Rabu, 17 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Telusur Pasar Tradisional Yang Belum Direhab

Waswas Ancaman Sungai Meluap

12 November 2018, 18: 33: 42 WIB | editor : Perdana

pasar jongke

pasar jongke

Share this      

SOLO - Masalah serupa ternyata tak hanya dialami Pasar Harjodaksino, tetapi juga dikeluhkan sejumlah pedagang Pasar Jongke Solo. Bedanya, jika di Harjodaksino lebih ke persoalan kelistrikan, di Jongke permasalahan lebih pada volume air yang terlampau tinggi. Alhasil, pasar yang dibangun sejak 1992 silam itu juga cukup memprihatinkan karena jadi langganan banjir saat tinggi muka air Kali Jenes di belakang pasar naik ke permukaan. 

“Kalau masalah di sini biasanya banjir. Kalau air sungainya naik pasti pasar bawah terendam,” jelas pedagang kremikan dan gerabah Pasar Jongke, Wasiem, 60.

Pasar yang dibangun 1992 ini merupakan pasar yang cukup unik. Pasar dibagi dalam dua area yang tak sama ketinggiannya. Secara kontur kewilayahan, tinggi permukaan tanah pasar bagian atas berbeda jauh dengan pasar bagian bawah, maka tak heran jika saat air sungai meluap, pedagang di pasar bawah yang paling sengsara. 

 “Belakang pasar itukan langsung Kali Jenes. Jadi kalau luber airnya masuk pasar karena airnya lebih tinggi daripada bangunan pasar,” jelas Wasiem yang sudah 20 tahun lebih berdagang di Pasar Jongke itu.

Permasalahan semacam ini hampir dirasakan tiap tahun. Selama belum ada pembenahan, pedagang pasar akan selalu beradu cepat dengan luapan air sungai. Jika beruntung, barang dagangan bisa diselamatkan dari serbuan air sungai yang meluap itu. “Pokoknya sekarang kalau hujan lebat barang-barang semua dipindah ke tempat lebih tinggi,” ucap Wasiem.

Hal serupa diungkapkan oleh pedagang bakso, Laginem, 58. Kios bakso miliknya tepat berada di sebuah tembok yang berbatasan langsung dengan Kali Jenes. Ia pun tak bisa memilih lantaran sejak awal pasar seluas 12.200 meter persegi itu didirikan dirinya sudah ditempatkan di lokasi tersebut. “Sekitar 26 tahun lalu saya mulai berdagang di sini. Jadi soal banjir sudah hafal,” gurau dia sambil mengupas segenggam bawang putih ditangannya.

Mengenai masalah  banjir ini, Lurah Pasar Jongke Sudarsono mengaku sudah mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Beberapa tahun ini ada sejumlah perbaikan drainase. Fungsinya agar air bisa lebih mudah dialirkan dan tidak ada satu pun saluran mampet yang membuat genangan sulit surut. 

“Masalah ini sudah kami petakan termasuk sejumlah atap yang dilaporklan bocor. Maklum, memang pasar tua jadi butuh ekstra perhatian,” beber Sudarsono.

Berbeda dengan pasar-pasar tua tradisional lainnya, Pasar Joglo tak memiliki gerbang masuk layaknya pasar-pasar tradisional lainnya. Atap sederhana dari bahan seng pun terasa kian menyengat saat matahari berada tepat di atas kita. 

Pedagang asli Kadipiro, Marjuki, 53 menambahkan, sebagaian pedagang Pasar Joglo menjadi andalan pembeli karena harga cenderung lebih murah dibandingkan dengan pasar lain. Sebab bahan makanan, sayuran, hingga bumbu dapur, di pasar ini dapat dibeli harga grosir. Sayangnya, zonasi pasar cenderung semrawut tidak beraturan. Semuanya tumplek blek, campur aduk menjadi satu dalam satu lokasi. 

Sebagian di dalam pasar, agak menjorok dari sisi Jalan Provinsi Solo- Purwodadi. Sementara yang lainnya  memilih berjualan di ruas- ruas pinggir jalan. “Pada mulanya, pasar joglo merupakan titik berkumpulnya sesama pedagang yang numpang lewat, hingga akhirnya terbentuklah pasar dengan kesepakatan,” jelas Marjuki.

Hal itu dibenarkan Ketua paguyuban setempat, Agus Widyanto. Menurut dia, banyaknya permasalahan di pasar belum mampu diselesaikan sepenuhnya oleh pemerintah. Sebab hingga saat ini penanganan yang dilakukan sebatas tambal sulam pada bagian yang dianggap butuh perbaikan. Selain itu, fasilitas lain seperti musala dan koperasi pasar juga belum ada kendati pasar sudah berumur tua. “Bantuan- bantuan dari pemkot jarang ada. Belum pernah ada renovasi juga. Kalau mau perbaikan ya, perbaiki sendiri-sendiri,” beber Agus.

Masalah lain terkait keamanan pasar. Kerangka pasar yang terbuka dan terbaur dengan kompleks kelurahan setempat, membuat pasar gampang diakses dari mana saja. Karena itu diterapkan ronda antarpedagang untuk saling mengawasi.

Lurah Pasar Joglo Suwardi mengaku, pernah ada usaha membangun pagar dan gerbang khusus pasar oleh lurah pasar sebelumnya. Namun kemudian urung, karena keamanan pasar sudah menjadi tanggung jawab kelurahan setempat. 

“Setahu saya, keamanan pasar ikut kelurahan. Karena memang Pasar Joglo sudah menjadi bagian kelurahan. Untuk keamanan yang menyeluruh, tentu menjadi tanggung jawab kita bersama,” imbuh  Suwardi. (mg9/mg18/mg19/mg20/ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia