Senin, 17 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Bedhaya Anglir Mendung Iringi Jumenengan Mangkunegara IX

20 September 2018, 12: 26: 19 WIB | editor : Perdana

Bedhaya Anglir Mendung Iringi Jumenengan Mangkunegara IX

SOLO – Tari Bedhaya Anglir Mendung yang dibawakan sejumlah penari perempuan semakin menambah sakral peringatan kenaikan takhta Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara  IX di Paringgitan Pura Mangkunegaran, tadi malam (19/9). Hadirnya tarian sakral yang wajib ada dalam upacara kenaikan takhta tersebut membuat prosesi adat Wiyosan Jumenengan Kaping 13 Pura Mangkunegaran jadi lebih khidmat. 

Wangi melati tercium tajam kala tujuh penari rupawan itu mulai menempatkan diri dan mencuri fokus ratusan tamu undangan.  Alunan langgam Jawa lamat-lamat mulai terdengar lirih dibarengi aroma ratus yang makin tajam mengiringi lenggak-lenggok penari malam itu. Meski terbilang sebagai tarian andalan milik  Mangkunegaran, tak satu pun penari terlihat ragu. Yang ada, mereka tampak sangat anggun membawakan karya agung KGPAA Mangkunegara I tersebut. 

Di sudut lainnya, para abdi dalem niaga juga tampak serius memainkan perangkat gamelan masing-masing. Langgam Mijil Asri itupun mengiringi setiap keindahan gerak para penari dari awal hingga lahir. 

“Ini tarian sakral yang dibawakan hanya saat kenaikan takhta raja, sehingga tak sembarang orang bisa membawakan,” jelas panitia jumenengan Joko Pramodyo di sela kegiatan kemarin.

Dijelaskan dia, Wiyosan Jumenengan Dalem yang digelar setiap 9 Sura penanggalan Jawa itu merupakan proses wujud syukur atas kenaikan takhta Sri Paduka. Di sisi lain, gelaran ini sebagai ucapan syukur pada Tuhan atas kesehatan yang diberikan pada Sri Paduka. 

“Jumenengan itu tinggalan luhur untuk mengenang dalam ranah budaya. Bagi orang Jawa, peringatan seperti ini memang ada sesaji sebagai simbol syukur dan menyatu dengan alam. Mensyukuri nikmat Allah,” jelas Joko.

Usai perayaan kenaikan takhta, KGPAA Mangkunegara IX memberi sejumlah gelar kebangsawanan sebagai wujud penghargaan pada sejumlah tamu undangan dalam prosesi kekancingan. Di antara penerima penghargaan tersebut, ada mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo dan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Keduanya diberi gelar Kanjeng Pangeran Haryo. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia