Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features
Lika-Liku Dunia Modeling

Profesional Butuh Proses, Instan Tak Bertahan Lama

Senin, 22 Oct 2018 12:10 | editor : Perdana

ilustrasi

ilustrasi

BUTUH latihan rutin dengan waktu tidak sebentar bagi seorang model agar bisa piawai di depan lensa kamera maupun fasih di atas panggung peragaan busana. Dengan demikian, orang akan menilai mana yang profesional dan mana yang tidak.

Pendiri Sekolah Modeling Qmodels Solo, Debby Silvitasari menilai posisi seorang model dalam dunia fesyen adalah hal yang sangat penting dan saling berkaitan. Karena itu seorang model harus mampu membawakan gaun atau busana yang ia kenakan, baik dalam sesi foto maupun dalam ajang peragaan busana. 

“Kehadiran model sebagai bentuk promosi akan busana yang dikenakan. Kalau tidak baik, orang tidak akan tertarik dengan busana atau barang yang ditawarkan,” jelas Debby saat ditemui di sekolah model miliknya kemarin.

Menurutnya, seorang model dianggap profesional tentunya jika model itu sudah banyak menerima job, baik dalam sesi foto maupun peragaan busana. Tentunya, pekerjaan itu harus diimbangi dengan skill dan kemampuan modeling yang tak perlu lagi dipertanyakan. 

“Model sendiri ada yang otodidak dan masuk ke agensi model. Namun banyak juga yang mengawalinya dari sekolah modeling,” ujarnya. 

Secara otodidak, model itu biasanya didukung dengan postur memadai dan sering berlatih secara mandiri. Tapi ada juga model yang harus diarahkan. Saat itulah mereka masuk ke sekolah model.

Ia pun langsung menunjukkan berbagai cara pendekatan untuk melatih cara berjalan yang baik pada koran ini. Beruntung kala itu sekolah binaan dia sedang mengadakan sesi latihan.

Debby lalu memanggil salah seorang model yang masih baru bergabung di tempatnya. Instruksi diberikan, lalu seorang model usia belia pun mulai berjalan di atas garis lurus dengan high heel yang ia kenakan. Di ujung garis ada tanda di mana model itu harus berputar sebelum kembali ke posisi awal sembari melewati garis lurus yang sama. 

“Ini untuk melatih cara berjalan yang baik. Sebab, kalau model catwalk yang utama harus bisa berjalan dengan baik. Nanti untuk melatih postur tubuh agar tegak juga beda lagi caranya. Begitu juga untuk melatih pandangan agar tetap ke depan,” kata dia.

Disinggung soal materi, dirinya menjelaskan, ada dua materi yang diberikan. Yakni, materi basic dan advance. Untuk materi basic, pembelajaran yang diberikan adalah materi soal berjalan di atas catwalk, pose, ekspresi, akting, beauty class, MC dan latihan pertunjukan. 

Sementara materi advance merupakan materi pengembangan, di mana latihannya pun telah melibatkan penggunaan berbagai properti dengan banyak koreografi secara kelompok. Meski semua materi diberikan sama, kadang bakat dan minat setiap model berbeda antara satu dan lainnya. 

“Rata-rata materi diselesaikan antara 4-8 bulan. Tapi pencapaiannya sendiri tergantung kemampuan masing-masing. Bahkan ada yang 3-4 bulan sudah menyelesaikan semua materi. Ada yang kuat di catwalk dan foto tapi ada juga yang hanya kuat di salah satunya. Semua itu tergantung nanti bagaimana mengarahkan,” jelas Debby.

Lantas bagaimana dengan tema nude, apakah materi foto nude juga diberikan? “Tidak. Kalau soal itu kami tidak melayani, ada materi sesi foto, tapi bukan ke arah sana,” kata dia. 

Alasannya karena motivasinya mendirikan sekolah modeling ini bertujuan untuk memberikan bekal pada orang yang ingin serius atau sebatas mengenal dunia modeling. “Tentu saja untuk teknik-teknik yang tidak biasa itu dikembalikan pada pribadi masing-masing modelnya. Tapi kalau di sini tidak melayani atau memberikan materi untuk ke arah sana (nude),” sambung Debby.

Debby pun tidak menampik istilah gelap terang dunia modeling itu ada. Bahkan awal karir modelingnya dulu sempat dilarang orang tua karena takut terbawa arus yang tidak baik. Namun itu semua tergantung masing-masing pribadi yang menjalani. Karena itu dirinya selalu menanamkan profesionalitas sebagai model pada tiap siswanya. Misalnya, jika tema yang diminta tidak biasa harus ada perjanjian yang sah secara hukum.

“Pernah ada model kami yang baru latihan dan langsung ditawari seorang fotografer. Saat itu, permintaannya di kolam renang dan akan dibantu dipromosikan. Saat seperti itu saya minta siswa saya untuk cari kejelasan siapa fotografernya, peruntukannya apa, dan lain sebagainya. Bukannya berburuk sangka, tetapi lebih ke proteksi diri,” ujarnya.

Sempat juga ada siswanya yang diminta foto di hotel tanpa dijelaskan sesi foto seperti apa yang akan dilakukan. Saat seperti itu dirinya harus mendampingi. Jika mengarah ke hal yang tidak baik maka bisa langsung ditolak. 

“Itulah pentingnya menanamkan pendidikan karakter bagi setiap model di sini. Agar saat berhadapan dengan klien ada kehati-hatian. Dan harus dipastikan seberapa kredibilitas klien. Detail sesi foto seperti apa, temanya apa, bajunya apa, dan lainnya. Jika modelnya masih di bawah umur harus atas sepengetahuan orang tua,” kata dia.

Baginya, profesionalitas dalam berkarir itu penting. Tujuannya untuk membantu mengarahkan diri sendiri pada hal-hal yang benar serta agar tak mudah terjerumus atau mudah dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. 

“Kalau saya pribadi memang tidak mengarahkan model saya untuk mengenal dunia modeling di sisi itu (nude). Karena di sisi itu memang rawan dimanfaatkan orang tidak bertanggung jawab. Nah, kalau bagi sebagian model yang instan itu lebih menggiurkan itu urusan lain. Tapi buat biasanya yang instan tidak akan bertahan lama,” beber Debby. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia