Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Napi Sragen Bertikai, Satu Luka

06 Oktober 2018, 18: 30: 59 WIB | editor : Perdana

PENGAMANAN BERLAPIS: Aktivitas warga binaan di Lapas Klas 2A Sragen.

PENGAMANAN BERLAPIS: Aktivitas warga binaan di Lapas Klas 2A Sragen.

Share this      

SRAGEN – Penganiayaan sesama narapidana terjadi di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Klas 2A Sragen. Akibatnya, S, salah seorang napi mengalami luka di bagian kepala.

Untuk menyelidiki penyebab pertikaian, pihak lapas menggandeng Polres Sragen. Kepala Lapas Klas 2A Sragen Yosef B. Yambise menuturkan, peristiwa tersebut terjadi Kamis sore (4/10) di dalam lapas. ”(S, Red) sudah ditangani tim medis rumah sakit,” ujarnya kemarin (5/10).

Yosef belum bisa memastikan penyebab penganiayaan tersebut. Pihaknya dan Polres Sragen masih melakukan penyelidikan. “Jumlah pelaku juga belum bisa kami sampaikan,” terang dia.

Terkait kondisi lapas, Yosef mengatakan telah kondusif. Perkembangan terkini selalu disampaikan ke Polres Sragen untuk memudahkan koordinasi.

Kapolres Sragen AKBP Arif Budiman menyampaikan, pihaknya masih menyelidiki kasus tersebut. "Kita kordinasi dengan kepala lapas,” ungkapnya.

Sekadar informasi, bukan hanya pertikaian, lapas juga rawan penyelendupan barang terlarang. Karena itu, lapas setempat menebalkan pengamanan. Hasilnya, salah seorang pembesuk tepergok menyelundupkan handphone dengan cara disembunyikan di celana dalam. 

”Selain itu ada uang Rp 500 ribu dan kartu perdana disembunyikan di dada,” jelas Kepala Keamanan Lapas Sragen Riyanto.

Dengan penebalan pengamanan tersebut, Riyanto berharap kasus serupa tidak terulang. Pihaknya juga memberlakukan aturan ketat bagi petugas dilarang membawa ponsel saat memeriksa sel.

Modus yang digunakan pelaku juga beragam. Seperti menyamarkan lewat bahan makanan, sampah, dilempar dari luar tembok lapas dan sebagainya. ”Satu pola ketahuan, dilakukan pola lainnya,” katanya.

Tantangan lainnya, para napi seperti memiliki jaringan. Artinya, jika ada razia petugas, mereka memberikan kode kepada napi lainnya dengan cara tertentu.

Soal pemanfaatan pengacak sinyal di lapas, Riyanto menilai belum efektif. Sebab, warga di sekitar lapas juga terdampak. 

Di sisi lain, jumlah tahanan di Lapas Sragen telah overload. Yakni mencapai 569 orang, sedangkan kapasitasnya hanya 307 orang. Mayoritas tahanan adalah kasus narkoba dengan jumlah 261 orang. Mereka tersebar di blok D dan blok F. (din/wa)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia