Selasa, 13 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Dana Event Besar 1 Muharam Terbatas 

Rabu, 12 Sep 2018 19:35 | editor : Perdana

HASIL SWADAYA: Tradisi Ngrekso Bumi dan Sekul Kumpul memeringati 1 Muharam di sejumlah desa.

HASIL SWADAYA: Tradisi Ngrekso Bumi dan Sekul Kumpul memeringati 1 Muharam di sejumlah desa. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

WONOGIRI – Tradisi menyambut 1 Muharam digelar secara masif hampir di seluruh wilayah Wonogiri. Hanya saja, untuk perhelatan serupa tingkat kabupaten, pemkab tidak memiliki anggaran. 

Masing-masing desa memiliki keunikan tradisi. Seperti di Dusun Guntur, Desa Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito. Mereka menggelar tradisi sekul kumpul sayur campur. 

"Setiap warga dusun yang kirab wajib membawa nasi (sekul) yang dibuat tumpeng kecil (sego golong). Setiap KK (kepala keluarga, Red) membuat du buah dan membawa semangkuk sayur. Dari sinilah istilah Sekul kumpul sayur campur berasal," ujar Kadus Guntur Widhi Hartono, Selasa (11/9).

Kegiatan tersebut merupakan simbol gotong royong dan wujud rasa syukur kepada Tuhan.

Sedangkan di Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, warga menggelar Ngrekso Bumi di Gua Resi desa setempat, Selasa (11/9). Yakni dengan kirab sepanjang 2 kilometer ke Gua Resi. "Semua warga tumplek mengikuti kirab. Ada gunungan hasil bumi yang dikirab," ungkap Camat Bulukerto Bahari. 

Sayangnya, potensi yang bisa menjadi daya tarik wisatawan ini belum ditangkap sebagai potensi yang mendatangkan pendapatan bagi pemkab. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, belum memiliki anggaran untuk menggelar event 1 Muharam setingkat kabupaten. 

"Ya kita belum memiliki anggaran yang cukup, hanya ada labuhan di Pantai Sembukan itu saja, anggarannya tidak begitu banyak," kata Kepala Bidang Kebudayaan Eko Sunarsono.

Sementara itu di Sukoharjo, pemkab setempat mengger pengajian di Masjid Agung Baiturrahmah yang dihadiri Bupati Wardoyo Wijaya, Ketua DPRD Sukoharjo Nurjayanto, dan pejabat lainnya.

"Semoga di tahun yang baru ini kita selalu mendapatkan petunjuk, bimbingan serta lindungan dari Allah SWT," harap bupati. 

Wardoyo mengajak peringatan Tahun Baru Islam ini menjadi momentum introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. "Makna Tahun Baru Hijriah ini untuk lebih memahami dan menyadari posisi, peran dan misi kita sebagai muslim di semua tataran kehidupan,” ucapnya. (kwl/yan/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia