Minggu, 16 Jun 2019
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Mbah Tris dan Mbah Ning, Pasangan Perupa Yang Hidup Sederhana

29 September 2018, 12: 55: 59 WIB | editor : Perdana

CINTAI SENI: Mbah Tris dan Mbah Ning menikmati hidup di rumahnya yang sederhana.

CINTAI SENI: Mbah Tris dan Mbah Ning menikmati hidup di rumahnya yang sederhana.

Share this      

Menjadi seorang perupa memiliki tantangan tersendiri, mengingat penghargaan masyarakat belum cukup baik akan karya seni tingkat tinggi tersebut. Namun pasangan suami istri Sutrisno dan Hermin Istiyariningsih ini ada filosofi yang diterapkan sebagai perupa agar tetap menikmati profesi ini. Seperti apa? 

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

Pasangan perupa yang akrab disapa Mbah Tris dan Mbah Ning ini telah berumah tangga sejak 44 tahun silam dan dikaruniai tiga orang anak yang semuanya hidup di ladang kesenian. Maka jangan heran, jika berkunjung di kediamannya di Kampung Wonosaren RT 4 RW 08, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres berbagai aktivitas seni akan menyambut kedatangan siapa saja yang berkunjung ke sana. 

“Kami menikah sejak 1974 dan terus berkarya di tempat ini hingga anak-anak pun juga ikut di jalur kesenian. Ada yang menjadi perajin kaca hias, keris dan senjata tradisional,” jelas Mbah Tris kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Dari cara bicaranya, perupa yang satu ini terdengar tak banyak memiliki keinginan dalam hidupnya. Hal ini pun terlihat jelas dari bentuk rumah tinggal yang cukup memprihatinkan. Bangunan tua yang tak memiliki warna dinding tersebut tampak pengap karena dipenuhi berbagai karya buatannya dan sang istri. 

Di ruangan 3x4 meter itu hanya ada satu almari dan satu papan tidur untuk beristirahat. Di ruang lain berukuran 4x6 meter terpampang berbagai lukisan karyanya yang tampak usang dan tidak terawat termakan usia. 

“Saya berkarya bukan untuk mencari tenar. Bahkan saya tidak menganggap saya ini seniman tapi seperti tukang roti,” kelakar Mbah Tris. 

Filosofi roti. Itulah yang ia tanamkan selama menjalani hidup sebagai seorang perupa. Hal ini ia buktikan dengan tak sekalipun menggelar pameran. Meski demikian, bisa dibilang dirinyalah orang pertama yang akan pasang badan saat diminta mengajarkan seni lukis pada orang-orang di sekitarnya. 

“Biasanya seniman itu kan rajin pameran. Saya tidak pernah. Saya pikir biar roti buatan saya ini dicari karena rasanya. Sembari itu saya akan berbagi ilmu dengan banyak orang,” kata Mbah Tris.

Salah satu murid pertama dan yang paling lama adalah Mbah Ning, istrinya sendiri. Kemampuan Mbah Ning sangat piawai menyulap kain mori menjadi karya indah bergambar pewayangan atau biasa disebut wayang beber. Bahkan, sejumlah karyanya sempat terjual dengan  harga puluhan juta rupiah pada saat masa kejayaannya dulu. 

“Kebetulan suka gambar. Kakung (suami) kan juga suka gambar, jadi saya jadi ketularan suka menggambar. Dan beberapa gambar ada yang laku cukup tinggi bahkan sampai ke mancanegara,” imbuh Mbah Ning. 

Sama seperti suaminya, Mbah Ning pun terlihat cukup sederhana dan tidak terlalu mementingkan harta duniawi. Terbukti dari keikutsertaannya untuk tetap menghadiri undangan mahasiswa dalam berbagai pameran meski tanpa bayaran sepeserpun. Bahkan, rumah tinggalnya yang mungil itu ia buka lebar untuk membantu siapa saja yang ingin belajar dari dirinya. “Di sini sering dipakai workshop hingga pengerjaan tugas akhir mahasiswa,” kata Mbah Ning.

Kisah hidup maestro ini cukup menggetarkan hati siapa saja yang mengenalnya. Bagaimana bisa seorang peraih penghargaan kebudayaan tertinggi di Indonesia hidup dalam keterbatasan macam ini. Bahkan bicara pun kini sudah sulit, mengingat serangan penyakit stroke awal 2018 kemarin yang membuatnya harus terbaring lemas selama beberapa waktu. 

“Dia sakit diabetes, dan setahun terakhir kena stroke. Jadi bicaranya jadi agak susah,” kata Mbah Ning.

Satu hal yang belum sempat terwujud adalah bisa memamerkan karyanya di tempat yang lebih layak dari pada terlipat di sudut-sudut almari rumahnya. Bak gayung bersambut, keinginan keduanya akan segera direalisasikan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang kemarin berkunjung langsung ke kediaman maestro wayang beber tersebut. 

Kalimat yang keluar dari mulut orang nomor satu di Jawa Tengah itu seperti angin segar yang membawa benih-benih kehidupan di masa tua sepasang perupa itu. 

“Kata Pak Ganjar mau dibenahi rumahnya. Dan dibuat seperti galeri seni. Saya senang ini bisa terwujud,” tutup Mbah Ning. (*/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia