Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Pustakawan Perlu Direvolusi

28 September 2018, 18: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PAPARAN: Staf Khusus Pimpinan Perpustakaan Nasional Supriyanto.

PAPARAN: Staf Khusus Pimpinan Perpustakaan Nasional Supriyanto.

Share this      

SOLO –Perpustakaan selalu tumbuh dan berkembang, khususnya dalam hal pelayanan. Tak hanya sistem pengelolaan, kualitas pustakawan juga perlu direvolusi.

Demikian disampaikan Staf Khusus Pimpinan Perpustakaan Nasional Supriyanto dalam seminar bertema Pendayagunaan Peran dan Fungsi Perpustakaan di Zaman Millenial di Hotel Lodji, Kamis (27/9). 

Menurutnya, perpustakaan tidak sekadar layanan sirkulasi dan referensi biasa, namun juga layanan referensi yang berkembang seirama mengikuti keperluan pemustakanya.

"Pustakawan harus memiliki kemampuan mengintegrasikan pemakai, sistem informasi serta pengetahuan tentang pemustaka dan penyediaan jasa perpustakaan. Pustakawan sekarang harus direvolusi," kata Supriyanto.

Setidaknya ada empat hal yang perlu direvolusi dari seorang pustakawan. Revolusi pertama adalah perpustakaan menekankan kekuatannya pada koleksi. Koleksi cetak mendominasi perpustakaan dan tugas utama pustakawan adalah mengelola koleksi. Kedua, perpustakaan tidak lagi fokus menangani pengguna tetapi juga fokus kepada pemustaka dengan melakukan otornasi pemustakaan.

"Dalam revolusi kedua ini, perpustakaan harus melakukan jemput bola terhadap kebutuhan pemustaka. Ciri lain adalah perpustakaan telah melakukan promosi perpustakaan, mengadakan pelatihan perpustakaan, perhatian pada space untuk pemustaka, perpustakaan memiliki corner sebagai fasilitas baru pemustakaan," terangnya.

Revolusi ketiga adalah digital shift. Pada revolusi ketiga ini perpustakan telah memberi perhatian pada teknologi informasi terkait dengan OPAC dan website, pertukaran fasilitas bagi pemustaka, peningkatan jumlah informasi dalam berbagai format dan perangkat manual ke digital. 

Revolusi terakhir adalah extended roles. Perpustakaan tidak saja berkutat dengan kegiatan intinya menyediakan sumber informasi namun perpustakaan telah masuk menjadi bagian dari scholarly and scientific lifecycle. Perpustakaan sebagai pengelola komunikasi ilmiah e-journal, komunikasi analog ke digital, dan seterusnya.

Tokoh masyarakat RAy. Febri Dipokusumo menjelaskan, pada generasi milenial saat ini, budaya membaca tidak lagi menggunakan buku manual, namun lewat fasilitas internet. "Maka buku manual digantikan dengan e-book melalui layanan internet. Bahkan mencari segala data dan info penting lebih cepat menggunakan aplikasi Google yang dalam hitungan detik seolah mampu menjawab segala pertanyaan," katanya.

Selain itu, budaya menulis juga bergeser dengan budaya mengetik karena masyarakat sekarang cenderung menggunakan komputer, mengetik pesan melalui handphone. Budaya bahasa tutur berganti dengan rekaman video call dan sejenisnya. (irw/wa)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia