Sabtu, 17 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Pendidikan

UNS Berharap Tempe Diakui Unesco Jadi Food Cultural Heritage

Rabu, 07 Nov 2018 18:40 | editor : Perdana

SOSIALISASI: Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan FP UNS menyelenggarakan International Workshop on Traditional Fermented Foods 2018.

SOSIALISASI: Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan FP UNS menyelenggarakan International Workshop on Traditional Fermented Foods 2018. (SEPTINA FADYA PUTRI/RADAR SOLO)

SOLO – Universitas Sebelas Maret (UNS) mendorong tempe menjadi food cultural heritage dari Indonesia yang diakui United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (Unesco). Sebelumnya, tempe sudah dicatat oleh Codex Alimentarius International Food Standards, salah satu bagian dari Food and Agriculture Organization (FAO). 

“Tempe ini unik. Maka kami promosikan ke UNESCO. Bahwa tempe adalah makanan tradisional yang benar-benar asli Indonesia. Bahkan dalam Serat Centini pada abad 18, tempe sudah ada disebutkan di dalamnya,” ucap Dosen Fakultas Pertanian (FP) UNS, Danar Praseptiangga kepada Jawa Pos Radar Solo.

Danar mengatakan negara lain juga mengembangkan makanan berbasis kedelai seperti tempe. Salah satu yang mengembangkan makanan dengan bahan dasar kedelai adalah Jepang, dengan nama nato. Meski sama-sama terbuat dari kedelai dan merupakan produk fermentasi, namun nato berbeda bentuk dengan tempe.

“Kami ingin mengenalkan makanan tradisional ke warga negara asing. Bahwa sisi fungsional makanan tradisional ini sangat tinggi. Terbukti di negara lain ada makanan fermentasi juga selain tempe. Sekaligus menunjukkan kekayaan dan kearifan lokal Indonesia, tempe sebagai pangan yang murah meriah,” sambungnya.

Kepala Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan FP UNS, Bambang Sigit Amanto mengungkapkan pihaknya telah mengembangkan riset tempe nonkedelai. Mengingat tingkat impor kedelai masih cukup tinggi, sebesar 70 persen.

”Kami mencoba opsi lain untuk tidak menggunakan kedelai. Kami mengembangkan tempe koro pedang. Koro pedang selama ini hanya dibuat sayur. Untuk bijinya belum banyak digunakan. Ternyata bisa dibuat menjadi tempe dan tahu. Hasilnya juga bagus dan produktivitasnya tinggi,” jelasnya.

Bambang menambahkan tempe koro pedang diklaim kandungan proteinnya lebih tinggi dan lebih crispy saat digoreng. Hanya saja pengolahannya agak sulit karena bentuknya yang besar. Sehingga perlu dipotong dan dicacah terlebih dahulu.

”Kami juga mengembangkan tempe mlanding bekerjasama dengan mitra UMKM di Wonogiri. Ini membuktikan bahwa tempe tidak hanya dari kedelai saja,” imbuhnya.

Perwakilan Institut Javanologi UNS, Bani Sudardi menyebut keberadaan tempe bisa dikenal di seluruh Indonesia bahkan di seluruh penjuru dunia akibat invensi dari orang Jawa.

”Karena penduduk suku Jawa ini sangat besar. Maka di mana ada orang Jawa, di situ pasti ada tempe. Ketika orang Jawa menemukan kedelai, kemudian dibuat tempe. Dari situ lah tempe dikenal luas,” katanya.

Sementara itu, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan FP UNS menyelenggarakan International Workshop on Traditional Fermented Foods 2018 di kampus setempat, kemarin. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan bekal generasi muda, khususnya mahasiswa UNS dan mahasiswa asing yang merupakan mitra UNS terkait pangan fermentasi tradisional. Mulai  dari proses produksi dan pengolahannya pada usaha kecil dan kecil menengah. Mutu dan keamanan pangan juga menjadi hal yang dikaji dan dipelajari selain proses pengolahan pangan fungsional berbasis produk pangan fermentasi tradisional dan aspek sosial budayanya. (aya/nik)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia