Rabu, 19 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features
Menelusuri Judi Online Di Kota Bengawan

Warisan Budaya hingga Pragmatisme Ekonomi

17 September 2018, 14: 35: 59 WIB | editor : Perdana

Warisan Budaya hingga Pragmatisme Ekonomi

Pola perjudian yang masih ada hingga saat ini sejatinya telah ada sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia. Pada awalnya, judi belum dianggap sebagai sebuah penyakit masyarakat, karena pada sejarahnya judi hanya berkembang pada kalangan elite dan bangsawan masa itu.

Menurut Budayawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Tundjung W Sutirto, salah satu jejak perjudian masa lampau dalam latar belakang budaya dan sejarah ada dalam kisah pewayangan epos Mahabarata. Dalam kisah itu diketahui bahwa Pandawa kehilangan kerajaan dan dibuang ke hutan selama 13 tahun karena kalah dalam permainan judi melawan Kurawa.

Demikian juga judi sabung ayam merupakan bentuk permainan judi tradisional dan banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Ketika VOC bercokol, untuk memperoleh penghasilan pajak yang tinggi dari pengelola rumah-rumah judi tersebut, maka pemerintah VOC memberi izin pada para Kapitan Tionghoa untuk membuka rumah judi sejak 1620, baik berada di dalam ataupun di luar benteng Kota Batavia.

“Jadi, judi itu sebenarnya punya faktor genetik karena sudah berlangsung dahulu kala terutama di kalangan elite. Dari bentuk permainan dan kemudian menjadi taruhan dengan benda, barang dan uang bahkan kekuasaan sebagaimana kisah Pandawa itu. 

Namun di era kontemporer judi lebih berorientasi kepada perilaku hedonisme, yaitu hidup yang enak dengan jalan pintas melalui permainan dengan taruhan. Jadi, ada keterkaitan antara faktor historis dan faktor pandangan hidup masyarakat saat ini, yaitu hidup enak (hedonisme),” jelas Tundjung.

Lebih jauh dijelaskan dia, pola dan tumbuhnya judi di suatu masyarakat karena ada kekuasaan yang melanggengkan. Yang menjadi masalah itu ketika model permainan (dadu, kartu, sabung ayam, angka-angka, dan huruf) itu diikuti dengan taruhan. Kalau tidak diikuti dengan taruhan, maka tidak akan menjadi masalah di masyarakat karena akan dianggap sebagai sebuah permainan semata. 

Tundjung mencontohkan beberapa judi yang dilegalkan karena hanya sebatas bentuk permainan. Misalnya berbagai arena permainan di pusat-pusat perbelanjaan.

“Meski hal menyenangkan itu dikemas dalam istilah world fun, esensi judi tetap ada di dalamnya, karena bisa habiskan ratusan ribu rupiah hanya untuk dapat banyak poin lalu ditukarkan dengan hadiah. Namun sepertinya ini tidak jadi masalah selama ada batasan-batasan norma dan perilaku masyarakat,” jelas dia.

Pada akhirnya, pola permainan judi mengalami pergeseran dari segi konvensional ke dunia serba canggih berbasis teknologi seperti saat ini. Bahkan transaksinya pun telah menggunakan uang elektronik. Masalahnya, pola judi online ini menembus ruang dan waktu bahkan merambah ke negara-negara yang masih tidak melegalkan tindakan perjudian tersebut seperti di Indonesia. 

“Kita lihat warga kita yang main judi online, semua situsnya dikelola langsung di negara lain yang melegalkan judi seperti itu. Artinya, judi online tidak lagi mengenal batas teritorial, walaupun setiap kebijakan negara berbeda-beda dalam masalah judi online ini,” beber Tundjung.

Dengan software bisa diciptakan berbagai model perjudian online. Orang bisa saja menciptakan software terselubung dan tidak dapat dideteksi oleh otoritas pengelola internet di sebuah negara. Maka model transaksinya pun juga semakin canggih menggunakan uang elektronik dan ini di kalangan member dibangun dengan penuh kepercayaan. 

 “Identitas member pengguna judi online ini juga hanya dikenal pasti di kalangan mereka. Publik atau pemerintah tidak mudah mengenali siapa mereka. Pola serba canggih ini sangat menguntungkan karena pelakunya pun bisa anonim (tanpa nama, Red),” kata dia.

Karena itu ada baiknya jika tidak selalu mengandalkan pemerintah dalam memproteksi diri dari hal-hal negatif seperti perjudian online. Selain hanya bergantung pada proteksi IT pemerintah, ada baiknya melakukan edukasi ke masyarakat. Termasuk peran masyarakat dalam pengawasan penggunaan internet atau warung internet yang berpotensi mengakses pada konten larangan, termasuk judi online. 

Sementara itu, Pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan memandang, judi online ini merupakan sisi gelap dari perkembangan segi finansial. Dikatakan sisi gelap finansial karena judi ini memberikan peluang pada masyarakat untuk meraih keuntungan lebih dengan cara pragmatis dengan model taruhan. Faktanya, banyak yang gulung tikar atau tambah sengsara karena ini, namun ada pula yang melejit dengan ini. 

“Di negara yang melegalkan judi, usaha jenis ini tentu sangat menjanjikan. Oleh sebab itu banyak orang terbuai dengan pola ini,” kata Anton.

Faktanya, judi online ini kini tidak hanya diikuti kalangan menengah ke bawah, namun mulai dilirik kalangan terdidik dengan ekonomi menengah ke atas. Pola permainan yang dibangun pun tak sebatas hanya mengandalkan keberuntungan, melainkan sudah menggunakan hitungan rinci dan statistik untuk memperhitungkan keberhasilan yang bakal diraih dengan taruhan tersebut. 

“Jika kita tengok tahun 90-an, saat itu Cap Jie Kia seakan dilegalkan di Solo. Fenomena itu membuat orang banyak ikut judi model taruhan itu. Bahkan termasuk kalangan ibu-ibu. Jika dibandingkan era sekarang, ada sebuah pergeseran perilaku dari model transaksi konvensional ke transaksi yang jauh lebih canggih,” jelas Anton.

Jika pemerintah ingin menyelesaikan masalah ini maka pendekatan yang dilakukan harus secara menyeluruh dan tidak bisa sepenggal-sepenggal. Mengingat masalah ini semacam peristiwa gunung es yang sudah berdampak di berbagai lini kehidupan. 

“Proteksi di bidang IT jelas. Ketegasan penegakan hukum harus tajam, dan pendekatan penyelesaian masalah dalam hal sosial ekonomi, termasuk masalah kesejahteraan,” tutur Anton. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia