Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

BI Deteksi 1.104 Uang Palsu Beredar Di solo

25 September 2018, 11: 53: 23 WIB | editor : Perdana

BI Deteksi 1.104 Uang Palsu Beredar Di solo

SOLO – Peredaran uang palsu di wilayah eks Karesidenan Surakarta cukup tinggi. Buktinya, hingga triwulan kedua 2018, ada 1.104 uang palsu (upal) yang terdeteksi beredar di masyarakat. 

Kepala Kantor Perwakilan  Bank Indonesia (BI) Surakarta Bandoe Widiarto membeberkan, hingga triwulan kedua ini sudah ditemukan 1.104 lembar upal.  Untuk pecahan upal paling banyak beredar yakni Rp 100 ribu. Jumlahnya bahkan mencapai 56 persen dari keseluruhan upal. Sedangkan di urutan kedua pecahan Rp 50 ribu atau kalau diprosentase 38 persen. 

“Sisanya yakni pecahan 20 ribu dengan prosentase 5 persen. Sisanya adalah pecahan Rp 10 ribu dan Rp 5 ribu yang jumlahnya tidak banyak,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Solo kemarin (24/9).

Diakui Bandoe, peredaran uang palsu menjadi tantangan utama bagi BI. Disparitas pendapatan di masyarakat yang tinggi membuat masyarakat memilih jalan pintas. Yakni dengan melakukan kecurangan lewat transaksi dengan uang palsu.

Karena itu pihaknya terus melakukan upaya preventif. Langkah yang dilakukan yakni dengan mengedukasi masyarakat, termasuk kepada para tuna netra. Selain itu, upaya represif juga dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan penegak hukum. 

“Undang-undang mata uang ini benar-benar harus diterapkan, baik mulai dari merencanakan hingga mencetak ada jeratan hukum, yakni kurungan hingga 15 tahun,” terangnya.

Apalagi untuk Kota Bengawan ini ada persoalan unik, di mana penukaran uang dengan jual beli masih ada. Transaksi ini lebih rawan terhadap peredaran uang palsu. “Makanya kami mengedukasi agar masyarakat bisa membedakan uang palsu ini. Kalau memang ragu jangan dibuang atau dicoret, bawa ke BI terlebih dahulu, kami akan bantu mendeteksinya,” ujarnya.

Selain itu BI juga melibatkan perbankan untuk sosialisasi ini. Edukasi ini dilakukan agar masyarakat tahu secara detail untuk mengenali ciri-ciri keaslian uang. Bahkan pihaknya juga membuat program pemilihan duta rupiah yang melibatkan 81 teller dari 73 perbankan dan 8 BPR.

Disadari bahwa teller menjadi garda terdepan pada tiap perbankan. Maka perlunya pembekalan untuk mengetahui keaslian uang dan cara penanganannya. “Seperti halnya sosialisasi lima jangan dan cinta rupiah ini terus didengungkan,” tegasnya. (vit/bun)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia