Jumat, 21 Sep 2018
radarsolo
icon featured
Klaten
Tradisi Menyambut 1 Muharam

Jajanan Legondo Diangkat Jadi Wisata Kuliner

Rabu, 12 Sep 2018 19:55 | editor : Perdana

LESTARIKAN TRADISI: Ratusan warga mengikuti Kirab Gunungan Legondo di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten, kemarin (11/9).

LESTARIKAN TRADISI: Ratusan warga mengikuti Kirab Gunungan Legondo di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Klaten, kemarin (11/9). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN – Kirab Jajanan Legondo setiap tahunnya tak pernah absen di Dusun Sepi, Desa Barepan, Kecamatan Cawas. Kirab ini untuk menyambut datangnya 1 Muharram 1140 H. Terdapat lima gunungan yang dikirab warga mengelilingi kampung setempat. Total ada sekitar 2.000 jajanan legondo yang diarak hingga dibawa ke sekitar petilasan Sunan Kalijaga.

Ketua RW 08 Dusun Sepi, Agus Purwono menjelaskan, serangkaian kegiatan ini untuk nguri-nguri budaya. Mengangkat jajanan khas berupa legondo yang hanya hadir setiap kali peringatan 1 Muharram atau 1 Suro. Jajanan ini dibuat warga untuk oleh-oleh para peziarah yang datang ke petilasan Sunan Kalijaga.

Jajanan legondo mulai menjadi potensi kuliner di Dusun Sepi karena setiap kali peziarah dating, selalu mencarinya. Maka selama satu tahun belakangan ini, warga aktif membuat jajanan khas ini. Terutama saat ada acara di kampung setempat.

Alasan legondo banyak dicari peziarah, karena memiliki makna dan simbol yang diyakini sebagai penanda sudah sampai ke petilasan. Legondo dimaknai lego ing dodo. Artinya kelegaan di dada. Peziarah belum lega jika sudah ke petilasan, tetapi tidak menyantap jajanan khas tersebut.

”Setiap harinya sebenarnya ada peziarah yang datang ke petilasan, tetapi puncaknya selama dua hari saja. Ketika malam 1 Suro atau 1 Muharram, peziarah yang datang bisa mencapai 5.000 orang per hari dari berbagai kota di Indonesia. Jadi kedatangan mereka sudah menjadi potensi wisata untuk pengembangan jajanan legondo ini,” jelas Agus kepada Jawa Pos Radar Solo.

Menyemarakan peringatan 1 Muharram, warga setempat sengaja menggelar kirab dengan berjalan kaki sekitar 1 km. Legondo yang ada di gunungan berasal dari sumbangan setiap kepala keluarga (KK). Per KK biasanya membuat 10-20 biji legondo yang ditata di gunungan.

Gunungan legondo dikirab dengan diiringi berbagai kesenian tradisional. Mulai dari tari-tarian hingga jathilan. Gunungan langsung jadi rebutan warga dan peziarah sudah sampai di petilasan Sunan Kalijaga. Warga menyakini jika mendapatkan legondo, akan mendapatkan keberkahan tersendiri.

”Legondo ini terbuat dari ketan yang dicampur kelapa. Lalu dimasukan dalam bungkus berupa janur untuk dikukus. Cara makannya cukup dilepas pembungkusnya lalu langsung disantap dengan cita rasa begitu gurih,” beber Agus.

Agus mengharapkan keberadaan jajanan khas legondo ini bisa menjadi potensi wisata kuliner di dusunnya. Terlebih lagi kini bisa dikemas menjadi oleh-oleh khas bagi peziarah yang datang ke wilayahnya.

Kartini, 38, pengunjung asal Kota Semarang sangat antusias mengikuti jalannya kirab. Tak sekadar ziarah, tetapi juga ingin menyantap legondo. ”Tadi rebutan dengan warga lainnya biar dapat keberkahan. Rencananya mau langsung dimakan saja. Memang rasanya gurih yang bikin ketagihan,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia