Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

Lokalisasi Sunan Kuning dan GBL Ditutup 2019, Seriuskah?

12 November 2018, 08: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Pelatihan keterampilan merajut untuk bekal para PSK Sunan Kuning saat kembali ke masyarakat.

Pelatihan keterampilan merajut untuk bekal para PSK Sunan Kuning saat kembali ke masyarakat. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEMKOT Semarang melalui Dinas Sosial berencana menutup Lokalisasi Argorejo atau Sunan Kuning (SK) Kalibanteng Kulon dan Gambilangu (GBL) Mangkang mulai awal 2019. Penutupan tersebut merupakan instruksi dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Lalu, sejauh mana keseriusan Pemkot Semarang menutup dua kawasan pemuas syahwat tersebut?

Kerlap-kerlip lampu tampak meriah dan suara musik masih nyaring terdengar ketika Jawa Pos Radar Semarang mendatangi lokalisasi Sunan Kuning, Minggu (11/11) malam. Hilir mudik pengunjung masih terlihat ramai di ratusan wisma karaoke yang ada di tempat tersebut seakan tidak terpengaruh oleh wacana penutupan lokalisasi terbesar di Kota Semarang ini.

 Winarti (nama samaran) mengaku, jika wisma karaoke yang dikelola masih diminati para pengunjung yang haus akan hiburan. Entah itu sekadar menghabiskan waktu untuk bernyanyi ditemani para pemandu karaoke ataupun yang lainnya.

“Aktivitasnya masih sama, walaupun santer isu penutupan SK pada tahun depan,” kata wanita penjaga wisma ini.

Sampai saat ini, belum ada kepastian kapan rencanya SK akan ditutup. Yang jelas dirinya berharap jika rencana tersebut hanya sebuah wacana, karena dikhawatirkan akan mematikan usaha dan menambah pengangguran di Semarang.

“Kalau bisa sih jangan ditutup dulu, malah akan menambah pengangguran,” ucapnya.

Salah seorang penghuni resos, sebut saja Mawar, mengaku belum siap jika dirinya harus keluar dari SK. Wanita yang hampir tiga tahun menjadi PSK ini mengatakan,  jika keterampilan yang diberikan saat pelatihan belum mencukupi.

“Belum lagi saya nggak punya modal. Memang pengin keluar dari sini, tapi kalau tahun depan saya rasa belum siap,” akunya.

PSK asal Kabupaten Temanggung ini mengaku, sengaja menjadi PSK agar bisa memiliki modal untuk membuka usaha dan menghidupi buah hatinya yang ada di desa yang saat ini masih duduk di bangku sekolah.

“Mau nabung dulu, rencananya mau bikin warung setelah modalnya cukup dan keluar dari sini,” tambah janda satu anak ini.

 Wakil Ketua Resos Argorejo, Slamet Suwandi, mengatakan, jika pihaknya tidak menghalangi jika Pemerintah Kota Semarang berencana menutup Sunan Kuning. Namun sekali lagi ia meminta agar pengkajian ulang jika memang akan dilakukan penutupan.

“Harus dipertimbangkan dan dikaji ulang,” katanya.

Menurut dia, jika Sunan Kuning ditutup, dikhawtirkan para PSK yang dulunya menjadi anak didik resos, malah akan kembali ke jalan, meski telah dilakukan berbagai pelatihan dan pembekalan kepada para PSK.

“Takutnya malah akan turun ke jalan, itu malah nggak bisa dikontrol dari sisi kesehatan dan lain sebagainya,” katanya.

Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, kepada Jawa Pos Radar Semarang mengatakan, penutupan lokalisasi merupakan program Kementerian Sosial sejak 2012. Setiap periodenya, program ini terus dijalankan oleh menteri yang menjabat.

“Ini kan sudah sejak eranya Menteri Bu Khofifah, Pak Idrus Marham, kemudian Pak Agus Gumiwang sekarang. Sehingga keberlanjutannya tentu saja pasti terus berjalan sesuai target Kemensos di 2019,” terangnya.

Pemkot Semarang melalui Dinas Sosial terus melakukan persiapan-persiapan penutupan lokalisasi Argorejo Sunan Kuning. Disinggung terkait kemungkinan menyebarnya para pekerja lokalisasi serta kemungkinan mereka melakukan praktik jual diri di jalanan, Hendi mengklaim pihaknya telah melakukan langkah antisipasi.

“Kami terus melakukan persiapan sematang mungkin dengan melakukan pelatihan keterampilan, dan pendataan serinci mungkin, agar tidak terjadi seperti yang dikhawatirkan,” tandasnya.

 Politisi PDI Perjuangan ini membeberkan, besaran anggaran untuk penutupan SK saat ini masih terus dalam penyusunan dengan menyesuaikan rincian data terkait berapa banyak pihak yang terdampak yang juga tengah dikerjakan oleh Dinsos.
Terkait dengan proses penutupan ini, Hendi menyebut hal ini tentunya butuh dukungan dari seluruh komponen masyarakat Kota Semarang.

“Saya rasa yang terpenting adalah prosesnya berjalan lancar dengan mendapat dukungan dari semua pihak,” katanya. (den/tsa/aro/JPG/fer) 

(rs/jpr/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia