Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Boyolali

Embung Musuk Kering Sebabkan Air Pudam Menipis

29 Oktober 2018, 19: 04: 35 WIB | editor : Perdana

TERDAMPAK KEMARAU: Kondisi Embung Musuk di Kecamatan Musuk, Boyolali yang mulai mengering, Minggu (28/10). PUDAM terpaksa mengurangi pasokan air ke pelanggan.

TERDAMPAK KEMARAU: Kondisi Embung Musuk di Kecamatan Musuk, Boyolali yang mulai mengering, Minggu (28/10). PUDAM terpaksa mengurangi pasokan air ke pelanggan. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Pelanggan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PUDAM) Boyolali diminta untuk bijak dalam menggunakan air. Sebab persediaan air PUDAM dari Embung Musuk, Kecamatan Musuk mulai menipis. Jika tidak segera turun hujan, air embung diprediksi hanya mampu mencukupi kebutuhan pelanggan hingga medio November.

Kabag Hubungan Langganan PUDAM Boyolali, Moelyadi menjelaskan, Embung Musuk terdiri dari dua kolam. Keduanya saling terhubung. Namun debit air di kedua embung tersebut semakin menipis. 

Embung Musuk sejatinya menampung 100.000 meter kubik air. Tapi kini debit air yang tersisa kurang dari separonya. ”Sesuai prediksi, jika tidak segera turun hujan, maka air embung hanya cukup untuk pasokan hingga pertengahan bulan depan,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (28/10).

Dari embung tersebut, mampu mencukupi kebutuhan sekitar 15.000 pelanggan. Berada di wilayah Kecamatan Musuk dan Boyolali Kota. Nah, mengantisipasi agar seluruh pelanggan terlayani dengan baik, PUDAM terpaksa melakukan penghematan.

Pasokan air bersih dari PDAM mulai direduki. Debit air yang keluar dikurangi menjadi 3-5 liter per detik. Dari sebelumnya sebanyak 30 liter per detik. Jika air embung masih tidak mencukupi, PUDAM siap mengoperasikan pompa air untuk menyedot dari empat sumur di wilayah Boyolali Kota dan Musuk.

PUDAM tidak berani menguras habis air di embung. Sebab jika air dikuras habis, bagian dasar dan dinding embung mudah rusak.

”Empat buah sumur itu masih milik PUDAM. Tetapi pengoperasiannya hanya dilakukan jika kondisi mendesak. Dalam kondisi normal, pasokan air embung masih cukup,” tutur Moelyadi.

Sementara itu, dampak penghematan air PUDAM dirasakan Sri Rahayu, 50. Pelanggan asal Singkil, Kecamatan Boyolali ini mengaku sudah merasakan dampak kemarau panjang. Saat ini, aliran air bersih dari PUDAM sudah mulai terganggu.

”Aliran terpaksa digilir rata-rata dua hari sekali air berhenti mengalir. Pelanggan juga sudah mendapat pemberitahun dari PUDAM,” bebernya. (wid/fer

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia