Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

150 Pangkalan Elpiji Ditutup Paksa

14 November 2018, 10: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Distribusi gas melon ke masyarakat tidak mampu.

Distribusi gas melon ke masyarakat tidak mampu. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO – Tindakan tegas dilakukan Pertamina kepada pangkalan elpiji nakal. Medio Januari-November 2018 ini, sudah ada 150 pangkalan elpiji di Eks Karesidenan Surakarta ditutup paksa. Mereka dinilai telah melanggar aturan mengenai distribusi elpiji bersubsidi 3 kilogram alias gas melon.

Sales Eksekutif LPG Rayon V PT Pertamina Adeka Sangtraga membenarkan ada 150 pangkalan di eks Karesidenan Surakarta yang ditutup oleh Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV (Jateng-DIJ). Mayoritas melakukan pelanggaran dalam hal penyaluran gas melon yang tidak tepat sasaran. Terbukti menyalurkan gas melon ke rumah makan atau usaha kecil menengah (UKM) yang bertaraf menengah ke atas.

”Memang tidak semua ditutup karena penyaluran tak tepat sasaran. Ada yang sebagian karena tidak tertib administrasi. Namun kebanyakan karena salah penyaluran. Kebanyakan disalurkan ke rumah makan,” terang Adeka kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (13/11).

Penutupan paksa 150 pangkalan tersebut sudah melewati sejumlah tahapan. Diawali memberi peringatan melalui agen yang menaungi. Jika tidak diindahkan, dilakukan pengurangan jatah tabung. Hingga upaya terakhir penutupan pangkalan.

”Penindakan yang kami lakukan berdasarkan temuan di lapangan. Seperti Solo dan Boyolali. Banyak rumah makan yang banyak menggunakan elpiji bersubsidi 3 kg,” tandas Adeka.

Selanjutnya dilacak. Dari mana gas melon dipasok. Jika merujuknya pengecer, di mana pangkalannya? Kemudian agen ditegur untuk memberikan peringatan ke pangkalan.

Sedangkan untuk pengawasan dan pencegahan secara langsung, Pertamina mengakui ada kesulitan. Sebab sistem saat ini distribusi terbuka.

”Sehingga kami perlu menggandeng stakeholder yang ada di masing-masing wilayah. Sebagai bentuk edukasi dan memberikan kesadaran,” urai Adeka.

Unit Manager Communication and CSR Marketing Operation Region IV Pertamina (Persero), Andar Titi Lestari menambahkan, pihaknya tidak segan menindak tegas pangkalan atau agen yang melakukan pelanggaran. Khususnya penyaluran gas melon. Bahkan saat ini sedang memonitor sejumlah pangkalan terkait temuan terbaru penyalahgunaan gas melon di Boyolali.

Ditemukan 219 lokasi usaha rumah makan dan industri pengolahan makanan yang tidak masuk dalam kriteria pengguna gas melon. Dari 219 lokasi ini, tim gabungan Pertamina dan Polres Boyolali menemukan 1.060 tabung gas melon.

”Jika digabungkan dan diestimasi berdasarkan temuan, per bulannya bisa menghabiskan 23.000 tabung elpiji ukuran 3 kilogram atau setara 70 metrik ton. Tidak heran jika imbasnya elpiji bersubsidi langka di pasaran,” tegasnya

Dari temuan ini, Pertamina bakal mengintensifkan monitoring distribusi gasmelon. Selain itu juga terus memberikan imbauan kepada masyarakat dan pengusaha.

”Pertamina saat ini memiliki elpiji non subsidi, yaitu bright gas ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram. Serta elpiji 50 kilogram yang diperuntukkan bagi warga mampu. Karena elpiji 3 kilogram hanya untuk warga miskin dan usaha mikro,” tandas Andar. (vit/fer/bun)

(rs/vit/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia