Rabu, 17 Oct 2018
radarsolo
icon featured
Features

Guru SMK Kembangkan Rumus Matematika Jadi Karya Batik Unik

Dari Lingkaran Bisa Muncul Enam Motif Batik

Selasa, 18 Sep 2018 14:45 | editor : Perdana

INOVASI: Para guru SMKN Ngargoyoso pencetus batik matematika. 

INOVASI: Para guru SMKN Ngargoyoso pencetus batik matematika.  (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

Rumus matematika sering menjadi momok bagi sejumlah kalangan pelajar. Tapi berkat ide cerdas beberapa guru SMKN Ngargoyoso, Karanganyar ini, rumus-rumus yang dianggap rumit ini justru bisa diimplementasikan menjadi karya batik unik dan menarik. Mau tahu seperti apa?

RUDI HARTONO, Karanganyar

EMPAT guru berbeda latar belakang inilah yang mengembangkan, mengenalkan dan menuangkan rumus matematika ke dalam suatu karya. Wisnu Ramadhan, sebagai pencetus kreasi untuk penemuan batik matematika.

Kemudian Feri You Nanto, sebagai ketua dalam kelompok pembuatan batik, dibantu Suraya Musliha bagian penyusun naskah dalam penjabaran batik, dan Dwi Oktovianto, yang diketahui sebagai pengembang dan merupakan salah satu penyusun kreasi batik matematika.

Menurut Feri, ide atau gagasan untuk membuat kreasi batik metematika tersebut muncul terinspirasi dari Desa Karanglo, Tawangmangu yang populer sebagai kampung matematika. Berangkat dari itu, empat pemuda yang saat ini  menjadi guru di SMK Ngargoyoso tersebut, kemudian memberikan karya atau temuan tersebut menjadi sebuah batik. Mereka menyebutnya batik Solo-Matematika  (Solmat). 

Kenapa dinamakan Batik Solo-Matematika, dijelaskan Feri, pola batik kawung yang menjadi khas batik Solo, merupakan bagian dari pola rumah lingkaran yang diubah menjadi beberapa bilangan atau pecahan lingkaran.

“Setelah kami pelajari dan lakukan pengamatan. Akhirnya ketemu kalau pola-pola batik kuwung yang terkenal di Solo tersebut merupakan perpotongan dari dua buah lingkaran, dan beberapa model atau motif lainnya juga dari sebuah pengembangan rumus lingkaran,” kata Feri.

Diungkapkan Ferri, setelah berhasil dengan mengembangkan pola batik tersebut, lulusan sarjana pendidikan matematika ini bersama dengan ketiga temannya lalu mengembangkan kreasi tersebut ke kampung matematika. Yakni bekerjasama dengan pemerintah desa untuk mengembangkan kreasi edukasi yang menjadi andalan dari kampung matematika.

“Jadi masyarakat yang mendatangi kampung matematika itu tidak hanya sekadar datang melihat langsung proses pembelajaran matematika di desa tersebut. Tetapi, mereka setelah pulang busa membawa cinderamata karya warga setempat. Yakni batik matematika. Batik yang dibuat dengan pola rumus matematika,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, menurut Dwi Oktovianto, tidak hanya satu motif batik Solmat. Dari penelitian dan eksperimen, batik Solmat bisa dikembangkan menjadi 12 motif batik. Namun, untuk dapat lebih mempermudah, empat guru tersebut hanya mengembangkan enam motif batik dari rumus lingkaran.

“Kalau dikembangkan itu ada sekitar 12 pengembangan motif dari motif batik kuwung atau rumus lingkaran. Di antaranya, motif dasar, translasi, dan pergeseran. Lalu motif refleksi, rotasi genap, dan motif zigzag,” imbuhnya.

Untuk saat ini, baik Feri dan Dwi mengaku baru berkonsentrasi terhadap hak cipta dan kerja sama dengan pihak Pemerintah Desa Karanglo, Tawangmangu, agar nantinya bisa digunakan sebagai tempat pembelajaran atau edukasi bagi pengunjung yang berkunjung ke kampung matematika. (*/bun)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia