Rabu, 17 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Travelling

Berkunjung Ke Suku Baduy Yang Hidup Menyatu Dengan Alam (3)

Selasa, 18 Sep 2018 16:03 | editor : Perdana

Berkunjung Ke Suku Baduy Yang Hidup Menyatu Dengan Alam (3)

Penduduk laki-laki Suku Baduy bermatapencaharian sebagai petani. Sementara penduduk perempuan berada di rumah menenun kain dan memasak. Aktivitas harian tersebut dilakukan tanpa menyentuh teknologi sedikitpun. Semuanya bergantung pada alam. Seperti apa kehidupannya?

SEPTINA FADIA PUTRI, Lebak

Saat Jawa Pos Radar Solo bersama rombongan tiba di Desa Gajeboh, Baduy Luar tepat pukul 18.00 WIB, langit sudah gelap dan suasana mulai sepi. Maklum, di sana tidak ada sambungan listrik. Tidak ada penerangan apapun kecuali lilin. 

Usai pembagian tempat tinggal di rumah-rumah penduduk, kami menuju ke salah satu rumah yang menjadi tempat bermalam. Koran ini disambut oleh Santi, gadis 9 tahun, anak pemilik rumah sekaligus yang menemani kami beristirahat.

Santi gadis yang ramah meskipun sangat pemalu. Namun dari sosoknya, kami mampu menyimpulkan karakter gadis Baduy yang memang tidak pernah terjamah perkembangan zaman: polos dan lugu. “Teteh mau mandi? Kalau mau mandi, di sungai. Nanti Santi temani,” katanya.

Sebenarnya, kami merasa gerah dan ingin sekali membasuh badan. Tapi segera mengurungkan niat melihat situasi yang sangat gelap menuju sungai. Belum lagi angin berhembus begitu kencang dan gerimis tipis yang membuat hawa di sana menjadi lebih dingin. “Enggak aja. Tapi teteh mau salat. Kiblatnya arah mana ya?” tanya kami.

Santi menatap kami dengan penuh keheranan. Mungkin kami salah bertanya. Sebab, meskipun penduduk di sana ber-KTP Islam, namun kepercayaan yang dianutnya adalah Sunda Wiwitan. 

Akhirnya kami menenangkan Santi untuk tidak usah terlalu dipikirkan. Lalu bergegas mohon izin untuk salat sebentar setelah sebelumnya tayamum sebagai pengganti air wudhu. Dengan arah kiblat sesuai keyakinan kami karena benar-benar buta arah. Salat dilakukan di dalam rumah.

Rumah penduduk di sana terbuat dari bambu sebagai alasnya. Dindingnya dari anyaman bambu. Atapnya alang-alang. Hanya sekotak saja luasnya. Di pojok, diperuntukkan tempat memasak sekaligus menyimpan alat masak. Selebihnya, kosong. Tidak ada kursi, meja, atau tempat tidur. Bahkan tikar sebagai alas pun tidak ada. Hanya bambu. 

Usai salat, kami berbincang dengan Santi di tengah penerangan lilin. Kata Santi, ia dan penduduk lainnya biasa tidur setelah hari mulai gelap. Tidak tahu tepatnya pukul berapa. Jika hari gelap, sudah saatnya istirahat. “Teteh mau mi? Atau minum? Santi jual,” tanyanya. 

Koran ini sempat terkejut. Ternyata penduduk Baduy Luar, termasuk keluarga Santi sudah sangat siap menyambut pengunjung yang datang. Mereka punya banyak stok mi instan gelas dan air mineral yang dibutuhkan pengunjung. Jika pengunjung mau, tinggal minta ke pemilik rumah dan membayar sesuai harga yang ditawarkan. Untuk mi instan gelas dihargai Rp 10 ribu, sementara air mineral seharga Rp 5 ribu. Tidak terlalu mahal. Namun ini tidak akan bisa ditemui di Baduy Dalam. “Boleh Santi. Mi satu, minumnya satu ya,” jawab kami mengiyakan tawaran Santi. 

Ia pun segera bergegas ke rumah sebelah untuk membuatkan mi instan gelas dan membawakan air mineral. Rumah sebelah juga milik keluarga Santi. Ayah dan ibunya menemani rombongan lain yang bermalam di sana.

Sejurus kemudian Santi kembali membawa pesanan dilengkapi dengan nasi sayur asem, lauk pauk berupa tempe, tahu, pepes ikan, dan sambal. Menu yang sama saat kami dan rombongan disambut ramah tamah dan makan siang oleh kepala Suku Baduy Dalam dan Luar, kemarin. Ternyata kami juga dijamu makan malam oleh pemilik rumah.  “Ini masakan khas kami. Dimakan ya teh,” kata Santi.

Penduduk Baduy adalah tuan rumah yang luar biasa baik. Mereka benar-benar memanjakan tamu. Bahkan Santi yang sudah tidak kuat menahan kantuk saja rela menemani kami sampai menghabiskan makan malam. 

Belum genap pukul 21.00 WIB, suasana Baduy Luar sudah sangat sepi. Tidak ada aktivitas apapun yang dilakukan. Malam itu langit sedang mendung dan gerimis pun jatuh. Angin berhembus kencang. Hawa dingin langsung masuk melalui celah dinding rumah yang hanya terbuat dari anyaman bambu. Anehnya, meski di tengah hutan, tidak ada nyamuk yang mengganggu di sana.

Sekitar pukul 04.00 WIB, anjing mulai menggonggong mengitari kampung sebagai pertanda bahwa hari sudah mulai pagi.  Benar saja, sesaat kemudian kami mendengar ada aktivitas kehidupan. Penduduk berbondong-bondong menuju sungai, satu-satunya MCK di sana. Ada yang mandi, buang air, mencuci piring, semuanya tumplek blek jadi satu di situ.

Bagi pengunjung yang tidak bisa membersihkan diri di sungai, jangan khawatir. Penduduk Baduy Luar sudah menyediakan satu tempat berbilik. Tempat itu bisa digunakan pengunjung untuk mandi dan buang air kecil. Namun dengan pengairan yang serba minim. Tidak seperti di sungai yang airnya mengalir deras. Tapi bilik ini cukup melegakan pengunjung. Setidaknya ada tempat tertutup untuk membersihkan diri.

Pukul 06.00 WIB langit sudah mulai terang. Penduduk perempuan sejak pagi sudah membersihkan diri, mencuci pakaian, dan mencuci piring. Setelah mandi, mereka bersiap untuk memasak. Alat masak yang digunakan masih sangat tradisional, menggunakan kayu bakar dan gerabah. Di setiap rumah pasti berjejer kayu bakar untuk memasak.

Usai memasak, ada beberapa yang melanjutkan kegiatan dengan menenun kain atau menganyam tas dari rotan. Mereka menenun di teras rumah. Anak-anak Baduy Luar bermain seperti anak-anak pada umumnya. Sementara penduduk laki-laki menuju ladang untuk bertani. Terkadang penduduk Baduy Dalam dengan kostum serbaputih juga turun ke Baduy Luar.

Koran ini mengamati gadis-gadis Baduy Luar nampak cantik di pagi hari. Wajahnya yang fresh sudah mengenal kosmetik. Alisnya sudah tebal dibentuk, bibirnya sudah berwarna dipoles lipstik. Namun tidak semenor make up gadis di perkotaan. Ini juga tidak akan bisa ditemui di Baduy Dalam.

Perempuan Baduy Luar memakai pakaian yang sama setiap hari. Kebaya hitam dan sarung kain biru bermotif khas Baduy Luar. Pakaian ini yang dipakai Santi sehari-hari. Ada juga variasi warna lain, biru, ungu, hijau, dan cokelat. Khusus sarung kain, hanya berwarna biru. Kain biru bermotif tersebut juga dipakai penduduk laki-laki Baduy Luar untuk ikat kepala.

Pakaian, kain, tas rotan, dan hasil tenunan khas Baduy Luar ini dijual di masing-masing rumah penduduk. Jika pengunjung ingin membeli oleh-oleh, bisa mampir ke salah satu rumah untuk berbelanja. Mereka juga menjual madu gula aren sebagai oleh-oleh khas andalan Suku Baduy.

Kekerabatan penduduk Baduy sangat erat. Para pemuda dan gadis di sana sudah saling dijodohkan sejak remaja. Tak heran di usia kurang dari 25 tahun, mereka sudah memiliki satu anak balita. Perjodohan ini dimungkinkan untuk mempertahankan adat istiadat dan kebudayaan Suku Baduy agar tetap kental dan kuat.

“Perkawinan mereka berdasarkan lembaga adat, karena di sana tidak ada KUA. Hukum waris yang dipakai pun seimbang antara laki-laki dan perempuan, tidak berat sebelah,” beber Kepala Suku Baduy Luar, Jaro Saija.

Jaro menambahkan, baik Baduy Luar maupun Baduy Dalam tidak mengenal pendidikan formal. Mereka belajar baca tulis dari pengunjung yang melakukan pengabdian masyarakat di sana.

Hasil pengamatan kami, Baduy Luar masih tetap memegang teguh prinsip hidup bergantung pada alam. Namun mereka tidak sepenuhnya menolak teknologi. Mereka sudah mengenakan sandal jepit sebagai alas kaki. Mereka mengenal sabun untuk membersihkan badan. Mereka menerima senter sebagai alat penerangan. Mereka tidak alergi terhadap handphone dan kamera. Berbeda dengan Baduy Dalam sangat saklek terhadap penggunaan teknologi.

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia