Minggu, 26 May 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan
UMS BICARA

Belajar Ilmu Disaster Management dari Kisah Nabi Nuh

09 November 2018, 15: 37: 19 WIB | editor : Perdana

Belajar Ilmu Disaster Management dari Kisah Nabi Nuh

Di dalam disiplin ilmu keselamatan (safety), dikenal pepatah yang berbunyi: Salus populi ex lex suprema; yang artinya : keselamatan manusia adalah peraturan nomor satu. 

Selamat artinya terhindar dari kecelakaan. Keselamatan adalah kebutuhan hidup nomor satu. Bagi umat Islam, mendoakan keselamatan sesama manusia ini adalah amalan yang sangat dianjurkan, dengan ucapan salam Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Semoga keselamatan terlimpah atas kalian, demikian juga rahmat dan barokah Allah. Doa itu bahkan menjadi penutup setiap salat yang dilaksanakan minimal lima kali sehari. 

Karena merupakan kebutuhan nomor satu, maka sejak awal sejarah peradaban manusia, Allah mengajarkan ilmu keselamatan kepada nabi Nuh dan kaumnya. Yakni ilmu memprediksi datangnya bencana. Nabi Nuh diberi ilmu oleh Allah kapan bencana banjir yang akan memusnahkan umat manusia. Kemudian Allah juga mengajarkan ilmu bagaimana agar bisa menyelamatkan diri dari bencana tersebut. Yakni dengan teknologi pembuatan kapal. 

Dalam kitab suci dan banyak tafsirnya disebutkan bahwa teknologi pembuatan kapal itu mencakup pula teknologi penanaman pohon yang kayunya paling baik untuk dijadikan bahan kapal. 

Allah berkuasa menurunkan bencana, tetapi Allah juga mengajarkan kepada manusia ilmu tentang bencana tersebut. Sehingga manusia bisa selamat dan tetap eksis di muka bumi. 

Tulisan singkat ini mengajak pembaca untuk menelaah kembali kisah Nabi Nuh yang bukan hanya termaktub di dalam Alquran tetapi juga di dalam Injil. Telaah ini terkait dengan ilmu disaster management. 

Kisah Nabi Nuh diceritakan di dalam Alquran surah Hud ayat 25-49. Runut bermula dari dakwah tauhid yang disampaikan Nabi Nuh kepada kaumnya,  prediksi bencana yang akan turun, penolakan sebagian kaumnya  terhadap ajakan tauhid dan pendustaan terhadap prediksi bencana tersebut.

Kemudian kisah berlanjut dengan what-so-calleddisaster management atau manajemen kebencanaan. Yakni pengaturan semua resources dalam kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana baik sebelum bencana terjadi (disaster preparedness), ketika bencana terjadi (disaster response), maupun pasca/setelah terjadinya sebuah bencana (disaster recovery). 

Disaster preparadness terdiri dari ilmu tentang kaifiyah/mekanisme terjadinya bencana, meliputi ilmu bagaimana teknis sebuah bencana bisa terjadi, kapan dan di mana bencana tersebut akan terjadi, serta apa efek atau akibat bencana tersebut bagi manusia dan lingkungan.

Perintah Allah untuk membuat kapal, dimulai dari teknologi pembudayaan tanaman kayu yang cocok untuk bikin kapal hingga design dan construction kapal yang bisa menyelamatkan manusia dan binatang yang ada, tentulah didahului dengan ilmu tentang prediksi kapan, di mana, bagaimana, berikut magnitude banjir yang akan datang tersebut. Sehingga kapal yang dirancang pun bisa tepat waktu, tepat ukuran, dan tepat navigasi. Inilah ilmu disaster preparedness.

Saat bencana datang, yang meskipun bisa diprediksi, namun kapan tepatnya terjadi tidak bisa sepenuhnya bisa sangat tepat diketahui manusia, Nabi Nuh tahu betul apa yang harus dilakukan. Ada prosedur tanggap darurat yang sudah dipahami oleh seluruh individu, sehingga evakuasi atau tindakan penyelamatan lainnya bisa berjalan persis seperti yang di-training-kan.

Dalam kisah nabi Nuh, prosedur tersebut bukan hanya melibatkan manusia, tetapi juga binatang yang dipilih berpasang-pasangan sehingga kelak tetap terjaga keanekaragaman hayatinya. Sungguh sebuah prosedur tanggap darurat yang sangat canggih, yang memerlukan training yang sistematis, sehingga bukan hanya manusia yang selamat dari kepunahan, melainkan juga beraneka ragam binatang.

Kisah Nabi Nuh diakhiri dengan ilmu disaster recovery. Inilah ilmu yang paling susah untuk dipahami, paling susah untuk dicerna, dan paling susah untuk ditelan. Mengapa? Karena ilmu ini berkaitan dengan hati dan perasaan orang yang kehilangan segalanya. Kehilangan harta, kehilangan nyawa orang terdekat, kehilangan kemapanan, kehilangan kehidupan yang normal, bahkan bagi beberapa individu, terasa seperti kehilangan masa depan. 

Di sinilah keimanan seseorang betul betul teruji. Bahkan seorang Nabi Nuh pun sampai melakukan kesalahan karena "protes" kepada Allah, mengapa putra beliau termasuk yang ikut menjadi korban meninggal dunia. Allah menegur beliau dengan tegas: siapapun yang menolak prosedur tanggap darurat yang diperintahkan oleh Allah tidak pantas dimohonkan ampunan baginya, meskipun dia adalah anak nabi sekalipun. Sungguh berat menerima kenyataan ini, namun seberapa pahit kenyataan itu haruslah tetap ditelan.   

Ada pelajaran utama yang harus dipegang teguh dalam proses recovery pascabencana. Semua terjadi atas kehendak Tuhan, dan mereka yang selamat adalah orang orang yang dipilih oleh Tuhan untuk melanjutkan kehidupan. Melanjutkan kehidupan sesuai dengan tatacara hidup yang dikehendaki oleh Tuhan. Dengan cara mengembalikan semuanya kepada Tuhan. Sesungguhnya kita ini milik Tuhan dan pada akhirnya kita semua akan kembali kepada Tuhan. Jalanilah sisa hidup ini dengan sepenuhnya taqwa kepada Tuhan semata.

Oleh: Rois Fatoni* 

*) Dosen Keselamatan Proses, Prodi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia