Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Jateng

1.240 Warga Kendal Alami Gangguan Jiwa

16 November 2018, 12: 00: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

1.240 Warga Kendal Alami Gangguan Jiwa

KENDAL - Morbiditas atau tingkat yang sakit dan yang sehat dalam suatu populasi akan gangguan jiwa di Kendal cukup tinggi. Dari data Dinas Kesehatan Kendal, tercatat ada 1.240 jiwa menderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).  Dari jumlah tersebut, 29 penderita ODGJ dipasung oleh keluarganya.

Gangguan jiwa yang dimaksud tidak psikosis atau gila sepenuhnya. Tapi berbagai tingkatan seperti gangguan kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan ketidakmampuan mengontrol keinginan, sindrom respons stres, gangguan disosiatif dan gangguan seksual dan gender. 

“Jadi, gangguan kejiwaan ini dari tingkatan ringan sampai berat,” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Kendal, Muntoha kepada Jawa Pos Radar Semarang di Pendopo Kabupaten Kendal, Kamis (15/11). 

Dikatakan, 29 ODGJ yang dipasung lantaran dianggap membahayakan dan mengganggu masyarakat sekitarnya. Selain itu, penyebab lain dipasung adalah lantaran keluarga merasa malu.

“Jadi, oleh keluarga tidak ingin orang lain tahu, sehingga dipasung agar tidak mengganggu,” jelasnya.

Dari 29 orang gila yang dipasung tersebut, 13 di antaranya sudah berhasil dirujuk ke RSJ Amino Gondohutomo, Pedurungan, Kota Semarang. Sedangkan 16 lainnya belum karena keluarga belum merelakan untuk dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).

Diakuinya, pemasungan orang gila secara terapi penyembuhan tidak diperbolehkan. Karena pemasungan justru tidak membuat sembuh, melainkan  penyakit jiwa yang dialami semakin parah.

“Sehingga begitu dilepas, mereka mengamuk atau mengganggu orang,” paparnya. 

Dikatakannya, pihak Dinkes sudah berusaha untuk membujuk keluarga penderita ODGJ untuk memperlakukan penderita ODGJ secara manusiawi. Selain itu, menyarankan agar keluarga untuk memasukkan penderita ke RSJ.

“Tapi keluarga tidak mau, karena alasan  malu. Sebab, kebanyakan dari keluarga penderita adalah kalangan menengah ke bawah dan pendidikan dan ekonominya,” katanya.

Muntoha mengatakan,  ODGJ bukan penyakit menular. Akan tetapi hal itu merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu diantisipasi. Sebab, trennya dari tahun ke tahun mengalami kenaikan.

“Jika jumlahnya semakin meningkat, maka menjadi beban ganda dalam pelayanan kesehatan,” ujarnya. 

Dokter Spesialis Kejiawaan, Ria Maria Theresa, mengatakan, jika salah satu faktor ODGJ adalah penyakit dimensia atau pikun. Hal ini, menurutnya, bisa dicegah dengan melakukan senam poco-poco setiap hari sejak muda. 

Berdasarkan penelitian disertasinya, senam poco-poco dapat memacu kerja otak. Sebab, jika otak itu terus bekerja, maka akan mengurangi terjadinya kepikunan. Sebaliknya, jika otak tidak digunakan, maka akan mudah pikun.

“Senam poco-poco juga merupakan olahraga rekreasi, sehingga dilakukan dengan senang yang bisa menimbulkan rasa bahagia,” katanya.

Wahyu Retnoningsih dari Dinkes Provinsi Jateng mengatakan, manusia itu tidak cukup sehat jiwa dan raga. Namun harus memberikan kontribusi untuk masyarakat. Misalnya, dengan bergaul yang baik, seperti memberikan sapa dan senyum dengan tetangga. 

Dikatakan, pikun bisa terjadi jika tubuh dan otak tidak melakukan aktivitas apa-apa. Oleh karena itu, sejak dini atau sejak remaja harus melakukan aktivitas positif, seperti olahraga dan bekerja.

"Mencegah pikun juga bisa dengan meneruskan hobi dan makan yang sehat," ujarnya. (bud/aro/JPG/fer)

(rs/jpr/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia