Rabu, 19 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Pemudi ini Gelorakan Pasar Tradisional Lewat Ekspedisi Pasar

10 Oktober 2018, 20: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PEDULI PASAR: Isna Nur Insani ketika mengisi acara bersama anak-anak di salah satu pasar tradisional di Solo.

PEDULI PASAR: Isna Nur Insani ketika mengisi acara bersama anak-anak di salah satu pasar tradisional di Solo.

Membangun negeri tak bisa sendiri, semua butuh sinergi. Itu dibuktikan Isna Nur Insani. Anggota Forum Indonesia Muda (FIM) yang ikut menggelorakan pasar tradisional agar kembali berseri. Bagaimana aksinya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

Beruntung sekali seorang Isna Nur Insani dapat mengenal Forum Indonesia Muda (FIM), sebuah forum independen yang beranggotakan pemuda dan mahasiswa dari berbagai aktivitas, perguruan tinggi, maupun organisasi kepemudaan dari seluruh Indonesia. Dari Aceh sampai Papua, bahkan yang sedang berada di luar negeri.  

Melalui forum tersebut, dia mendapatkan banyak pengalaman dan pertemanan. Tak hanya itu, organisasi yang sudah berusia 13 tahun itu juga memberinya pelajaran tentang kehidupan.  

Belum lama ini, bersama FIM eks Karesidenan Surakarta menggelar acara ‘Ceriakan Pasar dengan Aksimu’ di Pasar Tanggul, Jebres. Sebuah aksi kecil yang diyakini akan membawa perubahan besar ke depan. Dia mengundang puluhan anak-anak untuk bermain, berlomba dan mengenal lebih dekat dengan pasar. “Mereka adalah anak-anak pedagang pasar dan warga sekitar,” terang Isna.

Niat awal kegiatan ini adalah ingin mengangkat kembali eksistensi pasar tradisional yang mulai ditinggalkan generasi  milenial. Hal itu diwujudkan dengan aksi cinta pasar tradisional lewat berbagai macam perlombaan dan ekspedisi pasar. Isna menyebut kegiatan simpel itu dapat memunculkan semangat berkunjung ke pasar tradisional kepada anak-anak. Terkhusus lagi untuk mempopulerkan Pasar Tanggul.

“Pasar ini sudah selesai direnovasi pada 2015 menjadi pasar yang  bersih, dengan penataan pedagang pasar yang tersusun rapi. Tapi masih saja sepi pembeli, bahkan banyak pedagang pasar yang menutup kiosnya meskipun baru setengah hari,” ujar mahasiswa semester akhir Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Isna menyebut, pemkot telah merenovasi hampir seluruh pasar tradisional. Hasilnya pun tidak main-main, pasar menjadi bersih dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai. Sepinya pasar tradisional masih menjadi pekerjaan rumah. Bukan pemerintah, tetapi masyarakat juga harus andil. 

Caranya bagaimana? Bersama kawan-kawannya di FIM, dia mulai membiasakan anak-anak pedagang untuk mengenal lebih jauh tentang pasar. Tak hanya itu, warga di sekitar pasar pun diajak untuk masuk pasar setiap hari.

“Untuk anak-anak, pasar tidak melulu sebagai tempat belanja. Mereka kita beri ruang untuk belajar, bermain dan mengekspresikan diri,” jelas Isna.

Pekan ini FIM membuat lomba mewarnai gambar tentang aktivitas pedagang pasar dilanjutkan dengan dongeng tentang pasar tradisional dari komunitas Doing Project. Selain itu, sebagai salah satu cara mengenalkan pasar tradisional kepada anak, diadakan pula kegiatan Ekspedisi Pasar. 

Anak-anak dibekali uang dalam jumlah tertentu dan ditugaskan untuk berbelanja di warung-warung pedagang secara berkelompok. Mereka diminta membeli makanan sekaligus berinteraksi dengan pedagang pasar. Uniknya, dalam pelaksanaan kegiatan ini, ikut ditanamkan pula nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan. Sebagai contoh, nilai kejujuran. 

Anak-anak diminta berbelanja dengan mengumpulkan nota dan uang kembalian kepada panitia. Nilai tanggung jawab, selama ekspedisi pasar, anak-anak dalam setiap kelompok dibekali satu butir telur dan meminta pedagang pasar untuk membubuhkan tanda tangan di telur tersebut dan diharuskan mengembalikan telur tersebut tanpa pecah kepada panitia penyelenggara. Selain itu diajarkan pula nilai keberanian dan kecerdasan dengan berbelanja di pasar sesuai instruksi yang diberikan.

“Nilai kerja sama juga diajarkan. Karena penugasan dilakukan secara berkelompok dan hasil makanan yang dibeli dimakan bersama-sama. Nilai berbagi dengan berkeliling Pasar Tanggul sembari membawa kotak donasi untuk Palu-Donggala,” terang Isna.

Kegiatan tersebut sekaligus sebagai simulasi agar anak-anak lebih mengenal pasar tradisional. Kegiatan itu akan diadakan setiap bulan dengan kemasan yang berbeda. Isna berharap sinergi antara pemkot dengan masyarakat mampu mewujudkan pasar tradisional yang kembali berseri. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia