Minggu, 16 Dec 2018
radarsolo
icon featured
Klaten

Tingkatkan Grade Sekolah Siaga Bencana lewat Jambore

19 November 2018, 10: 30: 59 WIB | editor : Fery Ardy Susanto

Sejumlah siswa dari 31 SMP di Klaten sedang mendirikan tenda dalam Apel Jambore Sekolah Siaga Bencana di Taman Wisata Candi Sojiwan, Minggu (18/11).

Sejumlah siswa dari 31 SMP di Klaten sedang mendirikan tenda dalam Apel Jambore Sekolah Siaga Bencana di Taman Wisata Candi Sojiwan, Minggu (18/11). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

KLATEN - Menduduki peringkat ke-4 se-Jawa Tengah sebagai daerah rawan bencana, Kabupaten Klaten perlu meningkatkan kesiapsiagaannya. Salah satu terobosan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten dengan menyelenggarakan jambore Sekolah Siaga Bencana. Melibatkan 31 SMP dengan 465 pelajar di kawasan taman wisata Candi Sojiwan, Desa Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, 16-18 November 2018.

Sekolah Siaga Bencana sudah dirintis sejak 2015. Dalam rangka memberikan pemahaman pembelajaran kebencaan. Berperan vital agar siswa dan guru dapat meningkatkan kedasaran akan bencana. Mampu mengantisipasi apabila ada bencana di lingkungan sekolah.

Melalui jambore Sekolah Siaga Bencana ini, BPBD memberikan pehamanan kepada para siswa mengenai mitigasi bencana. Sekaligus menanamkan sadar bencana. Karena bencana bisa terjadi sewaktu-waktu. Mulai dari gempa bumi, kebakaran, banjir, hingga ancaman erupsi Gunung Merapi.

”Jambore ini sebagai wahana mempererat persahabatan antarsekolah. Termasuk menumbuhkan kreativitas dalam mitigasi bencana berbasis sekolah. Diharapkan tercipta kesiapsiagaan dalam menghadapai bencana, khususnya para siswa dan guru di sekolah,” jelas Kepala BPBD Klaten, Bambang Giyanto kepada Jawa Pos Radar Solo, Minggu (18/11).

Di Klaten, sudah ada 86 Sekolah Siaga Bencana. Terdiri dari 40 SMA/SMK, 31 SMP, dan 15 SD. Sedangkan pada jambore kali ini, hanya melibatkan 31 SMP saja. Diberikan pendalaman materi mengenai mitigasi bencana. Serta berbagai perlombaan yang berkaitan dengan pengurangan risiko kebencanaan.

BPBD Klaten memang terus menanamkan kesiapsiagaan kebencanaan sejak dini. Setelah memiliki Taman Eling Waspada dan Siaga (EWS). Sebagai media pembelajaran mengenai kebencanaan dalam sejumlah wahana. Secara reguler telah dijadwalkan kepada anak-anak PAUD dan TK.

”Sedangkan untuk jambore Sekolah Siaga Bencana ini sudah yang ketiga kalinya. Tetapi kali ini secara khusus untuk jenjang anak-anak SMP. Setiap sekolah diwakilkan 15 siswa. Harapannya mereka bisa menularkan pembelajaran kebencanaan kepada siswa lainnya,” tandas Bambang.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Klaten, Nur Tjahjono Suharto menambahkan, akan ada monitoring ke setiap sekolah. Terutama melihat sejauh mana kesiapsiagaan para siswa dan gurunya dalam menghadapai ancaman bencana.

”Setiap tahun kami dianggarkan Rp 50 juta untuk Sekolah Siaga Bencana. Tetapi selama ini sifatnya hanya untuk pembinaan dan sosialisasi. Kami belum bisa mendukung penuh untuk sarana dan prasarannya,” bebernya.

Meski anggaran terbatas, tetapi BPBD mengapresiasi sejumlah sekolah yang mengembangkan pembelajaran kebencanaan secara mandiri. Bahkan ada sekolah yang memiliki ekstrakulikuler mitigasi bencana. Seperti SMPN 1 Klaten dan SMPN 3 Manisrenggo. Alhasil siswa dan guru paham SOP yang akan dijalankan saat terjadi bencana.

(rs/ren/fer/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia