alexametrics
Sabtu, 27 Feb 2021
radarsolo
Home > Solo
icon featured
Solo
Di Balik Kematian Tragis Remaja Putri

4 Hari sebelum Tewas Dapat Ancaman Dibunuh

21 Oktober 2018, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

BERKABUNG: Pelayat di rumah duka Rusunawa II Kampung Begalon RT 08 RW 03 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Sabtu (20/11).

BERKABUNG: Pelayat di rumah duka Rusunawa II Kampung Begalon RT 08 RW 03 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Sabtu (20/11).

Share this      

SOLO - Pasangan suami istri Edi Santoso dan Welly sudah tidak bisa lagi melihat keceriaan putri bungsunya Retno Ayu Wulandari. Dara 14 tahun itu meninggal dunia diduga dibunuh oleh seorang laki-laki sebaya yang baru dikenalnya.

Suasana duka terlihat di tempat tinggal Edi di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) II Kampung Begalon RT 08 RW 03 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Sabtu (20/11).

Tetangga, kerabat, dan sahabat Retno berdatangan ke rumah duka ikut berbela sungkawa. Mereka seakan tak percaya Retno meninggal di usia yang masih belia.

Itu pula yang dirasakan Arved Chrystian, kakak sulung Retno. Selama ini, adiknya tersebut dikenal sebagai pribadi yang supel, ceria, mandiri, dan mudah bergaul. 

Namun, sikap Retno berubah sejak sebulan terakhir. Beberapa kali Arved memergoki adiknya banyak melamun. “Saya tanya kenapa, kok sekarang sering melamun. Dia cuma geleng-geleng kepala. Kemudian masuk ke dalam kamar. Saya tidak berani tanya lebih memaksa, takutnya anaknya malah ngambek. Soalnya kalau ada masalah, biasanya langsung curhat sama saya, tapi ini kok diam saja,” paparnya.

Baru setelah Retno meninggal, sang ibu bercerita bahwa Retno mendapat teror dari seorang laki-laki sebaya lewat pesan singkat di WhatsApp pada empat hari sebelum Retno ditemukan meninggal dunia. 

Sepengetahuan Arved, isi pesan tersebut kurang lebih menyebutkan, jika Rento tidak bersedia berpacaran dengan laki-laki si pengirim pesan, Retno akan disantet bahkan dibunuh. “Waktu itu, ibu tidak terlalu memikirkan sejauh ini. Ibu berpikir cuma candaan abg (anak baru gede, Red) saja. Jadi tidak cerita sama saya dan bapak. Tapi, ancaman tersebut ternyata benar. Saya belum lihat sendiri (pesan ancaman, Red) karena sampai saat ini HP (handphone, Red) adik saya hilang,” ungkap dia.

Arved masih ingat pada Kamis (18/10) sekitar pukul 19.30, Retno dijemput seorang laki-laki. Ketika ditanya mau ke mana? Retno menjawab hendak main. Kemudian Arved mengingatkan agar pulangnya tidak larut malam.

Sayangnya, Arved tidak mengenal si laki-laki yang menjemput Retno. Dia hanya berpikir adiknya bermain dengan teman biasanya. Kepanikan baru terjadi sekitar pukul 22.00 kala Retno menelepon ibunya. Dia meminta tolong dengan suara lirih dan putus-putus. Tidak lama kemudian, sambungan telepon mati. Saat kembali dihubungi, Retno tidak mengangkat HP-nya.

Sang ibu kemudian meminta Arved mencari adiknnya. Sebelum berangkat, Arved menghubugi teman-teman Retno yang dikenalnya, tapi tidak ada yang tahu keberadaannya. 

Dengan mengendarai sepeda motor, Arved menyisir Jalan Jenderal Sudirman tempat Retno biasa kongko bersama teman-temannya. Tapi, hasilnya nihil. Arved lalu pulang dan berharap adiknya sudah lebih dahulu tiba di rumah. Namun, harapan itu tak terwujud.

Sempat terlintas Retno menginap di rumah kakak keduanya di Baki, Sukoharjo. Namun, ketika sang kakak dihubungi, ternyata dia juga tak mengetahui keberadaan Retno. 

Keesokan harinya, Jumat (19/11) sekitar pukul 09.00, rumah Edi didatangi petugas medis dari Rumah Sakit Dr. Oen Solo Baru untuk mengklarifikasi apakah mengenal jasad perempuan yang dikirim ke rumah sakit setempat. 

“Ketika diperlihatkan fotonya, benar dari bajunya itu adik saya. Infonya adik saya meninggal karena kecelakaan. Namun sepintas luka di kepala tidak seperti orang kecelakaan,” tandasnya.

Baca juga: Ditemukan Tewas di Penggilingan Padi, Remaja Putri Diduga Dibunuh

Untuk menyakinkannya, dilakukan otopsi di RSUD Dr. Moewardi. Hasilnya Retno diduga kuat meninggal karena dianiaya. Karena itu, pihak keluarga meminta polisi mengusut dan menangkap pelakunya untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. 

Ditambahkan Arved, adiknya bercita-cita menjadi dokter. Sayangnya, impian tersebut kandas karena Retno putus sekolah saat hendak mengijak kelas 2 SMP. Setelah itu, Retno bekerja sebagai buruh pabrik konveksi. 

Jenazah Retno dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Daksinoloyo Dukuh Dayung, Desa Kwarasan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
 
 
 
 
Follow us and never miss the news