Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Misteri Kematian Pejabat Satpol PP

Polisi Sebut Luka Lama, Atasan Klaim Sakit

15 September 2018, 14: 20: 59 WIB | editor : Perdana

Misteri Kematian Pejabat Satpol PP

SOLO – Kematian Jaka Setiana, 51, kepala seksi (kasi) di Kantor Satpol PP Kota Surakarta yang ditemukan Kamis lalu (13/9) di rumahnya Kampung Minapadi, Nusukan, Banjarsari, masih menjadi tanda tanya. Meski di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka lebam dan berdarah, namun dari hasil penyelidikan Polresta Surakarta, kematian pria tersebut tidak ada kejanggalan. 

Kasatreskrim Polresta Surakarta Kompol Fadli mengatakan, pihaknya langsung turun ke lokasi dan menggali informasi dari berbagai saksi mata. Dari sana pihak kepolisian tidak menemukan kejanggalan terkait kematian tersebut. “Kematiannya wajar. Normal tidak ada yang janggal,” kata Fadli mewakili Kapolresta Kombes Pol Ribut Hari Wibowo, kemarin (14/9).

Disinggung soal luka-luka pada tangan dan beberapa bagian lebam, Fadli juga memastikan bahwa hal itu bukan penyebab kematian Jaka. Bahkan untuk masalah pembuluh darah yang pecah itu juga sering ditemukan pada kematian wajar. 

“Dipastikan itu luka-luka lama. Saya harap masyarakat tidak bermain asumsi yang tidak-tidak dan malah memperkeruh suasana,” jelas dia.

Hal lainnya yang juga telah dikonfirmasi kepolisian adalah kepastian bahwa keluarga telah menerima kematian tersebut dan menganggap tak ada hal mencurigakan. 

“Sekali lagi yang bisa memeriksa kematian itu wajar atau tidak hanya dokter. Kami sudah menawarkan untuk diperiksa lebih lanjut, namun keluarga menolak,” ujarnya.

 Selain itu, polisi juga telah memeriksa kamar di mana Jaka ditemukan dalam kondisi tewas. Hasilnya tidak ada hal-hal yang mencurigakan. 

Keyakinan sama juga diungkapkan Kepala Satpol PP Kota Surakarta Sutarja. Menurut dia, Jaka yang menjabat sebagai Kasi Pembinaan dan Penyuluhan Bidang Penegakan Perundang-undangan Daerah Satpol PP itu dipastikan meninggal karena sakit.

Jaka meninggal dunia dalam keadaan lepas tugas. Tidak ada surat perintah dari atasan yang diberikan kepada pria yang mengikuti pendidikan Satpol PP 1997 itu. Atas pertimbangan itulah Sutarja memastikan kematian anak buahnya itu tidak ada kaitannya dengan lembaga maupun pemerintahan.

“Kenapa harus jalur hukum? Wong nggak ada masalah apa-apa. Saya memperkirakan meninggalnya karena sakit, bukan pas kerja. Kecuali jika itu saya perintah atau tugaskan. Lha itu nggak ada perintah sama sekali kok,” katanya, Jumat (14/9).

Sutarja sendiri mengaku memiliki kedekatan dengan Jaka. Karena keduanya sama-sama alumni diklat 1997. Jaka sempat menjadi sekretaris Kelurahan Pasar Kliwon, lalu promosi di badan kepegawaian pendidikan dan pelatihan daerah (BKPPD) sebelum kembali ke Satpol PP sebagai Kasi.  “Saya hafal kegiatan almarhum itu apa aja,” terangnya.

Sehari setelah kematian Jaka, Sutarja memastikan seluruh kelengkapan administratif yang bersangkutan telah diselesaikan. Salah satunya adalah kejelasan uang pensiun untuk janda yang ditinggalkan. Sementara itu di internal Satpol PP, tugas Jaka diampu oleh Kepala Bidang diatasnya hingga memperoleh pengganti.

“Pergantian sendiri bukan kewenangan kita, itu sudah ranah kepegawaian. Kita cuma minta kriteria saja. Orang di Satpol itu harus menguasai administrasi, menguasai lapangan, bisa komunikasi dengan lancar dan punya unggah-ungguh,” paparnya.

Sutarjo juga menegaskan jika pekerjaan Satpol PP memiliki risiko seperti pekerjaan lainnya. Namun dengan komunikasi yang baik, seluruh anggota tidak akan mendapatkan ancaman risiko besar saat bertugas. (irw/bun)  

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia