Rabu, 19 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Lebih Akrab dengan Keluarga Besar Catur Bambang Priyadi

17 September 2018, 20: 10: 59 WIB | editor : Perdana

NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO

NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO (KELUARGA GULAT: Catur Bambang Priyadi (kanan) bersama istri dan empat anaknya di kejuaraan gulat di Hartono Mall.)

Jika ada istilah buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin hal ini seperti yang terjadi di keluarga besar Catur bambang Priyadi. Pelatih gulat asal Solo ini menularkan keahliannya di cabang olahraga ini, kepada keluarga besarnya. Seperti ini kisahnya?

NIKKO AUGLANDY, SOLO BARU

Wasit pertandingan kejuaran daerah (kejurda) gulat di Hartono Mall Solo Baru (16/9), Catur Bambang Priyadi terlihat cukup sumringah ketika tahu anaknya menjadi juara di kejuaraan ini. Hal ini lantaran pria ini jadi emas pertama Kota Solo di kejuaraan ini.

Dia sendiri berstatus sebagai pelatih gulat Solo. Hidup di dunia banting-bandingan, ataupun kuncian, ternyata keahliannya ini dia tularkan kepada anak-anaknya. Empat anak-anaknya sama-sama menggeluti dunia gulat.

Anak pertama Catur, Ardhan Putra Setiadhi ternyata bukan kali ini saja mendapatkan emas. Sebelumnya 2016 dirinya sukses menjadi juara di kelas junior. Setahun berselang di Piala Gubernur  di Solo dan Ungaran Open dirinya juga sukses mempersembahkan emas untuk Kota Solo. 

Sementara sang adik, Fauzal Juan Ramadhan juga ikut menyumbangkan emas di Kejurda Piala Gubernur di Solo Baru kemarin. Pria berusia 16 tahun yang kini bersekolah di SMAN 11 Semarang (PPLP) ini juga potensial di atas matras. Dirinya yang terjun di kelas grego, tahun lalu dua kali menjadi juara ketiga di Kejurnas PPLP di Banten dan Popnas. Sementara di tahun yang sama di Kejurda junior di Ungaran dirinya sukses menjadi juara.

Sementara itu Akhwan Fattah Phygiant, yang kini bersekolah di SMPN 25 Solo membuat kejutan di kejuaraan di Solo Baru ini. baru berumur 14 tahun dirinya mengikuti kejuaraan untuk under 23 tahun di kelas 44 kg grego. ”Dia sukses jadi juara ketiga. Cukup puas karena dia bisa mengalahkan beberapa lawannya yang usianya jauh diatasnya,” terang Catur

Juara di Kendal dan Winosobo di awal tahun ini, memang jadi modal Akhwan sebelum ke Solo Baru.

”Anak saya yang paling kecil Aksa. Dia masih SD, dan masih belum ada kejuaraan untuk kategori SD. Jadi belum ada lawannya,” tuturnya.

Catur mengakui kecintaan dirinya dan anaknya pada gulat, tumbuh dari ilmu yang diberikan sang ayahanda. Ayahanda Catur, yakni Darmanto sempat berpredikat sebagai peringkat 18 dunia, dan di Asia dirinya berlabel peringkat kedua di masa jayanya. Salah satu medali terakhir di masa kejayaannya terjadi di PON 1973 di Jakarta, dimana dirinya menyumbangkan dua emas untuk Jateng.

”Dia (Darmanto) katanya paling jauh ikut kejuaraan di Mongolia. Jadi kecintaan keluarga besar saya turun temurun dari ayah saya, ke anak-anaknya. Dan kini saya tularnya ilmu saya ini ke anak-anak saya, hingga ke keponakan dan orang-orang umum juga. Gulat memang tidak bisa dipisahkan dari keluarga besar saya,” terang Catur.

Sangking mendalaminya, ternyata tak hanya di sesi latihan dirinya mengaplikasikan teknik gulat kepada anak-anaknya.

”Kalau orang tua lain, mungkin kalau melihat anaknya susah dibangunkan kalau mau sekolah pasti akan mencipratkan air ke mukanya. Kalau saya lebih milih saya piting dengan tekni gulat, kalau bisa sampai di banting juga. Dijamin bisa langsung bangun,” tuturnya. (*/nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia