Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Olahraga

Atlet NPC Pindah Cabor Itu Sudah Biasa

18 November 2018, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

FOKUS: Atlet Panahan NPC saat mengikuti kejuaraan Pekan Paralimpik Provinsi di Solo.

FOKUS: Atlet Panahan NPC saat mengikuti kejuaraan Pekan Paralimpik Provinsi di Solo. (NIKKO AUGLANDY/RADAR SOLO)

SOLO – National Paralympic Committee (NPC) Indonesia terus mengembangkan potensi atlet binaanya. Kesuksesan Indonesia menjadi juara umum Asean Para Games 2017 di Malaysia dan peringkat kelima di Asian Para Games 2018 di Jakarta, menjadi obat penyemangat atlet di daerah untuk mengembangkan dirinya.

Terlebih pemerintah ternyata kini sudah menyamaratakan bonus atlet hingga pemberikan sarana pendukung persiapan timnas. Hal ini membuat NPC juga semakin bersemangat untuk mengembangkan para atletnya.

”Banyak perkembangan besar terjadi, dan ini jadi sebuah angin segar bagi para atlet. Tak ada lagi perbedaan, dan para atlet semakin fokus untuk mengejar prestasi,” ucap Wakil Ketua NPC Jateng, Suwarno kepada Jawa Pos Radar Solo.

Mantan atlet tenis meja ini juga mengakui bahwa banyak atlet yang saat ini terus mengembangkan skillnya. Jika dirasa dirinya kalah bersaing, banyak peluang untuk pindah cabor yang sesuai dengan skillnya.

”Atlet tenis meja bisa berlatih di cabor tenis lapangan, khususnya yang wheelchair. Di cabor lain juga bisa, tapi tak banyak. Seperti atletik yang beberapa atletnya bisa terjun di cabor lainnya seperti sepeda hingga football 7 A-side,” terangnya.

Atlet tenpin bowling Rohayati dulunya ternyata adalah atlet voli duduk. Cabor ini tak digelar di sebuah event internasional 2015 silam, membuatnya akhirnya memutuskan untuk pindah cabor.

”Ini juga jadi masukan dari NPC, baiknya apa untuk mengembangkan diri saya. ternyata saya memilih cabor yang tepat, yakni bowling yang kini saya dalami. Dari sisi permainan jelas beda, karena bowling benar-benar konsentrasi saya yang jadi pegangan, kalau voli-kan permainan tim,” terangnya.

Manajer Timnas Balap Sepeda NPC, Fadillah Umar juga mengakui bahwa ada beberapa atlet NPC yang dirasa punya kesempatan untuk mengembangkan skillnya di cabor lain. Itupun dengan catatan cabor tersebut sesuai dengan spesifikasi dirinya, dan skillnya mampu untuk mengembangkan diri di cabor tersebut.

”Atlet NPC memang lebih leluasa ketimbang yang normal. Ketatnya persaingan memang banyak membuat atlet akhirnya pindah cabor, demi bisa menggapaitarget yang dibebani negara di cabor tersebut. Di balap sepeda juga ada beberapa atlet yang dulunya adalah atlet atletik. Andalan kita M Fadil dulunya pembalap motor, yang setelah diamputasi ternyata dirinya memutuskan untuk mengembangkan diri di balap sepeda, yang sama-sama beradu balap,” terang Umar. (nik)

(rs/NIK/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia