Sabtu, 15 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Di Klaten, Air dan Tanah Dinikahkan

11 Oktober 2018, 08: 45: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Pernikahan Bagus Tirto dan Siti Pertiwi di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Selasa (9/10) malam.

Pernikahan Bagus Tirto dan Siti Pertiwi di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Selasa (9/10) malam. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

SEBUAH tradisi unik terjadi di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. Yakni pernikahan antara unsur air dan tanah. Dinamai Bagus Tirto dan Siti Pertiwi. Bagaimana prosesi pernikahannya?

Resepsi pernikahan digelar di sebuah rumah makan di di Dusun Dongkolan, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Selasa (9/10) malam. Warga ramai memadati acara sakral tersebut. Mayoritas duduk bersila di tikar. Menghadap pertunjukan Wayang Kampung Sebelah sebagai hiburan.

Beberapa di antaranya mengenakan busana adat Jawa. Perwakilan kedua mempelai, yakni Bagus Tirto dan Siti Pertiwi. Pasangan pengantin ini memang sudah duduk di pelaminan, tepatnya di samping pertunjukan wayang. Tetapi jangan heran jika pasnagan pengantinnya hanya berupa dua kendi yang saling berdampingan.

Salah satu kendi namanya Bagus Tirto. Berisi air yang diambil dari Umbul Manten, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo. Sedangkan kendi kedua namanya Siti Pertiwi. Berisikan tanah yang diambil dari Desa Delanggu. Mereka sudah menjalani rangkaian pernikahan layaknya manusia. Mulai dari tunangan hingga resepsi.

”Ini bagian dari gelar kebudayaan dan karya seni kejadian sebagai ungkapan rasa syukur atas melimpahnya air dan kesuburan tanah. Saya harap bisa membawa manfaat, kebaikan, dan kesejahteraan bagi Delanggu dan seluruh nusantara,” jelas Ketua Panitia Pernikahan, Agung Bakar kepada Jawa Pos Radar Solo.

Bagus Tirto dan Siti Pertiwi sudah menjalani masa tunangan sejak 1,5 tahun lalu. Mereka juga melaksanakan prosesi siraman dan ijab kabul. Dipadukan dengan berbagai tarian tradisional hingga doa bersama. Seluruh rangkaian pernikahan air dan tanah itu memang selayaknya yang juga dilakukan manusia.

Filosifi yang terkandung dalam perosesi pernikahan ini, karakter laki-laki berupa air dari sumber mata air dimasukan ke dalam kendi. Sedangkan unsur perempuan diwakilkan Siti Pertiwi. Diambilkan dari tanah nan subur. Berharap event kebudayaan yang digelar ini memberikan edukasi bagi masyarakat luas.

”Bisa menjadi media pembelajaran agar masyarakat lebih menghargai air dan tanah sebagai sumber kehidupan. Terlebih lagi bisa membawa manfaat bagi kehidupan petani di masa mendatang,” beber Agung.

Gelaran resepsi memang cukup meriah. Dihibur penampilan Wayang Kampung Sebelah dengan dalangan Ki Jlitheng Suparman. Tamu undangan bisa menikmati sajian makanan khas angkringan dan teh hangat.

Perwakilan pihak Bagus Tirto, Hapsoro yang juga tokoh masyarakat Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo mengatakan, tradisi yang digelar ini merupakan bentuk keprihatinan minimnya regenarasi petani. Dikemas lewat gelar budaya agar generasi muda peduli dan tertarik.

Diambilnya air dari Umbul Manten sebagai sosok laki-laki, karena selama ini telah mengaliri lahan pertanian di Delanggu. Terlebih lagi bertemunya air dan tanah bisa membawa kesuburan sehingga memberikan keberkahan para petani. Menebarkan semangat bagi petani untuk terus bercocok tanam hingga akhirnya mengembalikan kejayaan varietas padi rojolele asal Delanggu. (*)

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia