Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

BPOM Temukan Jamu Palsu Beredar di Klaten

12 November 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

BPOM Jateng tunjukkan sampel jamu palsu.

BPOM Jateng tunjukkan sampel jamu palsu. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN - Tren minum obat tradisional atau jamu telah ditangkap pelaku usaha dengan menghadirkan kemasan lebih modern. Hanya saja, masih dijumpai obat tradisional atau jamu palsu. Di dalamnya terkandung bahan kimia yang cukup berbahaya.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah, Safriansyah mengaku menemukan jamu palsu beredar di Klaten. Kendati temuan tersebut baru di tataran distributor kecil-kecilan. Ini menindaklanjuti penggerebekan pabrik obat tradisonal di Kebumen, baru-baru ini. Obat itu mengandung bahan kimia setelah melalui pengujian di lab.

”Temuan di Klaten ada, tapi baru di pendistribusian. Masih kecil-kecilan saja dalam bentuk produknya. Sedangkan pabrik yang memproduksi obat tradisionalnya sendiri tidak ditemukan,” terang Safriansyah kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dicontohkannya, jamu rematik. Jika dalam dua jam rematik sembuh, dipastikan jamu tersebut palsu. Mengandung bahan kimia tertentu yang memberikan efek negatif pada kesehatan. Safriansyah menegaskan, jika hanya mengonsumsi jamu saja, tidak bisa seketika memberikan efek sembuh.

”Begitu juga obat kuat yang paling laris. Biasanya dipastikan mengandung bahan kimia. Karena tidak mungkin dalam waktu singkat bisa ces pleng. Apalagi hanya minum jamu, tidak bisa langsung memberikan reaksi seperti itu,” tegas Safriansyah.

Dari catatan BPOM, di Jateng ada 89 industri jamu tradisional. Sayangnya mulai tercemar dengan pelaku usaha nakal. Menambahkan bahan kimia di dalamnya. Sementara masyarakat tahunya itu tidak memiliki efek samping. Padahal sangat berbahaya.

Safriansyah mengimbau agar konsumen jamu di Klaten cermat dalam memilih dan menyeleksi. Harus dilihat nomor izin edar yang ada dalam kemasan. Jika ada nomor izinnya, jamu tersebut telah terdaftar dan melalui penilaian mutu.

Memastikan nomor izin edar tidak palsu, perlu dicek melalui aplikasi yang dimiliki BPOM. Yakni Cek BPOM. Bisa diunduh melalui smartphone.

”Jika izin edar benar, akan menampilkan identitas pabrik dan alamat perusahaan yang memproduksi. Jika tidak ada, sudah dipastikan nomor izin edar itu palsu. Apalagi obat tradisonal itu berbahaya karena belum melalui pengujian lab kami,” tandasnya.

Nomor izin terdiri dari sembilan digit. Melalui nomor tersebut BPOM telah mengklasifikasi obat tradisional yang bisa dipahami secara internal. Hal ini yang sering kali tidak diketahui pelaku usaha nakal. Asal membuat nomor izin edar.

Anggota DPR RI dari Komisi IX, Imam Suroso menambahkan, pihaknya gencar sosialisasi kepada masyarakat dengan menggandeng BPOM. Mengantisipasi peredaran jamu palsu.

”Selama ini BPOM masih ada ibu kota. Agar sampai ke daerah, kami lakukan kerja sama ini. Harapannya masyarakat paham dan mampu membedakan jamu asli atau palsu,” ujarnya.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia