Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pilih Serba Instan, Regenerasi Pembatik Stagnan

03 Oktober 2018, 15: 14: 56 WIB | editor : Perdana

NGURI-URI BUDAYA: Aksi pertunjukan di Hari Batik Nasional yang digelar Yayasan Batik Indonesia di Ndalem Gondosuli, Laweyan, Solo

NGURI-URI BUDAYA: Aksi pertunjukan di Hari Batik Nasional yang digelar Yayasan Batik Indonesia di Ndalem Gondosuli, Laweyan, Solo (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Alunan musik gamelan terdengar merdu diikuti lantunan tembang Jawa. Di atas panggung terlihat beberapa penari berlenggak-lenggok dengan membawa sehelai kain batik yang sesekali dikibaskan dengan indahnya. 

Di panggung ditampilkan cerita perjalanan seorang pemuda dalam pencarian kain batik. Awal cerita pemuda ini memulai dengan memiliki kain putih. Kemana pun pemuda itu pergi kain itu dibawanya. Sampai suatu ketika dia berada di sebuah kampung pembatik.

Dari sini sang pemuda mulai belajar mengenai indahnya memberikan warna pada kain batik. Sampai pada akhirnya pemuda ini sukses membawa batik ke daerah lain dan menjadi suadagar batik. Kisah ini merupakan cerita tentang cikal bakal pengembangan batik dari Laweyan.

Pertunjukan ini disuguhkan di acara peringatan Hari Batik Nasional (HBN) yang digelar oleh Yayasan Batik Indonesia (YBI) di Ndalem Gondosuli Laweyan, Solo. Aksi ini sekaligus sebagai bentuk dorongan kepada generasi muda agar terus mencintai batik. 

Ketua Panitia Hari Batik Nasional (HBN) Titiek Iemawati mengatakan, motif batik yang tercipta ini kebanyakan dari saudagar batik. Ini menjadi cermin majunya perekonomian batik di Solo, khususnya Laweyan yang memang perkembangan batiknya cukup pesat. Namun sayangnya saat ini jumlah pembatik sudah mulai menyusut. 

“Memang banyak yang menggunakan kain batik, namun mereka yang menjadi pembatik sangatlah minim,” ujarnya di sela peringatan HBN.

Ditambah lagi persoalannya banyak generasi muda yang akhirnya hanya mau instan. Padahal, untuk mengerjakan batik tulis prosesnya sangat lama dan sangat sedikit yang ingin belajar. Sehingga perajinnya pun lama-lama punah. “Kalau kita yang generasi muda tidak mau melestarikan batik lalu siapa lagi,” ujarnya.

 Alasan utama orang tidak mau menjadi pembatik karena pemghasilannya minim.  Maka dari itu ada upaya sosialisasi membatik sebagai kebiasaan pada generasi muda. “Maka dari itu Solo juga harus bisa memulai untuk regenerasi ini. Sebab, saat ini banyak pembatik muda yang justru berasal dari luar Jawa, misalnya saja Bangka Belitung, Kalimantan dan NTB,”  ujarnya.

Selain persoalan regenerasi, tantangan lainnya yang dihadapi yakni bahan baku. Di mana masih banyak bahan baku kain batik yang didatangkan dari luar negeri. Karena itu perlu adanya inovasi perajin agar bisa memproduksi batik secara mandiri. Sehingga batik juga bisa lebih murah dari proses pembuatannya.

“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama, karena YBI tidak bisa menjangkau ke seluruh lapangan,” ujarnya.

Pemilik Ndalem Gondosuli, Heru Notodiningrat menambahkan bahwa pembelajaran yang penting adalah nguri-uri budaya batik. Apalagi saat ini perajin batik juga sangat minim dan hampir punah. Untuk melestarikan batik ini adalah dengan menggelar kegiatan lomba batik, memberikan workshop batik secara terbuka dan beberapa kegiatan lainnya.

Kota Solo yang memiliki sejarah kuat mengenai batik, saat ini hanya tinggal memiliki 50 pembatik di Laweyan. Maka dari itu pentingnya regenerasi agar batik ini bisa dikenal secara prosesnya mulai dari anak-anak hingga dewasa.

“Mimpinya semua orang bisa menikmati batik ini. Harapannya ada museum batik di 34 provinsi,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Surakarta Achmad Purnomo mengatakan bahwa batik ini memiliki potensi luar biasa di Solo. Apalagi banyak perajin yang memiliki potensi untuk dikembangkan, terlebih Solo juga didukung banyak pembatik profesional. 

Dibandingkan batik dari kota lain yang telah melakukan perjalanan transformasi panjang dengan filosofinya, Solo masih mempertahankan tradisi sejak dulu. “Selain makna filosofis, juga kaya akan simbol cara berpikir pembuatnya. Tidak hanya perkembangan nilai estetis, tapi juga harapan dalam bentuk simbol. Pendek kata batik adalah karya luhur yang harus dilestarikan,” tandasnya. (vit/bun)

(rs/vit/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia