Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Solo

Polda Tetapkan Bos PT MCL Tersangka Pencemaran Air PDAM Solo

Selasa, 23 Oct 2018 11:29 | editor : Perdana

Polda Tetapkan Bos PT MCL Tersangka Pencemaran Air PDAM Solo

SEMARANG – Penyidik Ditreskrimsus Polda Jateng telah melakukan gelar perkara internal terkait penanganan kasus pencemaran air Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kota Surakarta yang diduga dilakukan oleh PT Mahkota Citra Lestari (MCL). Hasilnya, direktur perusahaan pewarna tekstil tersebut akhirnya ditetapkan sebagai tersangka.

“Ya, sudah ada tersangkanya, K, pemiliknya,” ungkap Direskrimsus Polda Jateng Kombes Pol Hendra Suhartiyono, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (22/10).

Hendra mengatakan, tim penyidik telah melakukan gelar rekonstruksi di dua lokasi di tempat kejadian pada Sabtu (20/10). Setidaknya ada delapan sampai sepuluh reka adegan dalam gelar rekonstruksi tersebut. Penyidik juga telah mengumpulkan alat bukti dan keterangan saksi-saksi terkait kasus ini sebelum penetapan tersangka.

“Untuk penguatan menjadikan tersangka kan dari keterangan saksi-saksi dan petunjuk yang ada,” tegasnya.

Dari hasil rekonstruksi, juga diketahui adanya unsur kesengajaan terjadinya pencemaran limbah pabrik pewarna tekstil itu ke dalam jaringan air PDAM. Limbah ini juga telah diambil sebagai sampel untuk dikirim ke laboratorium di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Yogyakarta (BTKLPPY). 

“Kami juga akan menguatkan alat-alat bukti lain, memanggil saksi-saksi lain, termasuk menunggu hasil lab di Jogja. Kalau informasi dari PDAM keluar hasilnya satu minggu,” ujarnya.

Pada awal kasus ini, sebanyak enam orang telah diperiksa antara lain Staf Admin PT MCL Intan Rohmawati, Kepala Produksi Kasmungi, pekerja bangunan Supriadi, Direktur Teknik PDAM Solo Trihatmojo, petugas PDAM Bayu. Termasuk K, pemilik atau direktur dari PT MCL.

Ditanya apakah jumlah saksi yang periksa akan terus bertambah, Hendra dengan tegas menyampaikan hal tersebut bisa saja terjadi. Meski demikian, pihaknya masih enggan membeberkan secara detail terkait saksi-saksi lain yang akan ikut diperiksa.

“Pasti ada. Yang jelas selama ini ada tiga sampai empat orang sudah diperiksa, ada warga sama dari PDAM. Apakah nanti ada tersangka lain, tergantung hasil penyidikan selanjutnya,” katanya.

Hendra juga telah memasang garis polisi di pabrik bergerak di bidang usaha perdagangan bahan kimia tekstil tersebut untuk melarang adanya kegiatan atau beroperasi. Hal ini dilakukan supaya supaya pabrik tersebut tidak mengabaikan persyaratan operasional. “Kalau masih nekat beroperasi, ya akan kita kenakan sanksi lebih berat,” tegasnya.

Pada kasus ini, PT MCL dianggap melanggar undang undang nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dijerat pasal 98 ayat (1) dan pasal 109 jo pasal 36 ayat (1). Ancaman pidana minimal 3 tahun maksimal 10 tahun dan denda minimal Rp 3 miliar maksimal 10 miliar. 

Terkait status PT MCL, Pemkot Surakarta melarang pabrik yang berlokasi di Banyuanyar Kecamatan Banjarsari, Solo ini untuk beroperasi hingga ada keputusan hukum tetap. Mereka juga resmi diberikan sanksi pencabutan izin karena diduga sengaja mencemari lingkungan.

Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo menegaskan, pelanggaran yang dilakukan selama ini masuk kategori sangat berat dan merugikan masyarakat luas.

“Saya sudah minta dinas untuk mengurus (pencabutan izin). Kalau mereka punya izin, cabut. Kalau ternyata nggak punya izin maka dobel kesalahannya. Harus dihukum berat itu. Bukan lagi pencemaran yang dilakukan tapi sudah fatal karena masuk saluran air warga,” tegasnya.

Rudy menambahkan, pemkot saat ini menunggu proses hukum yang masih didalami pihak kepolisian. Sembari menunggu keputusan tetap, dia melarang seluruh aktivitas di perusahaan tersebut. Selain itu pemkot juga ingin adanya penyelidikan mendalam soal kemungkinan kasus serupa di wilayah Solo.

“Jangan-jangan banyak pipa PDAM yang disambungin kayak gitu? Coba nanti diperiksa,” katanya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surakarta Sri Wardhani Poerbowidjojo mengatakan, pihaknya mengirim tim khusus untuk melakukan investigasi terhadap kasus pencemaran air PDAM yang terjadi di Banyuanyar. Mereka bekerja dalam tim gabungan yang terdiri dari organisasi perangkat daerah (OPD) lain.

“Ke depan kita akan terus pantau untuk potensi pencemaran di sekitar kawasan industri,” katanya. (mha/irw/jpg/bun)

(rs/irw/jpg/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia