Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

GRAy Retno Astrini, Putra KGPAA Mangkunegoro VIII

Hidup di Dua Budaya, Jawa Tetap Bahasa Ibu

Kamis, 13 Sep 2018 15:07 | editor : Perdana

GRAy Retno Astrini, Putra KGPAA Mangkunegoro VIII

Menjadi seorang bangsawan Jawa di negeri orang memang tidak mudah. Terlebih jika dirinya berstatus sebagai istri dari bangsawan setempat. Tentu harus pandai memadupadankan sikap dan perilaku dalam hidup kesehariannya. GRAy Retno Astrini yang masih trah Raja Mangkunegaran Solo mengalami ini. Namun ia tetap memegang teguh budaya Jawa ini. Buktinya, ia dan keluarga tidak pernah absen dalam setiap kegiatan di Pura Mangkunegaran, seperti saat lalu tapa bisu malam 1 Sura kemarin.

Ditemui Jawa Pos Radar Solo kemarin, anak bungsu Raja Mangunegara VIII ini sedang bersantai di Bangsal Balewarni, Pura Mangkunegaran. Semilir angin yang ditimpali suara khas burung derkuku yang dipelihara dalam kandang di tengah area taman itu seakan membawanya terbang jauh ke masa kecilnya selama hidup di Pura Mangkunegaran. 

“Kalau pas pulang seperti ini rasanya semua rindu terbayangkan. Rasanya seperti setahun penuh bekerja dan akhirnya bisa istirahat. Ya lelahnya dan kangennya terbayarkan semua,” gurau dia.

Sembari berbincang santai, wanita kelahiran Solo 14 Maret 1964 ini menawarkan seangkir teh hangat pada koran ini. Kata dia, ini teh yang paling ia kangeni karena cukup sulit ia temukan di Johor. “Ini teh Sintren lho. Kalau setiap pulang saya dan anak-anak selalu cari teh ini,” kata perempuan yang sudah 28 tahun tinggal di Johor, Malaysia ini.

Belum selesai berkata, perempuan anggun yang satu ini kemudian mulai berkisah tentang hidupnya di negeri jiran Malaysia. Menurutnya, meski hidup dan menikah dengan bangsawan setempat, Y.M Tunku Abu Bakar Ibni Tunku Abdul Rahman sejak 28 tahun silam, dirinya mendapat kebebasan penuh untuk tetap melestarikan kebudayaa aslinya. Karena itu, dirinya tak segan untuk terus melakukan rutinitas adat Mangkunegaran di kediamannya Johor, Malaysia selama ini.

“Pesan almarhum Presiden Soeharto dulu saat saya menikah adalah saya ini wakil Indonesia maka harus bisa mewakili Indonesia, terutama untuk urusan budaya Jawa dan lainnya. Karena itu apapun yang terjadi saya harus bisa mempromosikan kebudayaan asli di sini (Malaysia). Dan kebetulan juga suami juga senang tirakat ke makam leluhur seperti orang Jawa,” kata dia. 

Sejak itu kemanapun dirinya melangkah ia selalu membawa nama Indonesia. Itu semua karena dirinya bangga menjadi orang Indonesia dan sebagai orang Jawa. Hal ini dapat dilihat dari caranya berbusana, baik dalam acara formal maupun nonformal. “Jadi kemanapun saya pergi ke negeri orang selalu pakai batik dan kebaya Indonesia,” kata dia.

Kebanggaannya akan kebudayaan Jawa tak hanya bisa dilihat dari caranya berbusana saja. Tapi juga dari sikapnya mendidik tiga anaknya, yakni Y.M Tunku Atiah, 27; Y.M Tunku Alman, 24; dan Y.M Tunku Aishah, 20. Ia selalu berpesan pada tiga anaknya, meskipun mereka berkewarganegaraan Malaysia, namun dalam diri mereka mengalir darah Mangkunegaran. Jadi sesering mungkin mereka selalu dibiasakan untuk belajar tentang Mangkunegaran dan seluk beluknya. 

“Saya mengajarkan anak-anak saya agar tidak lupa mana asalnya. Kombinasi ini saya padukan pada anak-anak saya dalam keseharian mereka. Agar tetap seimbang antara agama sosial dan budaya asli mereka. Bahkan saat marah itu pakai bahasa Jawa. Dan mereka pun mengerti. Jadi saya ngomel macam apapun mereka mengerti karena ibunya orang Jawa,” kata dia.

Sejak masih bayi, dirinya selalu mengajak putra-putrinya untuk datang ke Pura Mangkunegaran. Khususnya saat peringatan Sura semacam ini. Hal ini tidak lain lantaran Sura dipandang sebagai waktu utama untuk berkumpul keluarga besar. 

“Jadi anak-anak saya sudah saya biasakan mengenal budaya ibu mereka sejak kecil. Mereka juga saya perkenalkan dengan budaya Jawa seperti pemakaian obat-obat tradisional.  Bahkan tembang macapat dan gending Jawa selalu saya putar di rumahnya karena bisa menenangkan,” jelas dia. 

Meski demikian, dirinya juga bisa menyelaraskan diri dengan kebudayaan asli sang suami. Apalagi mengingat statusnya sebagai bangsaaan Kasultanan Johor. Olah karena itu dirinya wajib menyesuaikan diri dalam setiap kegiatan adat di dua kebudayaan. 

Hingga pada suatu hari dirinya harus memilih lantaran dua kegiatan adat diadakan berbarengan. Satu di Istana Johor dan satunya di tanah kelahirannya di Istana Mangkunegaran. “Kalau seperti itu saya pertimbangkan dengan hati-hati. Kira-kira mana yang lebih penting. Yang pokok setiap Sura selalu pulang Solo,” jelas dia. 

Alasannya, karena 1 Sura atau 1 Muharram merupakan agenda untuk mawas diri. Selain itu juga media untuk memperkenalkan budaya Jawa pada keluarga dan kerabatnya di Malaysia. Karena itu, saat Sura seperti kemarin banyak kerabat dan kawannya terbang langsung dari Negeri Jiran. 

“Sura untuk ngenepke ati. Untuk semedi dan berdoa serta merencanakan apa yang akan dilakukan beberapa hari ke depan. Nah teman-teman dan kerabat di sana banyak yang penasaran dan ingin tahu. Jadi kalau ada orang berpakaian Melayu itu pasti kawan saya,” kelakar dia. 

Kesuksesannya bisa membawa dan memperkenalkan adat Jawa di Malaysia tidak lain karena konsistensinya untuk meneruskan adat hingga saat ini. Di setiap malam Jumat, dirinya selalu membuat sesajen seperti kembang setaman di rumah. Bahkan, jika ada perayaan ulang tahun pasti buat intuk-intuk. Awalnya penerimaan orang lain cukup lama. Terlebih karena dirinya masih melestarikan ritual tertentu adat Jawa. 

“Jamu saya masih buat sendiri. Dan masakan asli Mangkunegaran yang rutin saya masak adalah sambal goreng bledek,” jelas dia.

Dirinya berpesan setiap orang Jawa yang hidup dan menetap di negeri orang selalu bangga dengan adat kebudayaan asli yang mereka bawa dari tanah kelahirannya. Karena itu kebudayaan selalu diturunkan pada anak cucu masing-masing agar tetap lestari. 

“Anak-anak pun kami bebaskan. Boleh berjodoh dengan orang Malaysia atau Jawa. Tapi yang kami tekankan jangan pernah lupa dari asalnya. Maka sebanyak mungkin mereka saya minta untuk belajar dari Mangkunegaran,” beber dia. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia