Sabtu, 15 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

DPKPP Bakal Intervensi Penanganan Stunting

11 Oktober 2018, 20: 35: 59 WIB | editor : Perdana

DPKPP Bakal Intervensi Penanganan Stunting

KLATEN – Penanganan permasalahan stunting tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten saja. Kini Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) juga ambil bagian untuk menekannya. Salah satu bentuk intervensinya adalah meningkatkan diversifikasi pangan di desa yang terdapat kasus stunting.

Berdasarkan data, pada 2017 terdapat kasus stunting di 10 desa. Meliputi tujuh kecamatan. Yakni  Kecamatan Prambanan, Jogonalan, Jatinom, Pedan, Delanggu, Polanharjo, dan Kalikotes. Data itu ditetapkan pemerintah pusat. Sehingga pemkab terus berusaha mencegah adanya kasus stunting lagi.

”Ini sudah mulai masuk menjadi pantauan dari Dinas Pertanian juga. Sudah kita tangani tahun ini seperti di Ngaren, Kecamatan Pedan, Granting, Kecamatan Jogonalan dan Gemblegan di Kecamatan Kalikotes,” jelas Pelaksana Tugas (Plt) DPKPP Klaten Joko Siswanto, Rabu (10/10).

Lebih lanjut, Joko menegaskan 10 desa yang terdapat kasus stunting bukan berarti rawan pangan. Tetapi lebih disebabkan kurangnya asupan gizi mulai dari kandungan sang ibu hingga umur dua tahun. Maka itu dirinya menyarankan untuk calon ibu mulai sejak dini menyeimbangkan gizi dalam konsumsi sehari-hari.

Tak sekadar nasi yang lebih menitikberatkan pada asupan karbohidrat, tetapi perlu divariasi dengan protein hingga sayuran. Hal itu bisa didapatkan dengan pemahaman diversikasi pangan dengan memanfaatkan perkarangan rumah. Hal ini menjadikan nasi bukan satu-satunya makanan pokok tetapi bisa memanfaatkan hasil pertanian lainnya.

”Bentuk intervensi yang kita lakukan mulai dari penyuluhan terutama ibu-ibu muda. Mendorong terbentuknya kelompok wanita tani (KWT) sehingga memahami dalam pengelolaan dan pengolahan bahan pangan. Termasuk ketika waktu hamil protein susu juga harus dipenuhi,” bebernya.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Sri Sundari Indriastuti menambahkan jika penetapan 10 desa itu dari Bappenas. Pada data 2017 terdapat 18 ribu balita yang menjadi sampling ternyata 8,5 persennya mengalami stunting.

”Tetapi pada tahun ini mengalami penurunan kok sekarang menjadi 7,8 persen. Kita terus berusaha untuk melakukan pencegahan terjadinya stunting. Tidak hanya di 10 desa itu saja yang menjadi fokusnya tetapi seluruh des dan kelurahan juga,” urai Sri Sundari. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia