Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Gilang Bima Sakti, Berawal dari Hobi Malah Menuai Prestasi di Olahraga

26 September 2018, 12: 50: 59 WIB | editor : Perdana

Gilang Bima Sakti, Berawal dari Hobi Malah Menuai Prestasi di Olahraga

Tak ada jalan instan untuk meraih prestasi. Perlu kerja keras dan jatuh bangun untuk mewujudkannya. Seperti yang dilakukan Gilang Bima Sakti. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

WAJAH ceria terpancar dari Gilang Bima Sakti saat menerima piala sekaligus hadiah Rp 3 juta atas prestasinya membawa tim voli putra Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) keluar sebagai juara 1 turnamen voli antar dinas perhubungan dan instansi se eks Karesidenan Surakarta dalam rangka Hari Perhubungan Nasional belum lama ini.  

Dalam turnamen tersebut, Gilang bersama 11 temannya mengalahkan satu persatu lawannya. Pria yang masih aktif kuliah di Fakultas Hukum UNS itu tampil sebagai kapten tim. Menariknya, seluruh anggota tim berasal dari program studi Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (POK) UNS, jurusan yang tidak diinginkannya. 

“Kalau sudah bisa olahraga kenapa harus kuliah di olahraga?,” katanya. Kalimat tersebut muncul saat dia lulus dari bangku sekolah menengah atas (SMA). Gilang menjadikan POK sebagai pilihan terakhir setelah ilmu hukum dan ekonomi. Alasannya pun cukup logis. Anak pertama dari dua bersaudara ini menjadikan voli hanya sebagai kegiatan pengembangan soft skill. 

Lebih dari itu, dia hanya menganggap voli sebagai hobi. Meski bukan sebagai tujuan utama dalam hidup, pria kelahiran Oktober 1996 ini mengaku bergelut dengan voli sejak kecil.

“Mulai SD saya sudah main voli. Kelas 1 SMP saya masuk klub Vita Solo,” akunya.

Tak sekadar menyalurkan hobi, bola voli berhasil mengantarkannya memperoleh berbagai penghargaan. Kejuaraan dari tingkat kota hingga nasional pernah diikuti. Atas prestasinya itu dia memperoleh banyak kemudahan dalam mengenyam pendidikan. Sertifikat kejuaraan cukup membantu saat mendaftar ke sekolah yang diinginkannya. Tak jarang alumni SMAN 5 Surakarta ini mendapatkan potongan biaya selama sekolah dan kuliah.

“Termasuk bisa masuk UNS ini salah satunya juga karena sertifikat voli,” terang penggemar nasi goreng ini.

Tapi, lanjut Gilang, berbagai prestasi dan kemudahan itu tak lantas membuatnya berpuas diri. Dibalik kisah sukses tersebut ada perjuangan yang harus dilalui. Dalam sepekan, setidaknya tiga hari latihan dengan durasi 2 hingga 3 jam dalam sekali latihan. Tak jarang materi latihan yang diberikan fokus pada satu materi. Itu sedikit banyak membuat jenuh, terlebih menjelang turnamen. 

Pria yang memiliki tinggi 185 centimeter ini pernah berada di posisi terbawah. Dia merasa bosan bermain voli. Biasanya dia memiliki solusi sendiri untuk mengatasinya.

“Saya harus istirahat minimal satu atau dua hari, setelah itu main lagi,” katanya. 

Meski rasa bosan kerap menghantui, dia menganggap hal itu wajar. Seluruh aktivitas bakal ada titik jenuhnya. Hanya memerlukan penyikapan dari orang yang melakukan aktivitas tersebut. Dia berharap dari hobinya tersebut dapat menjadi salah satu jalan meraih masa depannya. Bukan sebagai atlet, Gilang ingin bekerja di perusahaan maupun dinas yang mengakomodasi prestasinya.

“Saya tidak ingin main profesional. Lebih memilih bekerja di sektor lain. Karena sekarang banyak perusahaan yang mencari orang yang memiliki bakat dalam olahraga,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia