Senin, 18 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Istri Korban Maafkan Iwan, Terdakwa Tabrak Lari

16 November 2018, 21: 02: 21 WIB | editor : Perdana

USAI SIDANG: Terdakwa tabrak maut Iwan Adranacus di PN Surakarta kemarin (15/11).

USAI SIDANG: Terdakwa tabrak maut Iwan Adranacus di PN Surakarta kemarin (15/11). (A.CHRISTIAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Terdakwa sidang tabrak maut Iwan Adranacus kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri (PN) Surakarta, Kamis (15/11). Sidang dengan agenda mendengarkan keterangan saksi jaksa penuntut umum (JPU) tersebut menghadirkan Aiptu Sutardi yang juga mertua korban Eko Prasetyo.

Dalam kesaksiannya di hadapan majelis hakim yang diketuai Krosbin Lumbangaul serta hakim anggota Sri Widiastuti dan Endang Makmun, Sutardi menuturkan, pihaknya sudah mengikhlaskan kejadian nahs yang menewaskan menantunya. Keluarga besar memaafkan perbuatan terdakwa.

“Saya di sini mewakili ahli waris dalam hal ini istri korban, Dahlia Antari Wulaningrum. Kami memaafkan atas dasar kemanusiaan. Apalagi seperti yang diajarkan Islam, jika kita memafkan orang yang menzalimi kita adalah perbuatan mulia. Dan ini (dilakukan, Red) dengan tulus ikhlas,” urai dia.

Pemberian maaf itu dituangkan lewat surat yang ditulis tangan oleh Dahlia. Terdapat empat poin penting dalam surat tersebut. Pertama sebagai istri, Dahlia dengah ikhlas memaafkan terdakwa Iwan yang menyebabkan nyawa suaminya melayang. Hal tersebut dinilai sebagai suratan takdir dari Yang Maha Kuasa.

Tertulis pula bahwa terdakwa memberikan bantuan yang layak kepada putra Dahlia dan Eko, Ahnaf Malik Al Fahrezi Prasetyo untuk biaya hidup, kesehatan, dan pendidikan. Kemudian Dahlia juga tidak menuntut apapun di kemudian hari.

Surat Dahlia tersebut kemudian diberikan kepada majelis hakim dengan disaksikan kuasa hukum terdakwa dan JPU. “Terkait kasus hukum yang saat ini sedang berjalan, putri saya (Dahlia, Red) menyerahkan kepada penegak hukum untuk memprosesnya sesuai dengan ketentuan dan hukum yang berlaku,” beber Sutardi.

Mengetahui isi surat Dahlia, ketua majelis hakim mengatakan, hal tersebut merupakan surat peryataan, bukan surat perdamaian sehingga tidak menggugurkan kasus. “Yang harus dicermati dalam hal ini antara pernyataan dan perdamaian itu berbeda. Dan tidak serta merta menggugurkan kasus ini,” tegasnya.

Sedangkan JPU Satriawan Sulaksono menanyakan bentuk pemberian maaf yang diberikan pihak keluarga korban. Apakah terkait dengan perbuatan terdakwa yang telah menghilangkan nyawa Eko Prasetyo? Atau apakah terdakwa telah mengakui perbuatannya menghilangkan nyawa korban?

“Kami ingin penegasan, apakah terdakwa ini telah mengakui kesalahannya karena menghilangkan nyawa seseorang atau seperti apa?,” Tanya JPU.

Menjawab pertanyaan JPU, Sutardi mengatakan, pemberian maaf tersebut bersifat global. Sedangkan penafsirannya diserahkan kepada para pihak yang terkait dalam persidangan terebut.

Sementara itu, karena tidak ada lagi pertanyaan kepada saksi, Krosbin menutup sidang dan dilanjutkan Rabu (21/11). Namun, sebelum mengetuk palu, Krosbin mempertanyakan terkait surat gugatan perdata yang sebelumnya dilayangkan kepada majelis hakim oleh keluarga korban.

“Perlu saya tegaskan, dalam kasus tuntutan perdata itu yang dituntut adalah kerugian akibat kejadian ini. Dalam arti misal biaya perbaikan motor yang dirusak, pemakaman, dan biaya rumah sakit. Tidak boleh diperlebar mejadi tanggungan hidup, pendidikan, dan lainnya dan yang mengajukan haruslah ahli waris, dalam hal ini istri atau anak. Di undang-undangnya seperti itu,” paparnya

Ditambahkan Krosbin, surat gugatan perdata harus dilengkapi dengan bukti fisik berupa kuitansi pembayaran yang sudah dikeluarkan pihak keluarga korban terkait kejadian tersebut. “Nanti diserahkan pada saat persidangan gugatan perdata pada tanggal 27 November. Sehingga (persyaratan, Red) segera dilengkapi,” pinta ketua majelis hakim.

Usai sidang, kuasa hukum Iwan Adranacus, Joko Haryadi menyambut baik surat pemberian maaf dari Dahlia. Sebab, memang tidak mudah ada korban yang memaafkan terdakwa.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kami menganggap, peristiwa ini sebagai musibah. Tidak ada yang menginginkan peristiwa ini terjadi. Di sisi lain, klien kami juga telah beritikad baik dengan memberikan jaminan kepada pihak keluarga korban,” katanya. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia