Kamis, 13 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Lifestyle

Pasien ODHA Masih Berkesempatan Miliki Anak Sehat

17 November 2018, 20: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Pasien ODHA Masih Berkesempatan Miliki Anak Sehat

Radarsolo.co.id - Positif dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) bukan berarti berakhir hidupnya. Meski belum ada obat yang mampu menyembuhkan, pengidap HIV boleh kok hidup normal layaknya orang sehat. Menikah dan punya keturunan tanpa harus menularkan penyakitnya pada keluarganya juga bisa. 

Salah satu dokter kandungan di rumah sakit Kota Solo, dokter Antonius Darmawan menyebutkan bagi pasangan yang positif HIV maupun pasangan yang salah satunya didiagnosa positif HIV bukanlah hal yang mustahil untuk memiliki anak yang sehat. Tentu dengan menjalani hidup sehat dan rutin minum obat anti-retroviral virus (ARV). Sehingga besar peluang  bayi untuk lahir sehat tidak tertular.

“Memang penangannya akan berbeda dengan ibu hamil pada umumnya atau yang HIV Negatif. Ada beberapa proses pengobatan yang harus dijalani juga  sebelum mengandung. ARV itu adalah salah satunya. Jangan langsung berhubungan seks tanpa kondom. Pasangan harus dicek dulu berapa jumlah kekebalan tubuhnya, virusnya. Ada banyak pengecekan, ” jelas dokter Antonius kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (17/11). 

Ketika merencanakan kehamilan, ODHA harus berkonsultasi dengan dokter, baik dokter dalam dan dokter kandungan. Dokter akan melakukan tes Cluster Differentiation 4 (CD4) untuk mengontrol jumlah sel darah putih. ODHA dinyatakan sehat bila CD4 lebih dari 350. Selain itu, kondisi ibu juga harus baik, seperti berat badan normal dan tidak ada infeksi penyerta seperti penyakit menular seksual, hepatitis dan infeksi lainnya.

Ketika semua kondisi baik, pada saat masa subur ODHA dapat berhubungan badan tanpa menggunakan kondom. Jika salah satu pasangan dinyatakan HIV Negatif, resiko penularannyn bisa saja terjadi, meski kemungkinan cukup kecil. Karena sperma atau cairan vagina sudah mengandung virus tersebut. Untuk lebih amannya memang menyuntikkan sperma ke ovarium atau menggunakan sistem bayi tabung. 

“Ketika yang ODHA adalah si ibu, maka harus menjalani program khusus untguk mencegah bayinya tertular HIV AIDS. Karena si jabang bayi hidup dan berkembang di rahim. Program tersebut dinamakan PMTCT (Preventing Mother to Child Transmission). Ketika berhasil terjadi pembuahan, maka selama kehamilan ia tetap harus minum ARV untuk mengurangi risiko bayi yang dikandung tertular HIV,” terangnya. 

Ketika usia kehamilan sudah masuk bulan ke-9, ODHA wanita diminta lagi melakukan pemeriksaan CD4. Jika kondisinya baik dan kekebalan tubuh tinggi, maka si ibu akan diberikan dua pilihan persalinan, bisa secara normal (vaginal) atau caesar. Namun jika kondisinya sedang lemah, maka satu-satunya cara adalah persalinan caesar.

Persalinan pada wanita ODHA jelas berbeda dengan wanita sehat lainnya. Proses caesar misalnya, ODHA harus menggunakan peralatan operasi sendiri, mulai dari tempat tidur hingga pisau bedah, yang nantinya tidak boleh digunakan lagi. Ini dilakukan untuk mencegah penularan virus yang terdapat pada darah pasien.

“Namun, kalau saran saya adalah menggunakan caesar. Agar bayi juga jauh dari resiko tertular. Dan ibu tidak boleh menyusui, sehingga mau tidak mau diberi susu formula agar HIV dari tubuh ibu tidak masuk ke bayi,” pungkasnya. 

Meski didiagnosa HIV/AIDS seumur hidup, ODHA tetap memiliki hak sebagai manusia untuk berkeluarga dan memiliki keturunan tanpa harus menularkan penyakitnya kepada orang lain. (gis)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia