Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Ekosistem Rusak, Jalur Merbabu Ditutup

29 September 2018, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

PARAH: Ekosistem Gunung Merbabu sudah rusak dan diputuskan untuk ditutup bagi pendaki selama sebulan.

PARAH: Ekosistem Gunung Merbabu sudah rusak dan diputuskan untuk ditutup bagi pendaki selama sebulan.

Share this      

BOYOLALI - Aktivitas pendakian Gunung Merbabu bakal ditutup sementara. Kondisi ini dipicu rusaknya ekosistem di gunung tersebut karena ulah nakal para oknum yang tidak bertanggungjawab.

Tata Usaha Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM) Johan Setiawan mengatakan, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran resmi. Surat bernomor SE.532/T.35/TU/EVLAP/2018 itu menyatakan untuk sementara jalur pendakian Gunung Merbabu ditutup.

Berdasarkan surat yang ditandatangani Kepala BTNGM Edy Sutiyarto tertanggal 27 September 2018, pendakian Gunung Merbabu ditutup mulai 8-31 Oktober mendatang.  “Jalur pendakian Merbabu perlu dilakukan perbaikan dan pemeliharaan serta aspek keselamatan pengunjung,” ujarnya.

Ada lima jalur resmi pendakian Gunung Merbabu yang ditutup sementara, yakni  jalur Selo, Suwanting, Cunthel Kopeng, Thekelan dan Wekas. Pihaknya telah menyosialisasikan kepada pengelola basecamp di jalur tersebut.  Penutupan itu untuk pemulihan jalur pendakian berikut ekosistemnya.

Keputusan BTNGM ini mendapat dukungan dari para pencinta alam. Ilham Failosof, 23, pecinta alam dari Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali mendukung penutupan pendakian gunung berketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini. Dia yang terakhir naik ke Merbabu akhir Juli lalu melihat banyak kerusakan di Gunung Merbabu. “Sangat perlu pemulihan untuk menjaga alam di Gunung Merbabu,” ujarnya. 

Dia sudah menyampaikan informasi penutupan ini sementara jalur pendakian Merbabu ini pada rekan sesama komunitas pendaki di berbagai daerah. “Sebagai pecinta alam, kami bisa pahami perlunya menjaga keseimbangan ekosistem di Gunung Merbabu untuk recovery. Kami pasti dukung dan siap sebarkan surat edaran dari yang berwenang,” tambahnya

Hal senada disampaikan pendaki lain, Akfi Manurung, 21, warga Kecamatan Sambi, Boyolali. Dia sudah mendapatkan surat edaran resmi dari BTNGM melalui jaringan komunitas pecinta alam.

“Penutupan jalur untuk sementara ini seharusnya paling tidak dua bulan. Karena kerusakannya sangat banyak,” katanya. Tak hanya pada jalur pendakian saja yang rusak, vandalisme dan sampah juga banyak berserakan. (wid/bun)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia