Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Features

Liku-Liku Lanjar Sarwanto 18 Tahun Tekuni Kerajinan Jimbe

Minggu, 04 Nov 2018 10:30 | editor : Perdana

ILMU DARI AFRIKA: Lanjar merakit jimbe di rumahnya Kampung Harjodipuran RT 05 RW 06 Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon

ILMU DARI AFRIKA: Lanjar merakit jimbe di rumahnya Kampung Harjodipuran RT 05 RW 06 Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Cintailah dan tekunilah kebiasaanmu. Niscaya rezeki akan menghampirimu. Moto hidup itu yang dipegang Lanjar Sarwanto. Selama 18 tahun, dirinya fokus menjadi pengrazin Jimbe. Omzetnya pun cukup menggiurkan.

A. Christian, Solo.

TERAS halaman rumah Lanjar di Kampung Harjodipuran RT 05 RW 06 Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon diubah menjadi bengkel pembuatan jimbe. Puluhan jimbe setengah jadi berjajar rapi. 

Saat koran ini menyambanginya, Lanjar sedang sibuk memasang kulit pada alat music tabuh tersebut. Maklum, pekan depan akan segera diambil pemesan.

“Saya sambi sebentar ya. Tanggung tinggal pasang tali. Mas tunggu di dalam saja,” katanya sembari mempersilakan koran ini duduk di dalam rumah. 

Sekitar sepuluh menit kemudian, pria yang kala itu memakai baju koko warna putih dan sarung warna hitam iitu menyusul. Wawancara diawali penuturan Lanjar yang mengaku mengenal jimbe sejak 1999. Kala itu, dirinya merupakan pekerja seni teater.

Bermodal keahlian dibidang tersebut, mengantarkannya keliling dunia, termasuk ke negara asal Jimbe, Afrika. “Saya diminta melakukan adegan bermain jimbe sambil menari. Waktu itu belum ada niatan jadi perajin, baru tahap senang main jimbe saja” ujar pria kelahiran Solo, 25 April 1978 ini.

Waktu berlalu, Lanjar kemudian bersilaturahmi ke salah seorang perajin jimbe di Afrika. Dia mengamati cara pembuatannya lalu mulai membuat satu unit jimbe. Setelah dibawa pulang ke tanah air, ternyata banyak yang suka dengan jimbe buatannya.

“Sayang cuma satu, akhirnya saya coba buatkan. Modalnya seingat saya saja waktu lihat perajin di Afrika,” tutur dia.

Ternyata, membuat jimbe tidak semudah yang dibayangkan. Lanjar beberapa kali gagal merakit. Baru setelah enam bulan trial and error, dia mengusai cara pembuatan jimbe. “Jadi satu (unit jimbe, Red), terus saya kasih ke teman saya. Lama-kelamaan, kok pesanan makin banyak,” jelas dia.

Untuk menunjang usahanya, Lanjar kuliah di Institut Seni Surakarta (ISI) Surakarta Jurusan Etnomusikologi Karawitan pada 2002. Setelah mendapat ilmu yang cukup, dia memberanikan diri membuat cukup banyak jimbe.

“Awalnya saya tawarkan ke teman-teman seniman, ke toko-toko. Jadi jualannya masih dari mulut ke mulut,” ujarnya.

Jimbe buatan Lanjar memanfaatkan bahan baku dari kayu mahoni dan kayu nangka yang dibelinya dari Jawa Timur serta Wonogiri. Setelah dipotong-potong, kayu diolah dengan diameter 30-36 sentimeter, tinggi 63 sentimeter.

Agar lebih cantik, Lanjar mengukir badan jimbe dengan motif Afrika, Jawa, dan Kalimantan. Untuk kulit, dia memanfaatkan kulit sapi. Sedangkan tali nilon berkualitas didatangkan dari Surabaya. 

Kenapa dipilih nilon berkualitas, karena tali tersebut berfungsi mengatur suara jimbe. Setelah dirakit, proses selanjutnya adalah cunning (mengatur resonasi suara) dan finishing dengan cat. “Saya lebih memilih warna solit,” katanya.

Tahapan yang paling lama, imbuh dia, menunggu kayu bahan jimbe kering. Sebab dalam proses pengeringan, Lanjar masih mengandalkan terik sinar matahari. “Kalau pas cuaca panas, dijemur sehari bisa kering. Tapi, pas musim hujan bisa tiga sampai empat hari baru kering,” papar dia.

Dalam sepekan, Lanjar bisa membuat sebanyak 20 unit jimbe dan dijual kepada sejumlah seniman, dititipkan di toko musik di Solo, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Padang, Makasar, dan kota-kota besar lain.

Apakah berencana mengekspor jimbe? Lanjar mengatakan belum. Sebab, pembeli dari luar negeri masih memilih jimbe produksi perajin dari Afrika. Sedangkan jimbe buatan Indonesia menjadi pilihan kedua. “Eman-eman (sayang jika ekspor, Red). Tidak cucuk (sebanding, Red) sama biaya kirim dan produksinya,” tandasnya.

Meskipun begitu, bukan berarti lanjar tidak memiliki pelanggan dari luar negeri. Pada 2008, pernah ada warga Malaysia datang ke rumahnya dan membeli sebanyak 20 jimbe.

Pembelian dari konsumen Malaysia tersebut berlangsung sebanyak empat kali. “Terakhir beli dari saya 2010. Setelah itu tidak penah lagi. Ya namanya jualan, ada musimnya, karena memang tren jimbe lagi memudar. Paling sekolah-sekolah untuk pengadaan alat musik,” ucapnya.

Meskipun sepi, Lanjar bisa menjual sekitar 40 jimbe per bulan. Dari situ dia bisa mengantongi keutungan Rp 30 juta. “Pernah juga blas nggak ada yang beli. Tapi, tetap saya syukuri. Rezeki yang mengatur Tuhan, kita manusia tugasnya hanya berdoa dan berusaha,” pungkas dia. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia