Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Muncul Bau Limbah, Warga Kembali Aksi

03 Oktober 2018, 15: 40: 59 WIB | editor : Perdana

TAK MENYERAH: Warga Nguter menggelar aksi di depan PT RUM kemarin. Foto kanan, surat kesepakatan

TAK MENYERAH: Warga Nguter menggelar aksi di depan PT RUM kemarin. Foto kanan, surat kesepakatan

Share this      

SUKOHARJO – Terciumnya bau tidak sedap dari PT Rayon Utama Makmur (RUM) Nguter, Sukoharjo kembali memicu reaksi warga sekitar. Setelah sejumlah warga mengungsi karena merasa terganggu dengan bau tersebut, kemarin giliran mereka mendatangi pabrik serat rayon tersebut. Intinya mereka minta produksi dihentikan.

Warga yang menggelar aksi membawa berbagai tulisan tuntutan pada PT RUM. Intinya mereka ingin agar uji coba produksi dihentikan. Sebab, dampak bau masih dirasakan masyarakat sekitar. Bahkan, ada puluhan warga terpaksa mengungsi karena sangat terganggu dengan bau menyengat dari perusahaan tersebut.

Sementara dari PT RUM sendiri berdalih masih harus menghabiskan bahan terlebih dahulu sebelum produksi dihentikan. Namun, warga mencurigai kalau bahan akan terus diisi.

 ”Kalau bahan terus diisi siapa yang tahu. Dulu alasannya juga menunggu bahan habis. Kami seperti dibohongi,” teriak warga dalam kerumunan.

Aksi mereka akhirnya memunculkan tiga poin kesepakatan yang ditandatangani Direktur Umum PT RUM Mochamad Rachmat, lima perwakilan warga dan perwakilan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Nguter.

Isi nota kesepakatan tersebut, pertama, warga menghendaki PT RUM menaati surat Bupati Sukoharjo No.660.1/4079/IX/2018 tanggal 28 September 2018 untuk menghentikan trial produksi. Dua, pihak PT RUM menghormati surat bupati, tetapi belum bisa menghentikan trial produksi, karena masih perlu lima hari untuk dilakukan evaluasi, yakni 2 - 7 Oktober. Poin ketiga, jika dalam waktu lima hari masih ada kendala trial produksi akan dihentikan total.

Pembina Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) Ari Suwarno membenarkan sudah ada mediasi antara PT RUM, Forkompimcam Nguter, Kesbang Sukoharjo, dan kepolisian. Tuntutan warga adalah PT RUM harus menghentikan produksi karena menimbulkan dampak bau. 

”Kami sepakati lima hari terhitung dari hari ini (Selasa, 2/10), PT RUM akan menghentikan produksi. Kami akan pantau itu agar kesepakatan tersebut tidak dilanggar,” jelas Ari. 

Terkait langkah ke depan, pihaknya mewacanakan dibentuk tim independen yang komposisi anggotanya seimbang. Ada dari pihak PT RUM, aparat, serta warga. Kalau komposisinya tidak seimbang dalam tim tersebut, dikhawatirkan posisi warga akan kalah dan terdesak saat pengambilan kebijakan. 

”Harus imbang komposisinya dan itu mendapat apresiasi dari pihak aparat. Tetapi sekali lagi ini masih wacana. Untuk kepastian selanjutnya akan dimatangkan,” imbuhnya.

Terkait dengan warga yang mengungsi, Ari mengatakan masih ada. Warga yang mengungsi tersebut benar-benar terdampak bau. Bau tersebut dirasakan warga mulai sore hari hingga malam. Karena itu warga kalau malam mengungsi di balai desa. ”Warga yang mengungsi itu sampai sekarang masih ada,” ujar Ari.

 Dihubungi kemarin sore, Sekretaris PT RUM Bintoro Dibyoseputro mengakui ada tiga poin kesepakatan tersebut. Tiga poin tersebut adalah hasil dari mediasi yang dilakukan antara PT RUM, warga, Forkompimcam Nguter dan pemerintah desa sekitar. ”Betul ada tiga nota kesepakatan,” paparnya.

Bintoro mengatakan, PT RUM butuh dua hari untuk menyempurnakan sumber uapan. Pihaknya saat ini berhasil menemukan sumber uapan udara yang tidak tersedot ke alat penguarai udara wet scrubber.”Inilah yang kadang-kadang menjadi uapan liar ke mana-mana,” papar dia.

Lantaran sifat gas yang tidak terlihat hanya bisa dicium membuat menyebar ke mana-mana. Maka, masa uji coba ini sangat dibutuhkan. “Kami komitmen akan terus berbenah tanpa henti,” tegasnya. 

Bau Tercium hingga Wilayah Wonogiri

Aroma bau menyengat diduga dari PT RUM juga tercium warga Kecamatan Selogiri yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Nguter. Dua hari belakangan ini warga Kecamatam Selogiri mulai dari Nambangan, Sendang Ijo, Gemantar, Krisak, Singodutan hingga Kaliancar kembali diresahkan dengan aroma tidak sedap tersebut. 

“Sekarang limbahnya di Bengawan Solo, di bawah jembatan Nguter lama sisi sebelah utara,” kata Mulyono, warga Nambangan, Selogiri, Selasa (2/10).

Jika malam tiba aroma tidak sedap muncul seperti aroma septic tank. Apalagi jika angin bertiup ke selatan, aroma tersebut semakin tercium kuat. “Kemarin malam (Senin malam) tercium sekitar pukul 23.00 malam. Berada di dalam rumah saja tidak nyaman, apalagi di luar,” katanya. 

Gunawan, warga Krisak mengeluhkan hal yang sama. Di sekitar Terminal Giri Adipura Wonogiri juga mulai tercium aroma tidak sedap. Bahkan hingga pagi hari setelah Subuh aroma masih tercium kuat. “Pabriknya ada di Sukoharjo, warga Wonogiri yang ikut merasakan. Padahal dulu pernah di demo,” katanya. 

Terpisah, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Wahyu Widayatto mengatakan bahwa permasalahan limbah yang imbasnya antarkabupaten menjadi kewenangan provinsi. Namun, pihaknya akan berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk langkah lebih lanjut. (yan/kwl)

(rs/yan/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia