Senin, 19 Nov 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

Mabuk Rebusan Pembalut Buah Eksperimen Sendiri

Kamis, 08 Nov 2018 23:52 | editor : Fery Ardy Susanto

Mabuk Rebusan Pembalut Buah Eksperimen Sendiri

SEJUMLAH anak jalanan (Anjal) di lingkup Jawa Tengah yang pesta mabuk-mabukan menggunakan cairan rebusan bekas pembalut wanita rata-rata masih berusia di bawah umur. Ironisnya, cara mereka membuat atau menemukan hal ini dengan bereksperimen sendiri.

"Mereka bereksperimen sendiri, dan bercoba-coba, merebus pembalut. Pampers juga ada. Mereka mengatakan supaya pikiran kita bisa senang, efeknya mendekati seperti sabu," kata Psikolog dari Unika Soegijapranata, Indra Dwi Purnomo kepada Jawa Pos Radar Semarang, saat hadir di Kantor BNNP Jateng.

Lanjut Indra Dwi Purnomo menjelaskan, telah melakukan pemeriksaan atau penanganan terhadap salah satu anak jalanan berusia belasan tahun yang ikut menenggak cairan rebusan pembalut bersama teman-temanya. Namun, ia enggan membeberkan secara secara detail nama anak yang dimaksud.

"Efek dari tingkah laku anak yang mengkonsumsi air rebusan pembalut ini mengatakan ke saya bisa fly, kepalanya ringan. Mereka mengatakan halusinasinya serem sekali, cuma mereka sulit menuturkan halusinasi serem, seperti apa. Katanya ngeri," bebernya.

Indra Dwi Purnomo menyebutkan, anak yang ditanganinya tersebut setiap hari mempergunakan mabuk menggunakan dari berbagai macam jenis zat, diantaranya pil daftar G, Antimo, Komix, termasuk minum air rebusan pembalut. Bahkan dia juga menyampaikan obat nyamuk bakar pun bisa jadi sarana untuk flay.

"Seperti permen dimasukan ke mulut. Hanya saja, fenomena fenomena mencampur obat nyamuk, pil-pil ini sudah agak lama terjadi. Memang kalau kita amati, mereka ini pengenya nge fly dengan cara yang murah, yang bisa bikin kami enak fly bareng," katanya.

Fenomena mabuk menggunakan air rebusan pembalut, di Jawa Tengah terjadi baru belakangan ini. Dari hasil pemeriksaan terhadap anak yang ditanganinya, mereka yang mencoba belum tentu berani melakukan atau melanjutkan kembali.

"Dia mengatakan dua kali dan berhenti, tidak mau melanjutkan mencoba lagi. Kalau untuk waktunya berapa lama, memang mereka mengatakan untuk bisa pulih kembali setelah beberapa jam bahkan esok harinya," terangnya.

Selain itu, sarana mabuk yang digunakan anak jalanan berbeda dengan kalangan orang-orang lain yang cenderung lebih mahal dan bermerek. Namun, sarana mabuk anak jalanan seperti menggunakan lem dan komix ini sudah bukan barang yang baru lagi.

"Jadi mereka nyarinya yang murah, sudah bisa nge fly, seneng ramai-ramai. Beda dengan mahasiswa, atau kalangan lain, melihat mabuk menggunakan pembalut dianggap jijik," ujarnya.

Indra Dwi Purnomo juga menyebutkan, anak jalanan yang diperiksa tersebut masih berusia 14 tahun. Ia juga menyampaikan masih memiliki keluarga lengkap. Alasan terkait mereka melakukan perbuatan atau mabuk-mabukan, pihaknya menjelaskan terdapat beberapa faktor.

"Kita lihat dilingkunganya apakah lingkungan mereka beresiko, atau apakah mereka dari keluarga yang menyalahgunakan, apa teman temannya mempengaruhi. Mereka ini remaja, mencari jatidiri, merasa sudah jago dan merasa tertantang dengan remaja lainya," jelasnya.

Pihaknya sangat menghimbau kepada orangtua manakala menemukan anaknya melakukan perbuatan tersebut hendaknya jangan langsung mengambil tindakan yang kasar. Indra Dwi Purnomo menyarankan, paling utama jangan marahi anak. Menurutnya, perbuatan anak tersebut jangan dilihat sebagai perilaku kriminal, tetapi mereka ini korban, dan harus dibantu.

"Orangtua harus lebih melihat menimbang mengingat, artinya orangtua harus bisa menyesuaikan menerapkan cara mendidik anak yang tepat serta mengembangkan bidang yang sesuai dengan potensi anak. Supaya anak punya yang dibanggakan. Nah dari anak jalanan ini, saya tahunya mereka yang dibanggakan ketika mereka bersama teman-temannya seneng bareng," pungkasnya. (mha/JPG/fer)

(rs/fer/fer/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia