Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon-featured
Features
Prostitusi Di Kawasan Sekolah

Menelusuri Salon dan Tempat Pijat Plus-Plus di Kawasan Sekolah

Senin, 24 Sep 2018 11:08 | editor : Perdana

Menelusuri Salon dan Tempat Pijat Plus-Plus di Kawasan Sekolah

Lingkungan sekolah harusnya steril dari hal-hal berbau negatif. Namun apa jadinya jika di sekitar sekolah malah berdiri usaha terselubung pemuas syahwat. Koran ini sengaja menelusuri lokasi mana saja yang terindikasi menjajakan bisnis “plus-plus” di sekitar lingkungan pendidikan di Kota Bengawan.

Informasi yang dihimpun koran ini, ada beberapa lokasi besar yang terindikasi menjalankan bisnis haram di sekitar lingkungan pendidikan ini di beberapa sudut Kota Solo. Koran ini kemudian mendatangi salah satu usaha salon yang berada di wilayah Solo selatan.

Kasak-kusuknya, salon yang satu ini lebih banyak didatangi pelanggan pria dari pada salon pada umumnya. Dilihat dari letaknya, salon ini sangat mudah ditemukan karena terletak di salah satu jalan utama lingkungan tersebut. Tidak ada plakat salon di lokasi tersebut. Rupanya ini untuk menyamarkan keberadaan salon tersebut.

“Dulu pernah di demo ormas, jadi saya tutup beberapa bulan dan buka lagi tanpa papan nama,” kata pemilik salon sebut saja Lucy, 35.

Tak perlu lama untuk koran ini menyimpulkan bahwa salon ini menyediakan layanan syahwat. Malah secara terang-terangan sang pemilik menawarkan jasa-jasa alternatif selain layanan kecantikan seperti salon pada umumnya. “Kalau di sini ya bisa cuci, cream bath, warna, tapi kalau mau potong rambut cuma saya yang bisa melayani. Tapi kalau mau layanan lain juga ada,” goda perempuan ini dengan sedikit nakal.

Salon yang satu ini letaknya hanya beberapa meter dari salah satu sekolah menengah pertama (SMP). Karena itu, pengelola salon menyediakan dua pintu akses untuk masuk ke dalam area salon. Pertama pintu yang ada di muka jalan dan pintu kedua berada jauh ke belakang, sedikit masuk ke jalan perkampungan.

“Kalau sudah pelanggan biasanya langsung masuk pintu belakang. Tapi kalau pelanggan baru biasanya lewat depan. Kalau mau plus nanti baru diminta pindah kendaraannya untuk masuk garasi pintu belakang,” jelas dia.

Sekilas, salon ini memang seperti salon pada umumnya. Bahkan ibu-ibu setempat pun sering melakukan perawatan kecantikan di salon ini. Ruangan yang disediakan untuk perawatan kecantikan pun tampak normal. Hanya ada satu ruang besar untuk perawatan rambut, dan satu kamar kecil terbuka untuk perawatan kulit. 

Namun jika masuk ke belakang, akan disuguhkan suasana berbeda. Banyak kamar ukuran 3x4 meter lengkap dengan tempat tidur. Di sinilah para penjelajah cinta mendapat layanan syahwat mereka. “Ya nanti tinggal pilih saja. Ladies-nya nanti tinggal masuk kamar. Nanti dipijat dulu sebentar, tarifnya Rp 350 ribu untuk sekali kencan. Durasinya satu jam,” jelas Lucy.

Mengingat lokasinya berada di tengah permukiman penduduk serta dekat dengan sekolah dan kelurahan. Dirinya harus pintar-pintar dalam menjalankan bisnis terselubungnya itu. Kedok salon yang dijajakan pun tetap dilakukan. Karena itu sang pemilik usaha ini pun benar-benar mengasah ilmunya di bidang perawatan kecantikan.

“Kalau salon ini memang saya jalankan untuk bisnis utama saya. Saya sendiri yang menangani dengan dibantu dua pegawai. Tapi kalau ladies-ladies saya ini cuma melayani pijat,” jelas dia.

Agar tidak jadi obrolan warga, dirinya pun kerap bersosialisasi dengan ibu-ibu setempat. Meski demikian, dirinya juga sempat berurusan dengan warga. Kala itu ada sejumlah orang yang mengatasnamakan warga memaksa menutup salon karena terindikasi plus. Imbasnya, salon yang ia jalankan itu harus berhenti beroperasi selama beberapa bulan. 

Namun untuk urusan keamanan lainnya, dirinya mengandalkan jasa keamanan untuk memberikan informasi soal aman tidaknya untuk beroperasi. “Tentu saya harus setor ke mereka Rp 1,5 juta per bulan. Biasanya kalau situasi baru tidak aman akan ada pemberitahuan. Kalau sudah seperti itu saya tutup. Terutama Jumat,” jelas dia.

Meski sudah menggandeng jasa keamanan, tidak berarti salonnya tak tersentuh penertiban dari aparat. Sekali waktu salonnya pernah dioperasi dan terbukti menjajakan bisnis “plus-plus”. Kala itu salonnya langsung disegel petugas dan dirinya beserta ladies binaannya harus berhadapan dengan hukum.

“Kejadian itu sebelum di lokasi ini. Kala itu ada operasi gabungan dan langsung masuk kemari. Untuk ladies-nya saja kena Rp 500 ribu per orang. Waktu itu ada lima orang. Karena saya pemilik lokasinya, saya dikenakan tuduhan mucikari, saya kena Rp 45 juta,” jelas dia.

Dilanjutkan dia, rata-rata pengunjung salon miliknya merupakan orang yang sudah berumur dan mapan. Namun sesekali ada anak usia sekolah yang mampir dan meminta layanan pijat plus yang ditawarkan. 

“Pernah ada anak sekolah, tapi sepertinya anak orang berduit. Awalnya dia potong rambut biasa, dan saya tidak menawarkan. Tapi setelah dia tanya dan sedikit memaksa jadi saya pertemukan dengan ladies¬ saya. Kebetulan eksekusinya dibawa keluar, makanya saya kenakan biaya tambahan,” jelas Lucy.

Diabaikan Orang Tua, Ketagihan Setelah Mencoba 

Koran ini mendapat kesempatan bertemu dengan salah seorang pelajar yang mengaku sering menggunakan jasa salon “plus-plus”. Sebut saja Antony, 16. Pelajar sekolah menengah atas yang satu ini mengaku tinggal sendiri di rumahnya bersama pembantu. Sementara orang tuanya sering ke luar kota untuk urusan kerja. 

Karena sering berselancar di dunia maya lewat akun media sosial miliknya, dirinya tergabung dalam sebuah grup penyuka hiburan syahwat. Dari situlah dirinya mendapatkan berbagai informasi soal mana saja penyedia layanan “plus-Plus” tersebut.

 “Awalnya tahu info ini ya lewat grup. Waktu pertama coba sama teman yang sudah lebih dulu sering ke sana. Tapi lama kelamaan saya datang sendiri. Memang tidak sering, tapi sesekali saya mencoba di beberapa salon berbeda,” kata Antony.

Lantaran lahir sebagai anak orang berada yang sangat jarang bertemu orang tua, dirinya jadi kerap bingung untuk berkegiatan. Akhirnya bertemulah dengan orang-orang yang sering berada di lingkaran ini. “Kalau soal uang tinggalan saya banyak. Tidak pernah kurang,” kelakar pria berperawakan tinggi ini.

Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang pelajar lainnya, sebut saja Ferdian, 17. Bedanya, jika pelajar yang sebelumnya sering memakai jasa high class, pelajar yang satu ini lebih suka mencari yang ada di jalanan lantaran tarifnya jauh lebih murah. “Biasanya cari yang di sekitar stasiun atau terminal. Tarifnya di sana Rp 150 ribu,” jelas dia.

Dirinya mengaku penasaran dengan hal-hal macam itu. Terlebih dalam perjalanan berangkat dan pulang sekolah, dirinya kerap melewati kawasan tersebut. Terutama mulai petang, para penjaja seks itu sudah mulai memajang diri mereka di pinggir-pinggir jalan. “Awalnya dari penasaran saja karena sering lihat, lama-lama pengin mencoba,” kata Ferdi.

Ia mengaku tidak terlalu sering untuk jajan di area tersebut, kecuali saat dirinya mendapat uang lebih. Biasanya sesaat usai hari raya, saat sanak saudaranya memberikan uang untuk dirinya. 

“Pertama kali itu waktu libur sekolah dan keluarga kebetulan ada di luar kota. Lalu iseng saya mampir ke sana (salah satu hotel di kawasan Banjarsari). Di sana kan tinggal pilih,” jelas pria.

Dari keterangan tersebut, koran ini kemudian mendatangi salah satu pekerja seks yang biasa mangkal di pinggir jalan sekitar terminal, sebuat saja Andini, 24. Perempuan yang satu ini sudah 2 tahun bekerja sebagai pemuas syahwat di lokasi itu. Meski demikian, dirinya hanya bekerja saat malam hari saja karena di antara sesama pekerja semacam ada kesepakatan tentang siapa yang beroperasi siang dan siapa yang malam. 

“Jadi semacam ada aturan tidak tertulis. Kalau saya pilih malam karena malu sama warga sekitar. Makanya saya mangkalnya di pinggir jalan besar tidak di depan hotel yang ada di tengah perkampungan,” jelas dia.

Hal itu dia lakukan sebagai antisipasi dan menjaga tidak bersinggungan dengan warga setempat. Pasalnya, warga bisa sangat kasar terhadap perempuan seperti dirinya jika ketahuan mangkal di sekitar permukiman warga. “Sempat beberapa waktu lalu ada yang disiram air comberan sama warga,” ujarnya.

Karena kawasannya mangkal juga tidak jauh dari sebuah sekolah, koran ini pun menanyakan bagaimana fenomena di kwasan setempat jika jam sekolah berlangsung. Menurut Andini, siang pun para penjaja seks tetap ada yang beroperasi. 

Bedanya, jika siang hari, orang biasa tidak akan bisa membedakan bahwa seorang perempuan itu merupakan pekerja seks atau ibu-ibu yang hendak menjemput anaknya di sekolah. Ini karena pakaian dan riasan yang dikenakan pun  tidak terlalu mencolok. 

“Ya tetap ada, sekali waktu saya pernah siang hari. Kebetulan tamunya menawar jadi saya carikan hotel yang murah di belakang sekolah. Tapi datangnya diam-diam takut ketahuan warga,” ujarnya.

Dirinya mengakui, siang hari merupakan waktu yang cukup rawan. Meski demikian, ada saja anak sekolah yang nekat mampir. Tak jarang mereka masih berseragam. Meski profesinya sebagai penjaja seks, dirinya cenderung pilih-pilih dengan tamunya. Biasanya dia tidak mau melayani anak sekolah. Namun jika terpaksa, akan dia kenakan tarif lebih tinggi. 

“Kalau ada anak sekolah pasti saya tanya-tanya dulu dan saya buat tidak betah. Tapi kalau masih nekat saya kasih tarif tinggi. Kalau biasanya Rp 150 ribu, bisa jadi Rp 300 ribu untuk sekali kencan. Tapi ada juga yang langsung saya tolak, waktu itu ada anak kecil datang dan mengaku masih lima belas tahun, langsung saya tinggal. Ingat adik saya juga masih SMP,” ujarnya. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia