Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Features

Remaja di Solo Ciptakan Alat Pengontrol Peralatan Elektronik

11 November 2018, 20: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Personel Umbi merakit alat untuk mengontrol barang elektronik.

Personel Umbi merakit alat untuk mengontrol barang elektronik. (RADAR SOLO PHOTO)

PERNAH lupa mematikan alat eletronik di rumah tapi sudah telanjur bepergian jauh? Kini, Anda tak perlu khawatir. Karena sudah ada teknologi untuk mengontrol peralatan elektronik seperti lampu, televisi, air conditioner (AC) cukup dengan smartphone.

Adalah sejumlah remaja yang tergabung dalam startup Umbi. Mereka mengaplikasikan sistem Internet of Things (Iot), yakni sistem penggerak antara mesin ke mesin dengan jaringan internet sebagai penengahnya. Sistem IoT menggunakan control center dan sebuah saklar bernama Alata.

Alata berukuran 3,5x7 sentimeter dengan material berupa polycarbonate. Alata ini terbagi dua jenis, yakni S1 dan S1W. Tiap Alata hanya bisa mengontrol satu perangkat saja. Kode W berarti wall atau dinding. Jadi alat tersebut dapat ditempel pada dinding rumah. Sedangkan versi S1 bisa diletakkan di antara saklar lama dan lampu.

Cara kerja alat ini cukup mudah. Kabel-kabel peralatan eletronik dihubungkan menggunakan gunting dan obeng pada rangka tubuh Alata. Kemudian penggunaanya dikontrol melalui aplikasi Umbi Apps yang dapat diunduh secara gratis di Playstore.

Aplikasi akan mendeteksi perangkat yang terhubung dengan Alata. Pengguna hanya tinggal menekan tombol on/off di dialog command center pada aplikasi.

Sistem yang tidak terpengaruh jarak ini memungkinkan penggunanya tetap bisa mengontrol alat elektronik di rumah meski berada di luar negeri sekalipun. “Sistem ini tetap berjalan selama ada jaringan internet di tempat pengguna berada,” ungkap CEO Umbi Sukma Agus.

Awalnya, Sukma dan timnya ingin fokus pada Artificial Intelligence (AI) khususnya bidang robot. Mereka berharap bisa membuat kaki dan tangan untuk penyandang disabilitas. Namun, impian itu terkendala dana yang terlalu mahal. Akhirnya, setelah berdiskusi, mereka sepakat menggeluti ranah IoT berbasis smarthome.

“Produk dari smarthome lebih banyak dibutuhkan masyarakat yang kesibukannya semakin meningkat. Tentunya ingin sesuatu yang mudah dan praktis,” ujarnya ditemui di markas Umbi kawasan Mojosongo, Kota Solo.

Apa saja kendala yang dihadapi? CHO and Hardware Lead Umbi Nirwan menyebut ada beberapa komponen yang langka dan tidak ada di Indonesia. Di antarnaya komponen seperti mikro Surface Mount Device (SMD). Belum lagi harus mengedukasi user atau pengguna terkait hal baru. Seperti pengaplikasian saklar, voice call dan remote control.

Untuk memproduksi satu unit Alata, Umbi menghabiskan Rp 100 ribu untuk hardware-nya saja. Alata akan dibanderol sekitar Rp 200 ribu dan baru diproduksi secara masal akhir September.

Adapun segmentasi produk tersebut yakni developer perumahan, kalangan milenial, dan rumah tangga muda.

“Kalau developer kan buat perumahannya, milenial buat gaya-gayaan, lifestyle. Artinya yang adopsi teknologinya tidak repot,” katanya.

Product Manager and Research Data Analysis Umbi Candra Pamungkas menambahkan, pihaknya terus melakukan riset untuk mengembangkan produknya. Penambahan fitur seperti sensor IR sebagai pengganti remot agar peralatan elektronik lebih terkontrol secara universal menjadi fokus riset mahasiswa teknik sipil ini.

Umbi juga mengembangkan Alata berbasis tenaga surya untuk meminimalkan penggunaan listrik sekaligus green campaign mengurangi global warming. Rencananya, alat tersebut dipasang di atap rumah guna menyerap sinar matahari secara optimal. (*/wa)

(rs/it/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia