 12 Sep 2018 13:00 | editor : Perdana

JAGA TRADISI: Kepala kerbau dibawa untuk dilarung di puncak Gunung Merapi, kemarin malam. Sementara kerbau Kiai Slamet diarak bersama sejumlah pusaka keliling lingkungan keraton. 

JAGA TRADISI: Kepala kerbau dibawa untuk dilarung di puncak Gunung Merapi, kemarin malam. Sementara kerbau Kiai Slamet diarak bersama sejumlah pusaka keliling lingkungan keraton.  (ARIEF BUDIMAN-DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

BOYOLALI – Suhu udara di bawah Gunung Merapi kemarin malam mencapai 16 derajat celcius. Namun hal itu tak menyurutkan semangat ribuan warga mengikuti tradisi sedekah gunung di Joglo 1 Kecamatan Selo. Mereka seakan juga tidak peduli dengan status waspada yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan jiwa.

Semakin malam, pengunjung terus bertambah membeludak. Prosesi sedekah gunung ini memang selalu menyedot perhatian warga. Acara rutin yang digelar setiap tahun ini merupakan tradisi untuk menyambut 1 Sura dalam penanggalan Jawa atau 1 Muharram  dalam tahun Islam.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Boyolali Wiwis Trisiwi Handayani mengatakan, kegiatan ini sebagai salah satu perwujudan permohonan doa kepada Tuhan untuk memohon perlindungan dan keselamatan.

Mengingat pelaksanaan tradisi ini masih dalam kondisi Gunung Merapi berstatus waspada level II,  maka harus ada izin dari lembaga berwenang, salah satunya Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Selain itu dengan agenda ini diharapkan menjadi destinasi wisata Boyolali yang mampu menjadi daya tarik wisata domestik dan mancanegara di objek wisata Merapi.

“Dengan harapan warga Selo dan Boyolali pada umumnya terus diberikan perlindungan dan keselamatan,” terangnya.

Sementara Wakil Bupati (Wabup) Boyolali, M. Said Hidayat merasa bangga dan mengapresiasi agenda resmi pemkab ini. Pihaknya menyatakan kerukunan dan kebersamaan terlihat dari pelaksanaan kegiatan pelestarian budaya dan tradisi ini.

“Kerukunan warga satu dengan yang lain. Merekatkan hubungan antara warga dan pemerintah. Ngumpul nyawiji dadi siji (berkumpul menjadi satu) melestarikan budaya yang sepantasnya untuk dijaga dan dilestarikan kita semua terutama masyarakat Selo,” tegas Wabup Said.

Akhir dari prosesi sedekah Gunung Merapi ini dilakukan pelarungan kepala kerbau di kawah puncak Gunung Merapi. Hal ini merupakan wujud syukur dan menjaga hubungan baik antara manusia dengan alam sekitar Gunung Merapi.

Perayaan menyambut 1 Sura atau 1 Muharram juga dilakukan Keraton Kasunanan Surakarta tengah malam tadi. Seperti tradisi sejak dulu, dalam kirab ini juga dikeluarkan pusaka keraton dan beberapa ekor kerbau bule Kiai Slamet milik keraton. 

Rute kirab sepanjang 7 kilometer ini dimulai dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menyusuri Jalan Supit Urang menuju Gladag menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, belok kanan masuk Jalan Mayor Kusmanto menuju Jalan Kapten Mulyadi.

 Setelah menyusuri jalan kota tersebut, rombongan belok kanan menuju Jalan Veteran, hingga simpang empat Gemblegan belok kanan masuk Jalan Yos Sudarso tembus Jalan Slamet Riyadi menuju bundaran Gladag dan kembali ke dalam lingkup keraton.

Untuk mengamankan kirab tersebut, Polresta Surakarta telan menurunkan 600 personel dan satu satuan setingkat kompi Brimob Polda Jateng yang diterjunkan di sepanjang rute kirab. “Pengamankan kami lakukan terbuka dan tertutup. Terbuka di sepanjang jalan, sementara yang tertutup personel kami terjunkan berbaur dengan masyarakat. Ini untuk antisipasi kalau ada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan,” ujar Kapolresta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo.

Dalam kirab tadi malam, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono  dan Pangdam IV Dipenegoro Mayjen TNI Wuryanto mendapatkan kehormatan membawa salah satu pusaka milik keraton.

Sebelum pelaksaan kirab tersebut sejumlah persiapan dilakukan para abdi dalam keraton. Bahkan persiapan sudah dilakukan sejak beberapa hari sebelum acara tersebut. 

Adik PB XIII, GPH Dipokusumo membenarkan bahwa setiap kegiatan adat Dalem Gindorasan selalu jadi lokasi utama untuk mempersiapkan segala hal termasuk persiapan sesajian untuk didoakan. 

“Dalem Gondorasan itu adalah kediaman juru masak keraton sejak zaman Kartasura namanya Nyai Mas Gondoroso. Jadi sesuai adat, lokasi itu selalu jadi andalan untuk mempersiapkan ubo rampe. Setelah siap semua akan dibawa ke dalam keraton dan didoakan di Masjid Pujasana (dalam keraton) sebelum dikirab,” ujar Dipo. (wid/atn/ves/vit/bun)

(rs/wid/atn/ves/vit/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia