Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Kenduri Palawija, Upaya Populerkan Bahan Makanan Non Beras

Selasa, 16 Oct 2018 20:20 | editor : Perdana

WUJUD SYUKUR: Puncak Kenduri Palawija di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Cepogo (14/9).

WUJUD SYUKUR: Puncak Kenduri Palawija di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Cepogo (14/9). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia, berbagai cara dilakukan. Salah satunya tradisi Puncak Kenduri Palawija di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Kecamatan Cepogo. Mempopulerkan lagi bahan makanan dari palawija.

TRI WIDODO, Cepogo.

JALANAN di Dukuh Dangean, Desa Gedangan, Cepogo, Minggu (14/9) pagi dihiasi aneka ornamen unik. Mayoritas berasal dari bahan bambu. Plus sejumlah perabotan dapur.

Tak lama, muncul arak-arakan warga sembari membawa hasil bumi yang diletakkan di atas tampah. Ada umbi-umbian, talas, enthik, ganyong, kacang tanah, dan lain-lain. Usai kirab, hasil bumi diletakkan di salah satu rumah warga. Didoakan tokoh agama setempat sebagai wujud syukur terhadap Tuhan YME.

Usai didoakan, seluruh pengunjung boleh berebut memakannya. Ada yang dimakan di tempat, ada yang dibawa pulang. Menariknya, kegiatan ini juga menarik minat sejumlah wisatawan asing. Membaur bersama warga dan pengunjung lain.

Ya, inilah sekelumit gambaran Puncak Kenduri Palawija di Desa Gedangan, Cepogo. Peserta kirab wajib mengenakan busana Jawa.

Masruri, ketua panitia kirab menjelaskan, kegiatan ini sebagai wujud syukur diberi kesuburan tanah oleh Tuhan YME. Sekaligus menyambut Hari Ketahanan Pangan Sedunia. ”Serta memopulerkan lagi palawija sebagai bahan pangan pengganti beras,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Selain menyaksikan kirab, pengunjung juga dimanjakan aneka makanan tradisional yang dijual di Pasar Ngatpaingan. Disebut Ngatpaingan karena digelar pada hari Ngat (dalam bahasa Jawa berarti Minggu, red). Serta pasaran Pahing (penanggalan Jawa).

Palawija seperti jagung, umbi-umbian, dan kacang-kacangan bisa tahan lama saat disimpan di lumbung. ”Selain itu, kirab ini juga untuk menggiatkan ekonomi serta pariwisata desa setempat,” papar Masruri.

Palawija menurut warga sekitar memberi nilai yang luar biasa bagi kelangsungan hidup. Palawija bisa jadi makanan pokok pengganti nasi. ”Harapan kebutuhan pangan warga tercukupinya saat memasuki musim kemarau seperti ini. Pangan melimpah sampai musim tanam dan panen berikutnya,” imbuh Masruri.

Ratri Nursinta, 27, pengunjung asal Kota Solo mengaku baru kali ini menyaksikan Kenduri Palawija. ”Kemasan acaranya bagus sekali. Masyarakat guyub rukun. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa digelar rutin dan semakin dikenal masyarakat lainnya,” bebernya. (*/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia