Jumat, 19 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Telusur Pasar Tradisional Yang Belum Direhab

Kondisi Drainase Buruk, Jaringan Listrik Semrawut

12 November 2018, 17: 27: 09 WIB | editor : Perdana

pasar Harjodaksino

pasar Harjodaksino

Share this      

SOLO - Kejadian kebakaran sejumlah pasar tradisional, termasuk terakhir Pasar Legi Solo tentu menjadi bahan evaluasi pemkot. Betapa rawannya pasar dengan kondisi bangunan lawas dengan fasilitas ala kadarnya tetap digunakan untuk aktivitas berjualan. Meski tak dipungkiri upaya merevitaliasi pasar terus dilakukan, namun tentu belum semua terealisasi. Lantas seperti apa kondisi pasar-pasar yang belum dibangun baru ini. Berikut penelusuran koran ini.   

Fenomena kebakaran pasar tradisional selalu diawali karena adanya hubungan arus pendek. Kondisi jaringan listrik semrawut dengan sambungan kabel sembarangan tanpa mengindahkan kemananan kerap memicu awal terjadinya korsleting hingga menjadi momok menakutkan bagi pedagang pasar.

Koran ini kemarin berkunjung ke sejumlah pasar tradisional di Solo. Salah satunya Pasar Harjodaksino yang berlokasi di ujung selatan Kota Solo. Sekilas, di lihat dari luar bangunan pasar yang berada di Jalan Yos Sudarso itu tampak modern. Pasar seluas 8.997 meter persegi ini telah mengalami sejumlah perbaikan. Seperti penambahan kanopiuntuk pedagang oprokan pada 2016 lalu dan pembangunan sejumlah kios dan bangunan pada wajah pasar, termasuk pembangunan kantor dinas pasar setempat pada 2017 lalu. 

Namun begitu menapakkan kaki ke dalam bangunan pasar, suasana akrab dan aroma khas pasar rakyat terasa kental di dalamnya. “Pasar ini usianya sudah 30 tahun lebih. Tiga tahun setelah pasar ini dibangun saya langsung masuk pasar ini,” ujar pedagang ikan bandeng, Wati, 60.

Pasar yang dibangun pada 1987 ini merupakan gabungan dari sejumlah pasar di sekitarnya, seperti Pasar Gading, Pasar Gemblegan, Pasar Kembang, dan Pasar Danukusuman. Luasan pasar dulu juga tidak selapang sekarang. Kemudian pemkot membebaskan lahan di selatan pasar untuk menampung pertumbuhan pedagang yang semakin banyak. 

“Saya pindahan dari Pasar Dawung. Kalau tempatnya juga jauh lebih nyaman di sini karena tempatnya lebih besar dan pedagangnya pun jauh lebih banyak. Jadi pembeli juga banyak yang datang,” jelas Wati.

Disinggung soal kendala, dia mengaku persoalan saluran drainase tidak cukup dalam sehingga tidak mampu menampung air. “Kalau hujan, beberapa titik atap bocor. Talang air juga tidak pas pembuangannya. Dan kalau hujannya deras, air dari selokan pasti naik dan menggenang,” bebernya.

Selain masalah drainase, Wati juga mengeluhkan banyaknya kabel listrik yang semrawut. Tersambung dari satu kios ke kios lainnya. Koran ini pun kemudian menyisir sejumlah jalan yang ada di dalam pasar tersebut. Layaknya pasar tua lainnya, masalah perkabelan memang harus dapat perhatian para pengelola pasar untuk meminimalisasi dampak buruk, seperti kasus kebakaran. “Memang kabel listriknya sedikit tidak beraturan. Tapi untuk tingkat keamanannya saya pastikan aman,” timpal Lurah Pasar Harjodaksino, Listianto ditemui koran ini di pasar setempat.

Dijelaskan dia, sejak 2010 lalu, ada aturan baru terkait instalasi kelistrikan di dalam pasar. Pedagang tak boleh memasang kelistrikan sendiri tanpa didampingi petugas pasar. Tujuannya untuk memastikan jaringan listrik yang disambung benar-benar aman saat digunakan.

“Jaringan listrik merupakan salah satu penyakit yang dimiliki bangunan lama, termasuk pasar tradisional. Makanya sejak beberapa tahun lalu kami selalu awasi urusan pemasangan listrik seperti ini. Bahkan pasca Pasar Legi terbakar, kami langsung inspeksi kelistrikan di dalam pasar. Kabel-kabel serabut kami ganti dengan kabel yang lebih kuat menahan arus listrik mengingat hal itu rawan menimbulkan konsleting atau kebakaran,” kata Listianto.

Selain itu pihaknya juga mengecek alat pemadam kebakaran ringan (Apar). Di pasar tersebut ada 18 Apar yang kondisinya masih baik. Meski ada aturan Apar harus ditempatkan di lokasi strategis, pihaknya mengamankan seluruh Apar dikantor satpam setempat. Ini dilakukan mengingat bangunan pasar tersebut sangat terbuka karena memiliki sembilan akses masuk pasar.

“Patroli pasar ditingkatkan untuk masalah keamanan. Sebelum sore selalu diingatkan lewat radio pasar. Bahkan saat ada yang lalai akan langsung diamankan dan dihubungi secara langsung. Maghrib, tim keliling mengecek lampu kios-kios pedagang. Hanya beberapa lampu utama kami biarkan demi keamanan,” kata Listianto.

Disinggung soal kondisi pasar tua tersebut, pihaknya memastikan bahwa seluruh bangunan pasar butuh perbaikan. Karena itu upaya revitalisasi terus diwacanakan. Pengajuan pun telah diatur pada 2019 mendatang dan tinggal menunggu keputusan pemangku kebijakan.

“Revitalisasi pasar tradisional penting karena untuk menjaga eksistensi pasar di era modern seperti sekarang. Selain itu, sistem zonasi di sini juga semrawut. Ada baiknya jika diatur ulang agar lebih kondusif,” tutup Listianto.

Waswas Ancaman Sungai Meluap

Masalah serupa ternyata tak hanya dialami Pasar Harjodaksino, tetapi juga dikeluhkan sejumlah pedagang Pasar Jongke Solo. Bedanya, jika di Harjodaksino lebih ke persoalan kelistrikan, di Jongke permasalahan lebih pada volume air yang terlampau tinggi. Alhasil, pasar yang dibangun sejak 1992 silam itu juga cukup memprihatinkan karena jadi langganan banjir saat tinggi muka air Kali Jenes di belakang pasar naik ke permukaan. 

“Kalau masalah di sini biasanya banjir. Kalau air sungainya naik pasti pasar bawah terendam,” jelas pedagang kremikan dan gerabah Pasar Jongke, Wasiem, 60.

Pasar yang dibangun 1992 ini merupakan pasar yang cukup unik. Pasar dibagi dalam dua area yang tak sama ketinggiannya. Secara kontur kewilayahan, tinggi permukaan tanah pasar bagian atas berbeda jauh dengan pasar bagian bawah, maka tak heran jika saat air sungai meluap, pedagang di pasar bawah yang paling sengsara. 

 “Belakang pasar itukan langsung Kali Jenes. Jadi kalau luber airnya masuk pasar karena airnya lebih tinggi daripada bangunan pasar,” jelas Wasiem yang sudah 20 tahun lebih berdagang di Pasar Jongke itu.

Permasalahan semacam ini hampir dirasakan tiap tahun. Selama belum ada pembenahan, pedagang pasar akan selalu beradu cepat dengan luapan air sungai. Jika beruntung, barang dagangan bisa diselamatkan dari serbuan air sungai yang meluap itu. “Pokoknya sekarang kalau hujan lebat barang-barang semua dipindah ke tempat lebih tinggi,” ucap Wasiem.

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang bakso, Laginem, 58. Kios bakso miliknya tepat berada di sebuah tembok yang berbatasan langsung dengan Kali Jenes. Ia pun tak bisa memilih lantaran sejak awal pasar seluas 12.200 meter persegi itu didirikan dirinya sudah ditempatkan di lokasi tersebut. “Sekitar 26 tahun lalu saya mulai berdagang di sini. Jadi soal banjir sudah hafal,” gurau dia sambil mengupas segenggam bawang putih ditangannya.

Mengenai masalah  banjir ini, Lurah Pasar Jongke Sudarsono mengaku sudah mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Beberapa tahun ini ada sejumlah perbaikan drainase. Fungsinya agar air bisa lebih mudah dialirkan dan tidak ada satu pun saluran mampet yang membuat genangan sulit surut. 

“Masalah ini sudah kami petakan termasuk sejumlah atap yang dilaporklan bocor. Maklum, memang pasar tua jadi butuh ekstra perhatian,” beber Sudarsono.

Berbeda dengan pasar-pasar tua tradisional lainnya, Pasar Joglo tak memiliki gerbang masuk layaknya pasar-pasar tradisional lainnya. Atap sederhana dari bahan seng pun terasa kian menyengat saat matahari berada tepat di atas kita. 

Pedagang asli Kadipiro, Marjuki, 53 menambahkan, sebagaian pedagang Pasar Joglo menjadi andalan pembeli karena harga cenderung lebih murah dibandingkan dengan pasar lain. Sebab bahan makanan, sayuran, hingga bumbu dapur, di pasar ini dapat dibeli harga grosir. Sayangnya, zonasi pasar cenderung semrawut tidak beraturan. Semuanya tumplek blek, campur aduk menjadi satu dalam satu lokasi. 

Sebagian di dalam pasar, agak menjorok dari sisi Jalan Provinsi Solo- Purwodadi. Sementara yang lainnya  memilih berjualan di ruas- ruas pinggir jalan. “Pada mulanya, pasar joglo merupakan titik berkumpulnya sesama pedagang yang numpang lewat, hingga akhirnya terbentuklah pasar dengan kesepakatan,” jelas Marjuki.

Hal itu dibenarkan Ketua paguyuban setempat, Agus Widyanto. Menurut dia, banyaknya permasalahan di pasar belum mampu diselesaikan sepenuhnya oleh pemerintah. Sebab hingga saat ini penanganan yang dilakukan sebatas tambal sulam pada bagian yang dianggap butuh perbaikan. Selain itu, fasilitas lain seperti musala dan koperasi pasar juga belum ada kendati pasar sudah berumur tua. “Bantuan- bantuan dari pemkot jarang ada. Belum pernah ada renovasi juga. Kalau mau perbaikan ya, perbaiki sendiri-sendiri,” beber Agus.

Masalah lain terkait keamanan pasar. Kerangka pasar yang terbuka dan terbaur dengan kompleks kelurahan setempat, membuat pasar gampang diakses dari mana saja. Karena itu diterapkan ronda antarpedagang untuk saling mengawasi.

Lurah Pasar Joglo Suwardi mengaku, pernah ada usaha membangun pagar dan gerbang khusus pasar oleh lurah pasar sebelumnya. Namun kemudian urung, karena keamanan pasar sudah menjadi tanggung jawab kelurahan setempat. 

“Setahu saya, keamanan pasar ikut kelurahan. Karena memang Pasar Joglo sudah menjadi bagian kelurahan. Untuk keamanan yang menyeluruh, tentu menjadi tanggung jawab kita bersama,” imbuh  Suwardi. (mg9/mg18/mg19/mg20/ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia