Kamis, 18 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Berkunjung ke Suku Baduy yang Hidup Menyatu dengan Alam (2)

Kamis, 13 Sep 2018 15:39 | editor : Perdana

Berkunjung ke Suku Baduy yang Hidup Menyatu dengan Alam (2)

Penduduk Suku Baduy bisa dibilang memilih mengisolasi diri dari hiruk pikuk perkotaan. Mereka merasa nyaman hidup, tinggal, dan menetap di pedalaman Lebak, Banten yang jauh dari fasilitas kehidupan yang memadai. Akses menuju perkampungan Baduy Luar maupun Baduy Dalam sangat jauh dan sulit dijangkau. Berikut liputannya.

SEPTINA FADIA PUTRI, Lebak

Desa Ciboleger di Lebak, Banten menjadi tempat pemberhentian terakhir semua alat transportasi. Jawa Pos Radar Solo bersama rombongan harus menggunakan bus sebagai moda transportasi. Usai bus diparkirkan, kami ini dan rombongan diminta oleh tour guide untuk membawa seluruh barang bawaan yang diperlukan. Sebab, perjalanan panjang sudah menanti dan tidak mungkin mengambil barang lagi di dalam bus.

Perjalanan dimulai pukul 16.00 WIB. Waktu yang terlalu sore untuk tracking menuju Desa Baduy. Karena sebelumnya kami ini baru tiba di Desa Ciboleger pukul 14.00 WIB. Dilanjutkan ramah tamah dan makan siang bersama kepala Suku Baduy Luar dan Dalam. Mendung sudah menggelayut di atas langit saat itu. Angin pun sudah berhembus kencang. Dan sejurus kemudian hujan turun.

“Hati-hati nanti saat naik. Perjalanan mungkin akan licin karena hujan. Banyak batu-batu jadi harus pelan-pelan. Kalau capek, berhenti dulu. Jangan memaksakan diri,” kata Kepala Suku Baduy Luar, Jaro Saija mengingatkan kami ini dan rombongan.

Berbekal jas hujan plastik tipis yang dibeli dari pemuda desa setempat, kami ini memulai tracking menuju Desa Baduy. Seperti ditulis edisi sebelumnya, menuju Desa Baduy wajib berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke Baduy Luar. Dan 12 kilometer ke Baduy Dalam. Medan yang ditempuh sungguh melelahkan. Terjal, curam, dan menanjak.

Belum ada setengah jam, kami ini sudah mulai ngos-ngosan. Padahal jalur pendakian masih terbilang datar. Mungkin lantaran membawa barang bawaan yang menambah beban perjalanan. Melihat kami ini nampak kelelahan, beberapa pemuda desa setempat menghampiri dan menawarkan jasa porter.

“Sini teh, dibawain porter aja. Jadi teteh naik tinggal bawa badan aja,” kata salah satu porter bernama Satria menawarkan bantuan.

Ya, jalur pendakian menuju Desa Baduy memang tidak main-main. Saat medan menanjak, kemiringan bisa sampai hampir 90 derajat. Begitu pula sebaliknya saat turunan. Belum lagi jalurnya bebatuan dan sangat licin usai diguyur hujan. Salah pakai sepatu, bisa habis kaki. Ditambah barang bawaan yang superberat bakal mengganggu keseimbangan.

Awalnya, kami dengan jumawa menolak tawaran jasa porter tersebut. Karena merasa barang bawaan tergolong enteng. Tapi merasakan sendiri jalur pendakian yang sulit, akhirnya kami ini mengiyakan jasa tersebut.

Ternyata, rombongan lain sudah lebih dulu memakai jasa porter ini. Ya, namanya manusia kalau ada yang mudah tinggal bayar, kenapa harus repot? Celah inilah yang mungkin menjadi motivasi para porter menawarkan jasanya pada para pengunjung yang datang. Ada puluhan porter yang sudah siap sedia di sana membantu membawa barang pengunjung.

“Boleh deh. Tolong dibawain ya Aa. Saya cuma bawa satu tas saja kok,” kata kami ini. 

Si Aa porter pun menerima dengan senang hati. Enteng, katanya. Padahal tas yang kami ini bawa cukup padat berisi meskipun tidak terlalu besar. 

Awalnya para porter ini berjalan beriringan mendampingi para pengunjung. Namun di tengah pendakian, para porter mohon izin naik ke atas terlebih dahulu. Mungkin mereka justru merasa berat jika harus berjalan pelan-pelan menyesuaikan pengunjung yang fisiknya tidak sekuat mereka.

kami ini bersama rombongan melanjutkan tracking. Sejak awal, kami ini sudah berniat untuk tidak memaksakan diri. Ingin berjalan santai saja. Namun sesantai-santainya tetap tidak bisa. Jalur pendakian semakin menanjak. Terkadang medan bebatuannya besar-besar sehingga perlu langkah yang lebar juga untuk meraihnya.

Sepanjang tracking kami ini hanya disuguhi pemandangan hutan lebat di kanan dan kiri. Tidak ada rumah-rumah penduduk karena belum memasuki kawasan perkampungan. Benar-benar tidak ada kehidupan apapun. Satu-satunya solusi adalah terus melanjutkan perjalanan sampai tujuan apapun yang terjadi. Telat sedikit saja, langit sudah mulai gelap dan tidak ada penerangan satupun.

“Masih jauh ya  ini?” tanya kami ini kepada salah satu penduduk dari Baduy Dalam yang sedang melintas. “Masih atuh neng. Ini masih 500 meter dari bawah. Nanti kalau sudah lewat dua kampung, itu sudah sampai,” jawabnya.

Ternyata perjalanan yang sudah amat melelahkan itu baru seperenamnya. Sesuai instruksi, kami ini harus melewati dua kampung terlebih dahulu baru sampai di Desa Gajeboh. Lokasi tempat kami ini menginap semalam bersama rombongan Fakultas Humas Universitas Surakarta (FH Unsa).

Sambil melanjutkan perjalanan, kami ini sesekali berhenti untuk mengambil napas. Beberapa rombongan juga melakukan hal yang sama. Di jalur tracking disediakan kursi bambu tiap beberapa meter sekali. Mungkin ini diperuntukan pengunjung beristirahat.

Tak berselang lama, kami ini menyeberang sungai dengan jembatan dari bambu. Kemudian menemukan kampung yang pertama. Berjalan lagi beberapa lama, kami ini menemukan jembatan lagi dan kampung yang kedua. kami ini menyimpulkan, masing-masing kampung dipisahkan oleh sungai dan ditandai dengan jembatan bambu.

kami ini menengok jam tangan, menunjukkan pukul 17.30 WIB. Senja sudah datang, langit sudah mulai gelap. Rombongan pun mulai mempercepat langkah. Khawatir sampai hari gelap tiba belum sampai di Desa Gajeboh.

Tiga puluh menit kemudian, tepat pukul 18.00 WIB, kami ini tiba di Desa Gajeboh. Melihat papan nama Desa Gajeboh yang berdiri, kami ini langsung semringah. Meskipun dengan keadaan napas tersengal-sengal dan keringat membasahi seluruh pakaian.

“Capek ya neng?” tanya salah seorang pemuda desa yang tengah bersantai di salah satu rumah penduduk. Ternyata dia Aa porter yang membawa barang bawaan kami ini di awal perjalanan tadi.

kami ini urung menjawab pertanyaan tersebut karena masih merasa kelelahan. Dan langsung membayar jasa porter sebesar Rp 35 ribu. Sebenarnya tarif jasa porter berkisar antara Rp 25-35 ribu. Namun kami ini lebih memilih membayar dengan tarif tertinggi karena merasa sangat berterimakasih dengan jasa tersebut.

Setibanya di Desa Gajeboh, artinya sudah sampai di Suku Baduy Luar. Bagaimana kehidupan penduduk Suku Baduy Luar? Ikuti edisi  selanjutnya. 

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia