Kamis, 20 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Incar Posisi Jawara Roket Air di Singapura

15 September 2018, 17: 22: 26 WIB | editor : Perdana

RUMIT: Peserta menyiapkan roket air untuk kompetisi yang digelar kemarin (14/9).

RUMIT: Peserta menyiapkan roket air untuk kompetisi yang digelar kemarin (14/9).

Share this      

SOLO – Kompetisi roket air tingkat Kota Solo memasuki tahun kelima. Kali ini diikuti sebanyak 573 peserta, terdiri dari 46 SMP dan 24 SMA/SMK. Ketua Pelaksana Kompetisi Mutia Srikandi optimistis tahun ini perwakilan Kota Bengawan lolos sampai babak internasional di Singapura, November mendatang.

“Target kami tahun ini tembus tingkat internasional lagi. Dua tahun terakhir, kami memberangkatkan peserta dari Solo di Water Rocket Competition. Pada 2016 di Filipina dan 2017 di India. Tahun lalu perwakilan dari SMPN 24,” beber Mutia di Solo Techno Park kemarin (14/9).

Ratusan peserta akan diseleksi dan diambil sepuluh terbaik. Selanjutnya mereka akan dibawa ke Jakarta untuk bersaing di Kompetisi Roket Air Nasional (KRAN) akhir September ini. Mereka akan bersaing dengan science center di seluruh Indonesia.

“Penilaian peserta terbaik dilakukan besok (hari ini, Red) saat peluncuran roket. Sudut total volume air dan tekanan harus diarahkan peserta ke titik pusat. Nah, yang paling mendekati titik pusat, itulah yang menang,” katanya.

Jarak tempat peluncuran menuju titik pusat sejauh 80 meter. Sementara lingkaran titik pusat berdiameter 12 meter dengan jari-jari 6 meter. Penilaian berdasarkan roket yang paling mendekati titik pusat. Sehingga pengukuran dimulai dari titik pusat ke jarak jatuhnya roket.

Untuk menghasilkan roket yang maksimal, roket harus menggunakan botol minuman bersoda. Untuk sayap roket menggunakan impraboard dengan ketebalan tiga milimeter, sedangkan pemberat memakai plastisin.

“Cara kerjanya, belakang sayap diisi air maksimal setengah botol. Kemudian dipasang nosel. Ini berfungsi untuk memasangkan ke peluncur. Ditutup dengan tutup botol. Roket diarahkan dengan sudut maksimal 40 derajat. Tekanan yang dibutuhkan maksimal 80 psi. Kalau lebih, bisa meletus. Tekanan berasal dari compressor angin. Baru kemudian diluncurkan dan diarahkan searah bendera. Peserta meluncurkan sendiri menggunakan handle rem,” beber Mutia.

Sebelum kompetisi, pihak panitia sudah mengadakan pelatihan selama dua minggu bagi para peserta. Tujuannya, agar mampu menyelesaikan pembuatan roket selama satu sampai satu setengah jam.

“Kompetisi roket air ini diadakan untuk mengasah kreativitas anak-anak. Agar selain belajar di rumah dan di sekolah, mereka juga belajar science center. Mayoritas peserta belum pernah membuat roket air juga. Ditambah ada kompetisi KRAN dan Water Rocket Competition, kebetulan Solo juga punya science center, jadi diarahkan untuk mengikuti kompetisi tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, kompetisi berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (14-15/9) di Solo Techno Park. Hari pertama untuk proses pembuatan roket air. Dan hari kedua untuk peluncuran dan penilaian roket air.

“Aku sudah dua tahun ikut kompetisi ini. Seru banget. Bikin roketnya susah, sayapnya harus seimbang dan simetris,” kata salah seorang peserta Alamanda Pinaka Gadhing, siswa kelas 9 SMP Batik. (aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia